Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Sudah dibeli.


__ADS_3

Melihat Naya yang tak bersuara membuat Mike makin berang. Dia cengkeraman lengan Naya dengan kuat dan tidak memedulikan Naya yang merintih kesakitan.


"Jawab!"


"Saya tidak tau, Tuan. Kita ketemu baru dua kali. Dan saya gak tau namanya makanya kasih nama dia cowok teh kotak," sahut Naya dengan satu tarikan napas. Sungguh, dia gemetar. Kaki saja hampir merosot ke lantai.


"Benar begitu?" tanya Mike lagi, terdengar dingin.


Naya mengangguk. "Iya, Tuan. Saya beneran gak bohong."


Mike melepaskan cengkeraman. Masih dengan raut tak senang dia pun kembali bertanya, "Kapan pertama kali kalian ketemu?"


"Pertama ketemu dua minggu lalu waktu saya masih jadi kasir di mini market. Terus ketemu dia lagi saat saya digangguin preman," tutur Naya dengan bibir yang sudah bergetar.


Mike berdengkus, lantas merapikan kemeja yang membalut badan. Dia tetap kesal ponsel Naya yang kembali berdering. Tanpa berpikir dia langsung membanting benda itu ke lantai lalu menginjak-injaknya.


Naya melotot, di matanya Mike seperti seorang yang tengah cemburu akut. Benda pemberian Ken yang tidak berdosa bahkan sudah menjadi serpihan. Hatinya mencelos tapi tak berani berkata maupun marah. Dia hanya bisa diam dan mengutuk tingkah Mike yang tidak masuk akal.


"Ingat Naya! Mulai sekarang lupakan dia! Saya gak peduli dia hanya kenalan, teman atau apa. Yang jelas kamu harus ingat, kamu sudah saya beli!" papar Mike dengan berteriak. Dia lantas meninggalkan Naya yang menahan sakit karenanya.


"Awasi dia, Jordan! Awasi terus dia," ucap Mike sembari berdengkus ketika melewati pria setia yang hanya beda tujuh tahun darinya.


"Baik, Tuan Muda."


Tanpa menoleh, Mike pun masuk mobil Bugatti yang sudah menunggu untuk mengantarnya ke Abraham Group.


***


Pagi hilang datanglah siang. Naya yang baru saja menyelesaikan makan siang dihampiri Jordan yang membawa tas kertas bermotif batik.


"Nona, ini hadiah ponsel dari Tuan Muda. Beliau membelinya sebelum berangkat ke Singapura," ujar Jordan.

__ADS_1


Meski bingung Naya sambut juga kertas yang Jordan sodorkan. "Ini hadiah dari Tuan Mike?" ulang Naya.


Jordan mengangguk, pria dengan postur kurus tinggi dengan kumis klimis itu tersenyum ramah. "Bukalah. Di sana juga ada pesan yang harus Nona balas."


Naya mengangguk. Dia tak berniat membukanya. Dia justru tertarik pada sesuatu hal yang lain.


"Kalau begitu saya tinggal," pamit Jordan sopan.


Namun, baru juga memutar tumit, Naya kembali menyebut namanya.


Dahi Jordan mengernyit. Tak tahan dia pun membalik diri dan bertanya, "Ada apa, Nona? Apa ada yang perlu saya bantu?"


Naya menggelengkan kepala. "Pak Jordan, apa aku boleh nanya sesuatu?" tanya Naya.


Jordan mengangguk mantap. "Katakan. Apa pun akan saya jawab kalau memang saya tahu jawabannya."


"Apa Tuan Mike pernah membeli budak sebelumnya?" tanya Naya. Jantungnya dag-dig-dug tak karuan saat menanyakan hal itu pada Jordan. Namun, mau bagaimana lagi, dia penasaran apa tujuan Mike. Pria itu kadang baik bagai teman, kadang juga menyeramkan bagai setan.


"Tidak pernah. Nona Naya yang pertama," balas Jordan dengan posisi berdiri tegak.


"Kalau itu saya tidak bisa menjelaskan," sela Jordan. Di bibirnya ada sedikit senyuman. Tentu saja gelagat itu membuat Naya semakin gugup.


"Maksud Bapak apa?"


"Ya karena saya tidak bisa menghitung berapa banyak yang sudah tidur dengannya."


Jeder!


Serasa tersambar petir yang tak kasatmata, Naya melemah dengan jantung yang juga berkurang ritmenya. Ternyata benar apa yang ada di kepala—kalau Mike adalah playboy.


"J-jadi tujuan dia ngebeli aku itu untuk ...."

__ADS_1


Naya tak mampu menyelesaikan kata, dia benar-benar tak menyangka jika akan terjerat dalam hidup Mike yang gelap. Pupus sudah harapan kalau Mike bisa menjaganya seperti yang sudah Ken lakukan.


"Tapi Nona jangan khawatir. Tuan muda berpengalaman dengan yang namanya perempuan. Tuan muda pasti jagain Nona karena Nona sudah jadi miliknya," lanjut Jordan.


Naya tak menyahut karena bukan itu keinginannya.


"Yang harus Nona lakukan hanyalah menurut. Lakukan apa pun yang dia minta."


"T-tapi gimana mungkin?"


Naya kembali tak mampu menyelesaikan lisan. Dia tertunduk lemah sembari menggenggam erat tangan sendiri. Bayangkan, tiga bulan lagi dia harus siap memberikan mahkota berharga tanpa ada status apa-apa.


Kepala Naya mulai berdenyut. Kata budak memenuhi sudut otaknya.


Jordan yang melihat ekspresi wajah Naya hanya berdeham. "Maaf Nona. Saya tidak bisa menghibur atau menjanjikan apa pun. Yang perlu Nona ingat, Nona sudah menjadi miliknya, dan kewajiban Nona adalah melayani dia. Buang harga diri karena Nona sudah menjualnya."


Mendengar itu air mata yang tadinya susah payah Naya tahan akhirnya luruh juga. Dia tak berani mengangkat kepala ataupun merengek minta dilepaskan, sebab yang Jordan katakan adalah kenyataan—tubuhnya sudah dibeli Mike dengan harga sepuluh miliar. Orang waras mana yang akan melakukan hal demikian?


Naya menarik napas panjang, lantas menghapus air matanya. Lekat dia menatap Jordan yang tak bergerak sedari tadi. "Apa ada kemungkinan aku bisa lepas?"


Jordan terdiam beberapa detik lalu menggelengkan kepala. "Untuk saat ini siapa pun perempuan yang berurusan dengan Tuan Muda tidak bisa datang dan pergi sesuka hati. Nona bisa pergi kalau memang Tuan Muda menginginkannya."


Naya makin lemah. Dia beranjak dari kursi dan mendekati Jordan. Hatinya hancur, tapi semua sudah terjadi.


"Ya sudah kalau begitu, Pak. Bapak boleh pergi. Saya mau ke kamar."


Jordan bergeming, dia sedikit tersentuh akan kepasrahan dan kedewasaan Naya dalam menyikapi kenyataan. Dia tahu keadaan yang Naya hadapi sekarang bukanlah keinginan Naya sendiri. Namun, tetap saja Mike telah menaruh minat pada gadis itu bahkan sebelum pertemuan resmi mereka semalam.


Jordan ingat betul kejadian kemarin pagi—Mike memaksanya mencari seorang gadis dengan bermodalkan kamera CCTV sebuah kafe. Seorang gadis yang terlihat adu mulut dengan seorang laki-laki dewasa. Gadis yang tak lain adalah Naya. Saat melihat Naya untuk pertama kalinya pun Jordan sudah mendapat feeling, kalau Naya berbeda dari gadis biasa.


"Nona Naya."

__ADS_1


Naya membalik badan. Dia tatap Jordan yang masih tak beranjak dari tempat semula.


"Kenapa, Pak?"


__ADS_2