Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Licik.


__ADS_3

"Gak usah sentuh-sentuh. Kita gak selevel. Ngerti!"


Lagi, Naya menghela napas panjang. "Nggak, aku nggak iri sama sekali. Malah aku kasihan sama kamu," jawabnya.


Mendengar itu membuat darah Dina mendidih. Dia dorong bahu Naya hingga membuat Naya sedikit terhuyung ke belakang. "Jangan sok peduli! Justru ini yang aku cari. Aku butuh uang, aku butuh kekuasaan dan aku butuh Tuan Mike. Jadi aku gak akan rugi apa pun."


"Tapi masa depan suram. Kamu masih muda. Kenapa kamu mau berada di dekatnya?"


"Karena dia punya apa yang aku mau. Aku nggak perlu capek kerja, nggak perlu merendahkan apa pun. Dan yang lebih penting aku gak perlu repot-repot bersikap baik sama kamu lagi. Aku muak!"


Naya tersentak. Melihat Dina yang berteriak frustrasi begitu membuatnya berpikir keras, apa selama ini dia punya salah sama Dina hingga mendapat kebencian sedemikian rupa?

__ADS_1


"Dina ...."


Mata Naya berkaca-kaca. Dia pegang tangan Dina tapi lagi-lagi ditepis.


"Jangan sok baik. Jangan sok peduli. Kita gak selevel. Ingat. Kamu di sini hanya karena Tuan Muda Mike kasian sama kamu. Sedangkan aku, dia butuh aku. Butuh bantuanku dan mau tubuhku."


"Dina ...." Air mata Naya meluruh setetes. "Sebenarnya salah aku apa sama kamu?"


Naya terhuyung. Lekat dia menatap Dina. Gadis itu ternyata mempunyai temperamen yang buruk.


"Ya sudahlah. Gak ada gunanya juga. Yang terpenting sekarang aku sudah jadi wanitanya Tuan Muda. Kamu gak penting lagi. Lagian ...." Dina menjeda kata, dia perhatikan penampilan Naya. Gadis itu meski terbalut pakaian mahal tetap saja tidak ada aura anggun sama sekali.

__ADS_1


"Lagian, kita jelas udah gak selevel. Aku wanitanya Tuan, dan kamu hanya mainannya. Buktinya aku yang tidur sama dia dan kamu." Dina kembali menjeda kata. Dia tarik kerah baju Naya dan sengaja mengintip dalaman gadis itu. Tampak beberapa tanda merah keunguan di sana.


"Aku yakin Tuan Muda hanya main-main. Dia cuma kasih tanda biar kamu kesiksa. Sedangkan aku, aku di kasih kepuasan. Kita sama-sama menikmatinya," lanjut Dina. Dia menarik sebelah bibir.


Tak tahan akan penghinaan itu Naya pun menepis tangan Dina dari kausnya, lantas menghapus air mata. Untuk apa menangisi orang licik seperti Dina?


"Sudahlah. Terserah kamu. Kamu mau jadi kekasihnya, pacarnya ataupun istri dia. Aku gak peduli sama sekali," sahut Naya. Dia membalik diri dan pergi.


Sementara Dina, dia bersedekap melihat punggung Naya yang mulai kembali menapaki anak tangga.


"Sekarang aku udah sukses dapetin dia. Usahaku ternyata gak sia-sia. Coba dari dulu aku pake parfum peningkat hasrat dan teh itu. Pasti udah lama aku hidup nyaman. Gak perlu berbulan-bulan nahan hati sama kamu. Tapi gak apa-apa. Sekarang aku udah bisa sampai sini. Tinggal dikit lagi aku pasti bisa jadi nona besar di sini. Dan langkahku selanjutnya adalah nyingkirin kamu Naya. Kamu hanya gadis kampung. Gak pantes di sini."

__ADS_1


Dina lantas menyeringai licik, dia pun menyentuh layar ponsel dan mendekatkannya ke telinga. "Halo Non Bella. Ini saya Dina. Saya punya rencana besar. Saya yakin rencana ini bisa buat gadis itu di usir dari sini."


__ADS_2