
"Kak Ken!" seru Naya, suaranya begitu nyaring hingga Ken yang sengaja menutup wajah dengan masker terpaksa membekap mulutnya.
"Jangan berisik, Naya," bisik Ken penuh penekan. Dia buka topinya, masker serta melepaskan tangan yang membekap mulut Naya.
Melotot, Naya tak bisa mengenyahkan keterkejutan. Dia bahkan mematung beberapa detik sebelum akhirnya melihat ke sekeliling. Dia sangat takut jika Mike atau Jordan memergoki mereka.
Bisa berabe. Nasibnya masih di tangan pria mesum itu, dan juga dia tahu apa yang akan Ken terima jika mereka ketahuan duduk bersama. Bagaimanapun Mike tidak bisa ditebak. Pria itu kadang seperti malaikat kadang juga seperti penjahat.
"Kak, kenapa ke sini?" tanya Naya berbisik.
Alih-alih menjawab Ken justru memegang kedua belah pundak Naya, seolah ingin memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.
Anehnya sepersekian detik kemudian tanpa aba-aba Ken memeluk Naya dengan posesif. Dia peluk erat hingga orang yang dia peluk mengerjap heran.
"Naya, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Ken dengan posisi yang sama. Mereka masih berpelukan
Naya yang tak paham akan tindakan Ken tentu saja meronta alakadarnya. Satu sisi dia bahagia karena bertemu Ken, pria yang selalu menghiasi otaknya semenjak mereka berpisah. Namun, satu sisi dia juga merasakan ketakutan luar biasa. Dia takut ada yang memperhatikan mereka.
"Kak Ken, aku baik-baik aja, kok," balas Naya. Dia segera melepaskan pelukan.
"Beneran baik-baik aja? Kamu nggak apa-apa, 'kan? Gimana kabar kamu? Kamu dijahatin mereka? Kamu dipukul gak? Atau ...."
Ucapan Ken tak terselesaikan karena Naya menggeleng dengan pelan. Pria itu lantas mendesaah lega, lalu kembali memeluk Naya.
"Aku takut kamu diapa-apain. Aku takut kamu ditindas sama Mike," ucap Ken lirih. Dia makin memeluk Naya dan mengusap punggung gadis itu dengan pelan dan penuh kasih.
__ADS_1
Sayangnya lagi-lagi Naya melepaskan pelukan. Dia tatap mata Ken yang penuh kegelisahan, lantas tersenyum. Berharap seulas senyuman dapat menenangkan Ken.
Naya pegang tangan Ken. Mata mereka bersitatap menahan debaran di dada.
"Enggak kok, Kak. Semuanya nggak bener, aku baik-baik aja. Aku sehat seperti yang Kak Ken liat. Aku aman dan nggak kekurangan sedikit pun. Nggak ada memar juga di kulitku," ucap Naya mencoba menghibur Ken yang terlihat panik.
Namun tetap saja, sorot mata Naya menunjukkan hal yang berbeda dan Ken menyadari itu.
Ken mendesahh lagi, lalu menatap lekat mata Naya yang bening. Bahkan dia dapat menangkap ada setumpuk butiran air di ujung pelupuk mata Naya.
"Kamu sabar, ya. Kamu tenang, aku bakalan cari cara buat ngelepasin kamu. Aku bakalan usaha buat ngebebasin kamu dari orang itu."
Mata Naya membulat. Saking tak percaya dia sampai mengulang perkataan Ken, dan lagi-lagi mendapat anggukan.
"Ya, aku bakalan usaha. Aku akan cari kelemahan dia biar kamu bisa lepas dari dia," lanjut Ken.
"Aku lagi usaha, tunggu, ya. Tapi sebelum itu pastiin kalau kamu selalu sehat. Baik-baik di sana. Tunggu aku jemput kamu."
Naya mengangguk. Untuk pertama kalinya ada secercah harapan mengingat Ken yang mengucapkan itu. Dia bahagia, sangat. Meski tidak yakin akan terlepas dari jerat Mike apa tidak, tapi dia percaya pada Ken.
"Lalu bagaimana dengan keadaan perusahaan?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan.
"Semua sudah terkendali. Ini semua karena kamu dan karena suntikan dana dari Mike," jawab Ken.
Naya mendesahh lega. "Syukurlah, Kak."
__ADS_1
Namun entah kenapa Ken dapat menangkap keputusasaan dalam nada bicara Naya. Dia juga dapat melihat dengan jelas ketidakberdayaan gadis itu. Meskipun tersenyum kegetiran tertangkap jelas.
"Kalau gitu yang di rumah sakit ...."
Naya sengaja menggantung lisan. Dia Tak tahu harus menyebut Burhan apa, apakah ayah ataukan tuan. Mengingat benar-benar tidak ada kontak fisik di antara mereka. Mau itu perjumpaan, kasih sayang maupun lainnya.
Naya menghela napas mekin panjang. Ken yang paham langsung memeluknya. "Dia masih sama. Aku yakin dia bakalan sadar nanti. Kamu sabar, ya."
Hening. Naya terdiam. Perlahan setetes demi setetes air mata luruh tanpa bisa dicegah. Teruntuk Ken, dia hanya membiarkan Naya menumpahkannya selama beberapa detik.
Merasa waktu sudah tak lama lagi, Ken pun melepaskan pelukan. Lekat-lekat dia menatap Naya lalu dengan perlahan menghapus jejak kesedihan gadis itu.
"Aku pergi, ya. Kamu harus sehat. Tunggu aku. Aku pasti cari jalan."
Naya mengangguk dan secara spontan memegang tangan Ken yang menyentuh pipinya. "Aku kangen, aku kangen Kak Ken ... aku ...."
Belum juga Naya menyelesaikan lisan sebuah kecupan mendarat di bibir. Naya terbelalak, lidah kelu dengan tabuhan dalam dada yang semakin gila. Lekat dia menatap Ken yang juga menatapnya.
"Kak Ken, ini ...."
Naya menyentuh bibir. Mendadak pipi terasa hangat. Rasanya ada yang akan meledak.
'Jantung. Oh jantung, bisa tenang dikit gak?' batin Naya dalam diam. Dia masih saja tercenung sebelum akhirnya Ken menyentuh kepalanya. Sekilas, pria itu tersenyum. Terlihat manis, amat manis hingga Naya lagi-lagi terhipnotis.
"Tunggu aku. Aku pasti balik dan jemput kamu," ujar Ken sembari kembali memasang masker dan topi. Dia pergi meninggalkan Naya yang seperti orang linglung.
__ADS_1
Sepeninggal Ken Naya masih saja tersenyum sembari memegang dada. Dia bahkan tak sadar kalau Mike telah membuka pintu. Dengan nada dingin dan wajah yang masam Mike pun berkata, "Apa sudah selesai nostalgia-nya?"
Sambil nunggu ini up kalian boleh kok baca karya aku yang lain.