Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Teh kotak


__ADS_3

"Aku gak tau kalau perjumpaan dramatis kita berakhir dalam hitungan menit," ucap Kristian. Dia berkata sembari membuka ikatan tangan Naya. Lantas, dengan sorot mata mesum memindai wajah gadis itu. "Tapi gak apa-apa. Aku harap ada kesempatan selanjutnya. Dan aku yakin, kita pasti bisa ngelakuin sesuatu yang pasti bikin kamu ketagihan."


Naya melotot. Dia memang muda, tapi muda bukan berarti tidak tahu apa-apa. Dia mengerti arah ocehan Kristian dan dengan spontan melayangkan tangan.


Namun, sayangnya pukulan itu tak terealisasikan karena Kristian keburu menangkis, lantas dengan lancang mencium pipinya.


Naya meronta. Dia menarik sekuat tenaga tangan yang dipegang Kristian, tapi lagi-lagi kalah tenaga. Dengan sekali sentakan Naya sudah terjatuh ke tanah.


"Hati-hati, Cantik. See you next time," ucap Kristian, dia mengedip genit lantas menutup pintu mobil.


Tidak memerlukan waktu lama, mobil itu pun menjauh. Kini tinggallah Naya yang mematung menahan perasaan, antara takut, kesal dan rasa syukur secara bersamaan. Perasaan itu bergumul jadi satu. Mendadak dia merindukan Ken.


Hening, hingga dua menit pun berlalu sia-sia.


Naya terus saja memeluk lutut dan membiarkan air mata menetes setetes demi setetes. Benar-benar tak percaya dalam waktu seminggu dia sudah mengalami hal mencekam sebanyak dua kali. Parahnya dengan pelaku yang sama pula.


Dalam keadaan seperti itu dia benar-benar merindukan masa-masa kecil. Masa kekurangan uang tapi selalu mendapat kasih sayang dan perlindungan.


Tiba-tiba tanpa sengaja mata yang sudah sembab tertuju pada sosok penyelamat yang sedang asik merokok tidak jauh darinya terduduk. Lekas dia menghapus jejak kesedihan dan berniat mengucapkan terima kasih. Bagaimanapun pria itu adalah penyelamat di detik terakhir.

__ADS_1


Gegas Naya berdiri dan mendekati Sean. Namun, saat jarak mereka dekat, Naya menyadari sesuatu. Dia bahkan mengucek mata berkali-kali. Seolah ingin memastikan kalau indera penglihatannya masih berfungsi normal.


'Benar, aku gak salah liat,' batin Naya. Lekat dia menatap Sean.


"K-kamu cowok teh kotak itu 'kan, ya?" terka Naya antusias.


"Cowok teh?" ulang Sean, dan seketika itu juga dia tergelak nyaring. Rokok yang ada di tangan bahkan sampai terlepas.


Sungguh, dia tidak bisa menahan gelitikan tak kasatmata. Ucapan Naya barusan membuatnya lupa kalau mereka sempat berada di situasi berbahaya.


"Kenapa?" tanya Naya. "Kenapa ketawa? Ada yang lucu?"


"Cowok teh ya? Hmm ... lumayan lucu panggilan itu. Terdengar unik," sahut Sean. Dia kembali kesusahan mengatur ekspresi.


Naya tak merespon, dia sibuk membersihkan debu di tangan dan pakaian serta menahan rasa perih di telapak tangan.


"Oh iya, kamu nggak apa-apa?" lanjut Sean. Dia pindai tubuh Naya dari kaki hingga kepala. "Kamu enggak luka, 'kan?"


Naya menggeleng, mata yang memerah karena habis menangis mengerjap berkali-kali. Dengan seulas senyum di bibir dia pun menjawab, "Enggak kok, enggak apa-apa. Cuma lecet dikit."

__ADS_1


Lantas, memperlihatkan telapak tangannya yang tergores.


Tanpa berkata Sean pun menuju mobil, dia datang membawa kotak P3K di tangan. "Siniin tangan kamu, kita obati dulu."


"Emb." Naya mengangguk mantap. Dia biarkan Sean membersihkan luka dan memberinya plaster bergambar bintang.


"Cuma luka kecil. Tapi aku yakin rasanya pasti gak nyaman. Tahan beberapa hari nanti bakalan sembuh sendiri," papar Sean. Dia lalu berbalik menuju mobil.


Sementara Naya, dia yang belum mengucapkan terima kasih membuntuti Sean hingga tanpa sadar menabrak punggung pria itu.


"Kenapa?" tanya Sean, alisnya naik turun. Raut muka malu-malu Naya cukup menggemaskan baginya.


"Aku cuma mau bilang makasih. Kamu udah mau nolongin, kalau nggak ada kamu mungkin ...."


"Udah, jangan sungkan, aku tadinya mau ngasih pelajaran sama mereka. Mereka hampir nyerempet mobil aku ini. Bisa berabe kalau lecet. Mobil ini mahal, loh. Aku bertahun-tahun jadi cleaning servis demi beli ni mobil."


"Seriusan?" tanya Naya sedikit berteriak. Karena sekeras apa pun dia berpikir, rasanya tidak akan mungkin seorang cleaning service bisa membeli mobil mewah seperti itu.


jejak jempolnya jangan lupa.

__ADS_1


__ADS_2