Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Ke kelab


__ADS_3

Naya tercekat, begitu kentara ketakutan di wajah. Anehnya Mike yang melihat itu malah tergelak dan tanpa malu menepuk paha—kode agar Naya duduk di pangkuan.


"Sini, duduk sini," ucap Mike.


Hening, Naya bergeming. Mike yang tidak sabar sampai mengetatkan rahang. "Kamu mau saya menghancurkannya bagaimana? Apa harus memenggal karirnya dulu, lalu tangan, kaki atau mungkin kamu mau langsung kepala?"


Cepat-cepat Naya duduk di pangkuan Mike. Dia tidak ingin membuat Mike kembali murka. Entah apa yang bisa dilakukan orang itu jika marah.


"Nah begitu, dong," ucap Mike tanpa beban. Tanpa rasa bersalah sedikit pun dia mengalungkan tangan Naya ke lehernya.


"Dan satu lagi, apa tadi kamu bilang? Kakak? kakak Ken? Manis sekali ya panggilan kalian," sindir Mike yang entah kenapa seperti kecemburuan di telinga Naya.


Namun, Naya terdiam, dia tidak ingin menyimpulkan apa pun sekarang. Di matanya Mike hanyalah predator. Di mata Mike pun pastilah dirinya ini hanya makanan gurih yang bisa mengenyangkan setiap saat jika lapar.


Hening lagi, Naya dapat melihat aura suram seperti kembali menyelimuti Mike. Gegas dia menggeleng sembari berkata, "Saya gak bakalan ketemu dia lagi, Tuan. Sumpah.''


Anehnya kini Mike yang menggeleng sembari menggerakkan telunjuk ke kiri dan kanan. "Bukan itu poin terpentingnya Naya. Saya ingin panggilanmu pada saya juga berubah kali ini."


Naya terbengong.


"Bagaimana kalau kita mencoba dekat dan akur, kamu mau, 'kan?" ucap Mike yang entah kenapa membuat Naya serasa akan ditembak mati. Dia bahkan sempat menahan napas beberapa detik. Mendadak firasat jadi tidak enak.


"M-maksud, T-tuan apa? Saya gak paham," ucap Naya terbata-bata.


Anehnya Mike tersenyum tipis. Dia cubit pipi Naya gemas. "Sekarang jangan panggil saya atau kamu. Kita sepakat pakai aku kamu. Gimana?"


Lagi, Naya mendadak horor. Matanya membulat.


"T-Tapi Tuan ...."


"Dan satu lagi," sela Mike sengaja. "Sekarang panggil saya sayang. Bisa?"


Naya melotot. "Tapi ...."


Untuk kesekian kali Mike menyela. Dia tutup bibir Naya dengan jari telunjuknya. "Mulai saat ini nggak ada lagi kata Tuan. Kamu sekarang wanitaku, milikku. Jangan ada jarak. Bagaimana, Sayang? Romantis, 'kan? Kamu terharu, 'kan? Hanya kamu yang aku kasih keistimewaan kayak gini. Yang lain jangan harap. Kalau kamu gak percaya bisa tanya Jordan."

__ADS_1


Naya terdiam, dia tak bisa berkata karena benar-benar sudah mati kata. Dia tidak tahu apakah permintaan Mike itu sungguhan atau cuma pancingan.


Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Mike. Dia dengan santai menggerakkan jemarinya hingga Naya yang tadinya sedang diam karena berpikir sontak menjadi belingsatan di atas pangkuannya.


"Jangan. Tuan tolong ...."


Mike menyeringai. "Tuan, ya?" ulangnya. Tangan yang sudah menyelusup makin bebas saja bergerak ke sana kemari dan membuat Naya tak tahan. Dia cekal tangan Mike.


"Tuan cukup," ucap Naya. Terdengar sedikit berani.


Namun, gerakan itu hanya berhenti sebentar karena Mike kembali menyerang dengan gerakan yang makin lihai.


"Ayo, ingat apa yang kita bahas barusan?" titah Mike.


Naya memucat saat ditatap Mike yang sudah berkabut hasrat.


"Sayang ... tolong lepas. Berhenti, ya ...." Naya setengah memohon. Antara geli dan ... entah, rasanya aneh saja. Bulu kuduk sampai meremang sempurna. Padahal hanya sentuhan biasa.


Mike tersenyum senang. Dia pencet hidung Naya. "Gitu dong. Nurut. Kalau gini kan manis," balas Mike.


Sekarang mata Mike terarah ke Jordan yang ada di balik kemudi. "Ya sudah Jordan. Kita pulang sekarang."


"Wau, you are beautiful. Luar biasa. Ini baru wanitanya Mike."


Naya membalik diri mencari sosok yang bersorak-sorai heboh begitu, siapa lagi kalau Mike. Suaranya bahkan sudah Naya hapal diluar kepala saking terlalu sering dia dengar. Entah kenapa pria itu tidak pernah mengetuk pintu sebelum masuk. Untung gaun panjang sudah membalut tubuhnya.


'Kenapa ekspresi kamu jadi begitu? Gak seneng?"


Sekarang nada bicaranya sudah berbeda. Dia mendekat dengan kedua belah tangan masuk ke dalam saku celana. Lagi-lagi Naya hapal, apa arti gelagat itu. Cepat-cepat dia tersenyum dan mendekati Mike. Jika boleh jujur, dia jijik. Jijik pada diri sendiri sebab selalu tak berdaya di bawah kendali Mike.


"Bukan begitu, cuma ... apa gaunnya gak terlalu terbuka?" balas Naya sembari menyentuh dadanya yang polos. Sebab gaun panjang yang di pakai hanya memanjang di bawah sedangkan dada, plong. Hanya menutup buah dada saja.


"Gak apa-apa. Ini cantik. Aku suka," balas Mike, dia merendahkan suaranya di telinga Naya. Tentu saja membuat bulu kuduk gadis itu berdiri tegak tanpa permisi.


Melihat ekspresi Naya membuat Mike kembali terbahak. Di matanya ekspresi Naya selalu menggemaskan. Dia angkat dagu Naya agar bisa bersitatap dengannya.

__ADS_1


"Kamu cantik. Sangat cantik. Kalau bisa aku ingin menyimpanmu di dalam rumah selamanya. Tapi apa boleh buat, para brengsek itu ingin berkenalan. Jadi, ikut saja, oke."


Naya memaksakan senyuman. Sudah dua bulan tinggal di sana dan baru kali ini Mike mengajaknya keluar. Aneh, risih dan takut, perasaan itu bergumul jadi satu dan acapkali membuatnya mendesaah resah.


"Sudah siap?" tanya Mike lagi. Dia pindai penampilan Naya yang tak bosan memanjakan mata.


"Sudah," balas Naya sekenanya.


"Ya sudah. Kalau gitu kita langsung pergi."


Pukul sepuluh malam. Tibalah mereka di halaman sebuah gedung. Naya yang cantik dengan balutan gaun berwarna ungu muda tampak mengerjap melihat bangunan yang ada di depan mata.


"Dream? Ini tempat apaan?" tanya Naya yang seperti enggan untuk keluar. Matanya melihat plang gedung yang bertuliskan Dreams.


Sayangnya Jordan sudah terlanjur membukakan pintu. Mau tak mau dia pun harus keluar.


"Kita ada di mana?" tanya Naya lagi pada Mike yang ada di sebelahnya.


"Kita ke klab. Kita bertemu mereka di sini?"


"T-tapi ...."


Naya tak sempat menyelesaikan kata karena melihat kerlingan mata Mike yang sudah mulai tajam.


"Sini, cepet kita masuk!"


Naya terpaksa menelan ludah. Dia kalungan lengannya di lengan Mike sembari berjalan bersama. Dan tentu saja bunyian musik nyaring menyambut telinga mereka.


"Apa gak bisa pulang aja," rengek Naya. Dia peluk erat lengan Mike. Namun, Mike tak merespon. Dia hanya menyeringai.


"Tenanglah. Biasakan hidup begini. Aku jamin kamu bakalan menyukainya," balas Mike. Dia tuntun Naya menaiki tangga dan berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan VVIP Deams.


Naya menarik napas panjang sebelum Mike membuka handle pintu.


Eng ing eng.

__ADS_1


Terbelalak, mata Naya langsung membulat saat melihat ada wajah orang yang terlihat familiar. "D-dia ... dia 'kan ...."


Jejak jempolnya jangan lupa.


__ADS_2