Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Pilihan Berat


__ADS_3

"Apa saya boleh kasih saran? Ini murni pendapat saya sebagai makhluk individu dan bukannya bawahan Tuan Muda Mike," ujar Jordan dengan ekspresi wajah yang tetap sama. Namun, ada sedikit seulas senyum tipis di bibir.


"Apa, Pak? Bilang aja," jawab Naya.


"Daripada berpikir untuk pergi ada baiknya Nona memikirkan untuk bertahan."


Pemaparan singkat Jordan barusan membuat dahi Naya mengernyit. Dia dekati Jordan lalu bertanya, "Maksudnya apa, Pak? Aku gak ngerti."


"Nona sudah tidak punya kesempatan untuk pergi. Mau pergi pun mau pergi ke mana?"


Naya mendesahh. Alasannya masuk ke dunia Mike karena tidak punya tujuan. Lebih tepatnya tidak berani melangkah sendirian.


"Tuan muda adalah pengusaha sejati. Dia tidak akan mau keluar uang banyak hanya demi perempuan. Tanpa keluar uang pun kadang banyak perempuan yang rela menyerahkan diri. Tapi saat bertemu Nona Naya dia rela keluar banyak. Jadi saya rasa ini bukan perihal sederhana," papar Jordan lagi.


Naya bergeming, dia mengerjap. Benar-benar tidak paham maksud Jordan.


"Maksud saya manfaatkan semua akomodasi yang Tuan Muda Mike berikan. Tidak semua perempuan dapat keistimewaan ini."


Naya mendesahh lagi, dia paham sekarang apa yang Jordan maksud. "Tapi Pak Jordan, kalau harus ngasih segalanya tanpa cinta dan status rasanya ...."


Naya kembali menggantung lisan. Dadanya terasa berat saat memikirkan harus menjadi simpanan dan melayani Mike seperti seorang istri.


"Kalau itu masalahnya tergantung Nona. Nona bisa mengubahnya. Buat dia jatuh cinta sama Nona. Nona bisa mempertahankan semuanya. Baik Tuan Mike atau apa pun. Harta, tahta, cinta dan status tidak mustahil Nona dapatkan. Asal Nona tahu saja, Tuan Muda Mike bukan orang biasa."


"Ya, saya tau," balas Naya singkat, dan bukan itu juga yang membuatnya sedih. Ken, dia masih mencintai pria itu. Cinta pertama.


"Lebih baik Nona pikirkan baik-baik. Cobalah keliling rumah ini. Nona akan melihat betapa besarnya Tuan Muda Mike. Nona tidak akan rugi jika bersamanya," lanjut Jordan lagi.


Naya bergeming, lantas melihat sekeliling. Benar, rumah Mike begitu besar dan megah. Semua perabot maupun furniture semuanya terpajang rapi indah dan penuh unsur estetika. Yang lebih pasti harganya tidaklah murah.


"Nona bisa manfaatkan semuanya dengan bebas. Di lantai paling atas ada kolam renang besar untuk Nona jika tengah gerah."


Jordan menyipitkan mata setelah mengatakan itu dan dia dapat melihat tidak ada raut antusias dari wajah Naya. Di saat gadis lain akan berlomba mencari kemewahan, gadis itu justru diam saja. Terlihat lebih sedih.

__ADS_1


"Oiya, saya dengar Nona suka menggambar."


Mendengar itu ada perubahan dari raut gadis itu.


"Darimana Bapak tau?"


Jordan menipiskan bibir. "Tuan Muda Mike sekarang tengah mencari desainer profesional untuk mengajari Nona."


Mata Naya yang sembab seketika berbinar. "T-tuan Mike ngelakuin itu? T-tapi k-kenapa?" tanya Naya terbata. Dalam ingatannya masih melekat bagaimana Mike pemperlakuan dirinya dengan kasar.


"Karena dia memang begitu. Jika dia suka dengan seseorang dia akan memperlakukannya bagai ratu. Tapi jika dia bosan ...."


"Dia akan membuangnya," sambung Naya. Wajahnya kembali murung.


Jordan tersenyum sedikit. "Tapi Nona masih bisa berusaha agar dia jatuh cinta pada Nona. Dia sudah tertarik pada Nona sejak awal. Jadi Nona hanya perlu usaha sedikit lagi."


Naya bergeming. Dia tidak tahu harus merespon bagaimana. Haruskah melakukan saran Jordan atau tetap dengan pendirian?


"Yang harus Nona lakukan hanyalah menurut. Lakukan perintahnya. Walaupun kadang terlihat kasar tapi Tuan Muda sangat memegang kuat janji yang pernah dia katakan. Dia berprinsip."


Naya bergeming.


"Caranya?"


"Kalau itu saya tidak bisa memberi saran. Tapi yang harus Nona hindari adalah menyinggung tentang pacar pertamanya dan orang tua," sahut Jordan.


Mata Naya menyipit. Tak percaya ternyata Mike juga punya cinta pertama dan kehidupan keluarga yang rumit.


"Kalau begitu saya pamit. Ada hal yang harus saya urus," pamit Jordan lalu memutar tumit.


Sementara Naya, dia bergeming. Kata demi kata yang Jordan layangkan memenuhi sudut ruang otak. Dia termenung mencernanya hingga sebuah bunyian dalam paper bag menyentak kesadaran.


Perlahan dia membukanya. Ternyata memang sebuah ponsel bermerek yang sudah siap pakai.

__ADS_1


Di saat Naya tengah menjawab telepon dari Mike, ada seorang gadis cantik berbaju hitam dengan celemek di pinggang tengah menatapnya sengit. Dia mengintip dari balik lemari yang ada di dapur dengan tangan yang sudah membentuk tinju. Rahangnya pun ikut mengeras. 


"Aku gak bisa biarin kamu nikmatin kemewahan ini. Ini harusnya jadi milik aku. Harusnya dia ngelirik aku. Tapi semuanya ambyar karena kamu. Dasar sundal. Aku bakalan buat kamu menderita di sini. Aku bakalan buat kamu ngemis biar diusir."


"Din, lagi ngapain? Cepat kemari!"


Seruan dari belakang membuat Dina—gadis berseragam hitam—sontak memutar kepala, lantas bergegas menghampiri sang pemilik suara setelah memastikan kalau Naya sudah pergi dari sana.


"Mbak manggil saya?" tanya Dina. Dia menunduk segan setelah sempat melihat dua puluhan orang seprofesi berbaris di depan Mala—kepala asisten rumah tangga Mike.


Mala yang juga berseragam sama seperti Dina mondar-mandir di depan anak buahnya, lantas dengan nada dingin bertanya, "Siapa diantara kalian yang mampu mengemban tanggung jawab untuk menjaga Nona Naya?"


Semua terdiam, saling pandang seolah berbisik lewat sorot mata. Anehnya, mereka—yang dominan adalah wanita sekitaran berusia 20 hingga 40 tahun—seketika melihat Dina. Gadis muda berusia dua puluh lima tahun mengangkat tangan seraya berkata, "Saya mau, Mbak."


Alis Mala naik sebelah. Dia memindai Dina yang sebenarnya baru bekerja tiga bulan di sana.


"Kamu serius?" tanya Mala—wanita berperawakan kurus tinggi berusia empat puluh tahun—yang juga adalah seorang kepercayaan Mike selain Jordan.


Dina mengangguk. "Iya, Mbak, saya mau."


Mala bergeming, dia pindai gadis itu secara keseluruhan lalu memutuskan setuju.


"Oke,karena kamu mau mengemban tugas berat ini gaji kamu akan saya naikin dua kali lipat," papar Mala.


Mata Dina membesar senyumnya pun tak kalah lebar, dia mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Mala.


"Tapi ingat, Dina. Walaupun terlihat mudah ini sebenarnya tugas yang sulit. Tanggung jawab dan keselamatan Nona Naya ada di tangan kamu. Apa kamu mampu?"


Dina mengangguk antusias. "Iya, Mbak, saya mampu. Saya akan lakuin apa aja untuk jagain Nona Naya."


"Bagus, kalau begitu mulai hari ini keperluan serta kenyamanan dia tanggung jawab kamu. Setiap pagi kamu harus beresin kamarnya dia, ngelakuin apa yang dia minta dan yang lain-lain, kamu harus pastikan keselamatannya. Karena hanya dengan begitu kamu selamat dari Tuan Muda," lanjut Mala yang lagi-lagi tak berekspresi.


"Baik Mbak, terima kasih banyak," balas Dina, lantas menunduk. Dalam tunduknya dia tersenyum licik.

__ADS_1


'Dengan begini aku bisa mengusir gadis itu dengan mudah,' batinnya.


__ADS_2