
"Nona Naya tolong jangan begini. Nanti Tuan Muda marah?" ucap Mala. Dia kelihatan resah melihat Naya yang tengah membolak-balik nasi yang ada dalam penggorengan.
"Kalau Nona mau biar saya saja yang buatin," lanjut Mala lagi.
Namun, Naya tetap asyik, matanya berbinar melihat nasi goreng petai terasi ala-ala dia yang rasanya sudah pasti luar biasa pedas karena banyak potongan cabai rawit di sana.
"Finish. Udah jadi Mbak. Jadi gak perlu panik gitu mukanya," sahut Naya. Dia tuang nasi ke dalam piring lalu duduk di kursi meja makan. "Mbak gak mau nyicip?" tanyanya lagi sembari mengangkat piring itu.
Mala menggeleng. Dia agak heran dengan selera Naya. Bukankah selama ini selalu disuguhkan dengan makanan ternikmat mahal? Lalu kenapa saat menyantap nasi goreng itu matanya berbinar?
"Mbak beneran gak mau nyicip?" tanya Naya lagi. Dia mulai menyuap nasi ke dalam mulut.
"Saya gak makan petai, Non."
Naya manggut-manggut. "Dan kalian?" tanya Naya lagi pada para asisten rumah tangga yang ada di belakang Mala. Anehnya mereka—yang terdiri dari belasan orang—menggeleng secara bersamaan.
"Ya udah aku makan sendiri," lanjut Naya cuek.
Hening. Tak ada yang terdengar selain bunyi benturan sendok dan piring. Berbulan-bulan hidup di rumah Mike dan mengikuti aturan serta keinginan orang itu membuat Naya sekarat. Apa-apa serba tidak boleh. Bergerak sedikit dipelototi. Ingin ini itu selalu diwanti-wanti. Meski tidak dirantai, dia merasa terpenjara di sana. Tetap merasa lapar saat makanan enak masuk ke dalam perut. Aneh.
Tanpa siapa pun sadar ternyata Mike mendekat menuju mereka. Mala yang melihat kehadiran Mike seketika menunduk segan sembari berkata, "Selamat datang, Tuan."
Sontak saja Naya tersedak. Dia serobot air putih dan meminumnya hingga habis.emahan diri saat yersedak cabai bukanlah perkara mudah. Gegas dia berdiri dan menunduk segan pada Mike.
"Apa yang kamu makan?" tanya Mike. Suaranya terdengar berat.
"Begini Tuan, Nona Naya ...."
Lisan Mala terjeda karena Mike mengangkat tangan. Mata pria terbalut jas itu lekat melihat Naya yang menunduk. Dia lihat juga masih ada sesendok nasi di piring.
"Kamu masak?" tanya Mike lagi.
__ADS_1
Hening, Naya tak menyahut.
"Apa masakan koki di rumah ini gak enak?" tanya Mike lagi. Kini terdengar penuh penekanan. Naya, Mala dan semua orang di sana makin tak tahu harus berkata apa. Atmosfer berubah drastis.
"Mala, kalau begitu pe—" Ucapan Mike menggantung karena Naya dengan cepat menghamburkan diri ke dalam pelukannya. Dia hanya terbengong melihat Naya. Tak percaya gadis itu berinisiatif lebih dulu.
"Maaf. Aku gak maksud. Jangan pecat kokinya. Aku cuma rindu masakan sendiri," sahut Naya bibirnya bergetar mengatakan itu. Dia paham betul, lisan Mike yang terjeda tadi pastilah akan memecat para pekerja yang bertanggung jawab.
"Apa aku gak boleh makan masakan sendiri?" tanya Naya. Dia mendongak dan melihat muka masam Mike.
Sementara Mike, dia yang melihat wajah takut berani yang Naya tunjukkan jadi gemas sendiri. Pandangan itu membuat penat karena seharian bekerja jadi menguap begitu saja. Dia acak-acak poni Naya lalu menjawab, "Tentu, tapi jangan terlalu sering. Nanti kulitmu terbakar. Aku gak mau itu."
Senyum Naya tercipta. Dia lega, awalnya sangat takut Mike akan murka dan memecat siapa saja. Beruntung ketakutan itu tidak jadi kenyataan.
Namun, senyum Naya sirna ketika melihat sorot maya Mike yang kembali berbeda. Pria itu mendaratkan tangan dan menyentuh bibirnya.
"Nanti pijitin ya. Aku sangat lelah hari ini."
Naya menelan ludah. Melihat itu Mike jadi gemas dan kembali mengacak-acak rambut gadis itu. "Jangan telat."
"T-tuan. Itu ada petainya," ucap Mala memperingati.
"Lalu kenapa? Kalau Naya suka berarti itu enak."
Mike tersenyum jail. Dia dekati lagi Naya. "Masakan kamu memang enak. Aku mau ini untuk makan malam."
"Baik Tuan, saya akan suruh koki kita buat ...."
Ucapan Mala terjeda karena Mike mengangkat tangan lagi. Dia masih melihat Naya tanpa peduli apa pun juga. "Aku mau Naya yang masak. Kalian jangan ada yang membantunya."
Semua terdiam. Mike pun berdeham. Dia angkat dagu Naya hingga mata mereka bersitatap. "Bisa, kan?"
__ADS_1
Naya mengangguk. Mike pun kembali tersenyum , lantas mengacak-acak rambut gadis itu. "Gadis baik. Masaklah yang enak. Lalu anterin ke kamar. Aku lelah."
Sepeninggal Mike semua orang kembali ke kesibukan masing-masing. Hanya Mala yang masih berdiri di sebelah Naya. Namun, saat proses terakhir tiba-tiba ponsel wanita itu berdering.
"Nona, saya tinggal dulu ya."
"Iya mbak. Gak apa-apa kok. Bentar lagi selesai."
"Oiya, saya hampir lupa. Tuan muda Mike alergi lada. Jadi jangan ditambah lada, ya."
"Iya, Mbak. Aku juga gak suka lada."
Tak berapa lama siaplah nasi goreng petai jilid kedua. Senyum Naya pun terukir indah. Dia sangat berharap Mike menyukainya.
Cari muka 'kah?
Tentu tidak. Dia hanya ingin Mike bersikap baik dan berhenti membuatnya spot jantung dengan bertingkah mesum.
Mengenang itu Naya jadi bergidik, darahnya berdesir. Dia ingat betul betapa binal Mike menyiksa tubuhnya semalam dengan dalih hukuman. Tanda merah keuangan saja masih ada. Masih membekas di leher juga dada. Mike benar-benar liar meraba dan menekan tubuhnya seakan tengah memegang tanah liat.
"Jahat," rutuknya kesal. Dia berbalik hendak menyimpan piring dia atas meja, tapi berjengket kaget saat melihat Dina sudah ada di belakangnya. Gadis itu tengah mengelap sendok dengan serbet.
"Mau cari muka?" ujar Dina. Dia tersenyum sinis.
Naya yang sudah paham dengan tabiat Dina hanya berdengkus. Dia mendekat tanpa berkata, lantas meraih sendok yang ada di tangan gadis itu.
"Bukan urusan kamu," balas Naya tak kalah sengit.
Dina terkekeh lalu bersedekap. "Apa kamu yakin bisa ambil hatinya hanya dengan sepiring nasi goreng murahan itu?"
Mata Naya menyipit. Dia lihat Dina yang menyeringai, lalu pergi begitu saja. Dia tidak ada niatan membalas.
__ADS_1
Sepeninggal Naya, senyum Dina terukir mengerikan. Di tangannya ternyata sudah ada botol lada yang dia tabur ke sendok. Tadi dia hanya membersihkan tangkainya saja.
"Dasar bodoh. Ayo kita liat siapa yang bakalan menang."