
"Serius?"
Suara Sean yang nyaring tak pelak menjadi titik pandang orang yang kebetulan duduk di kafe yang sama dengan mereka. Ken yang duduk berhadapan dengannya pun jadi kesal dan melayangkan tendangan maut. Telak mengenai tulang kering hingga Sean yang sedang membelalak karena kaget berubah seketika ekspresinya—meringis kesakitan.
"Sekalian aja pake toa teriaknya, Sean. Biar gak nanggung," sungut Ken kesal.
Sean yang masih kesakitan mengusap tulang kering yang menjadi sasaran Ken barusan. Namun, meski begitu dia tetap tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Jadi, gadis remaja yang Anton maksud itu adalah anak kandung bos kamu? Sekarang dia dibeli Mike dan dijadikan simpenan, gitu?" lanjut Sean memperjelas.
Ken mengangguk lesu. Dia akhirnya menceritakan semua tentang Naya saat Sean datang dan membeberkan masa lalu Mike serta wanita muda yang dirumorkan bersama Mike di sebuah kelab malam. Dia yakin, wanita yang disembunyikan oleh Mike adalah Naya.
"Jadi sekarang apa rencana kamu? Bukannya tu perempuan sendiri yang mau ke sana? Jadi kita gak punya apa pun buat menyalahkan Mike," lanjut Sean. Dia sudah duduk benar dan menatap Ken serius.
__ADS_1
"Justru dari itu aku minta bantuan kamu."
Sean menghela napas panjang. Dia mencondongkan tubuh dengan tangan berlipat di atas meja. "Sebenarnya aku mau banget bantuin. Tapi aku bukan polisi. Aku cuma pengacara, pengacara perceraian lagi, gimana ceritanya bisa bantu yang beginian? Ini udah jalurnya polisi, Ken. Tapi polisi juga gak bakalan turun tangan kalo gak ada bukti."
Ken tak menjawab, dahinya mengernyit, lalu memijit pelipis. "Kita gak punya bukti."
"Nah iya, masalahnya sekarang buktinya ini ke mana kita nyarinya? Kalau kita mau menggeledah rumahnya juga gak bisa sembarangan. Harus ada surat izin investigasi. Tapi kamu sendiri tau, Mike bersih. Terus, kalo semisal nanti kita dapat tu surat izin, apa ada jaminan kalau nona kamu itu bakalan ngaku?"
Ken terdiam. Dia seruput kopi hangat lalu kembali menatap fokus wadahnya. "Aku gak tau Sean. Aku blank."
"Jadi aku harus bagaimana, Sean? Apa sama sekali gak ada jalan keluar?" Ken menyugar rambut kebelakang. Dia tampak kacau.
"Bagaimana dengan surat kontrak mereka? Itu bukti paling akurat."
__ADS_1
"Sudah, sudah aku periksa. Itu hanya kontrak biasa. Dan gak ada sangkut pautnya dengan transaksi itu. Aku bahkan berusaha nyari kontrak kesepakatan antara Mike dan Bu Laura yang lain, tapi nihil. Gak ketemu sama sekali," sahut Ken.
"Bagaimana dengan obrolan dan pesan WA?" lanjut Sean. Terlihat lebih antusias.
Ken menggeleng lesu. "Gak ada. Yang tau masalah ini cuma kami berdua. Lagian dia selalu ngasih perintah langsung. Aku menyesal kenapa dulu setuju dengan rencananya."
Kini Sean yang menghela napas panjang. Dia tahu betapa frustasinya Ken, hanya saja tidak tahu cara untuk membantu.
"Mike dan Laura benar-benar licik. Mereka nyusun ini bener-bener matang," umpat Sean. Dia seruput latte yang berada dalam gelas.
Ken mengangguk lagi. "Waktu malam itu pun aku nggak diperbolehkan ikut."
Hening, keduanya diam. Buntu, tak ada jalan keluar dan tak mengerti mencarinya.
__ADS_1
Lagi, terdengar desaahan Ken yang makin terdengar menyedihkan. Sean yang peduli menjadi curiga. Dia condongkan lagi tubuhnya dan menatap Ken yang menunduk.
"Tapi ngomong-ngomong, Ken, apa kamu harus berusaha sekeras ini?" tanya Sean. Dia menaikturunkan alis. "Bukannya dia bukan siapa-siapa kamu, ya? Aku heran kenapa kamu jadi sepeduli ini? Apa mungkin kamu naksir dia?" lanjut Sean.