
"Sialan! Selama ini ternyata kita ditipu, Harry. Mike, laki-laki licik itu bahkan rela ngorbanin perempuan lain buat ngelindungin ni perempuan," geram Laras sembari mengepal foto Naya yang ada di tangan. Rahangnya mengetat, tatapannya tajam menuju depan.
Masih dengan emosi yang meledak-ledak, Laras kembali bergumam, "Awas aja kamu, Mike. Bakalan aku buat kamu nangis darah karena nolak aku demi perempuan ini. Awas kamu!"
"Herry," panggil Laras.
Pria tampan blasteran itu menyahut dan maju mendekati Laras yang duduk di sofa.
"Cari celah dan laksanakan rencana selanjutnya. Aku nggak mau Mike bahagia sedangkan aku menderita."
Herry mengangguk patuh, lalu mundur beberapa langkah dan mengambil satu botol obat dari dalam laci. Dia juga membawa segelas air putih dan meletakkannya di meja. "Sekarang sudah waktunya minum obat, Nona."
Laras berdengkus, dia memutar mata malas melihat sang asisten kepercayaan yang berada di sebelahnya. Mereka telah belasan tahun bekerja sama. Laras paham Herry, begitu juga sebaliknya. Bahkan Herry yang selalu mengingatkan bahwa dirinya tidak boleh telat minum obat anti depresan.
Wanita bergaun selutut itu memegang botol putih obat lalu menerawang jauh. Rasanya sangat menjengkelkan jika harus tergantung sama obat. Dia harus mengkonsumsi dan membawanya ke mana pun.
Namun bagaimanapun juga dia butuh obat itu, mau meronta sekuat tenaga juga harus tetap mengkonsumsi agar tetap tenang. Semua ini berawal sejak setahun lalu, dirinya terjerat skandal dengan aktor kenamaan yang berstatus suami orang. Sejak saat itu karirnya sebagai model hancur. Dia memutuskan balik ke Indonesia dan memulai segalanya dari awal.
Sayangnya semua tak semulus itu. Dunia hiburan sangat kejam. Satu pun job tak ada yang datang. Tak ada cara lain, dia harus mendapatkan Mike lagi demi kelangsungan hidup dan karir.
****
Sebulan telah berlalu. Selama itu juga Naya tak bisa menghubungi Ken. Justru dia dikekang oleh Mike semakin gila. Tak pernah sekali pun diperbolehkan keluar rumah. Entah apa yang Mike pikirkan. Dia seperti takut Naya hilang. Naya perlahan mulai menjadi candu. Bahkan saat bekerja pun dia terus membayangkan wajah gadis itu yang selalu ketus ketika melihatnya. Wajah yang jika tidak diancam tidak akan pernah tersenyum. Ajaibnya itulah yang membuat Mike sadar, kalau Naya itu berharga dari wanita yang pernah dikenal.
Kini, seperti biasa setiap dua minggu sekali keduanya pasti datang ke kelab malam. Mereka berada ruang VVIP, sekarang. Bedanya kali ini hanya ada mereka berdua karena teman-teman Mike yang lain sudah pergi.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mike. Dia yang yang setengah mabuk menopang kepala yang berat dan melihat Naya dari samping. Wajah datar Naya membuatnya tersenyum.
"Gak lagi mikirin apa-apa," balas Naya sekenanya. Tentu saja itu kebohongan belaka, karena di kepala hanya ada nama Ken dan Ken saja. "Oh iya, kapan Pak Jordan balik?"
"Kamu mikirin Jordan?" Mike lalu tersenyum. Dia genggam tangan Naya. "Dia cuma nganterin Dina pulang. Jakarta-Solo nggak jauh, besok dia pasti pulang."
__ADS_1
Naya mengembuskan napas perlahan.
"Apa sebegitu pedulinya kamu sama Jordan? Hemm ...."
Naya refleks memundurkan kepala. Perkataan Mike barusan membuatnya menahan ludah. Mata mereka beradu. Dia dapat melihat mata Mike yang tajam dari jarak dekat.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Naya melihat sesuatu yang lain. Bukan sorot yang biasa dia lihat—mata mengintimidasi dan memaksa. Entahlah ... rasanya beda saja.
'Apa mungkin ada ketulusan di mata orang ini?' batin Naya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Mike yang seketika membuyarkan lamunan. Dia bahkan makin memepet Naya hingga terpojok tak bisa bergerak lagi.
"Kamu tau Naya, aku selalu penasaran apa yang ada di pikiran kamu. Kamu tau, aku selalu ingin mendengar apa pun dari bibir kamu. Mintalah, minta apa saja yang kamu mau. Kamu ingin barang branded, aku bisa beli buat kamu. Kamu mau liburan ke luar negeri, pasti aku temani. Kamu ingin rumah atau perhiasan, tinggal bilang saja. Tapi kenapa ini ...."
Mike menekan bibir Naya dengan jari telunjuknya. "Ini kenapa gak pernah ingin sesuatu? Apa kamu gak punya keinginan? Apa kamu gak punya keserakahan?"
Terkekeh pelan, Mike menjauhkan wajah lalu merebahkan kepala ke pangkuan Naya. Mata mereka kembali beradu. "Kamu, aku gak akan pernah biarin kamu lepas. Kamu berharga Naya berharga."
Tanpa aba-aba Mike beranjak dari pangkuan. Dia berdiri dan membungkuk di depan Naya, lantas mengulurkan tangan kanan sedangkan tangan kiri ada di belakang.
"Mohon berdansalah denganku, Nona Cantik."
Naya terbelalak bingung. Namun meski begitu dia tetap mengulurkan tangan, membiarkan Mike menariknya hingga ke tengah ruangan.
Sekarang mereka berbagi pandangan. Tatapan Mike terlihat teduh, senyumnya juga terlihat beda.
'Apa mungkin orang mabuk bisa berubah perangainya?' batin Naya lagi.
"Simpan tanganmu di sini," ucap Mike sembari menunjuk pundak kiri.
Naya menurut, dia letakkan tangan kanannya ke sana.
__ADS_1
Sekarang tangan Mike yang satunya menyatukan tangan mereka. Naya lagi-lagi hanya diam, dia mencoba menelisik. Kenapa Mike malam ini berubah lembut?
Belum juga mendapatkan jawaban, Mike telah menarik pinggangnya, kini benar-benar tubuh mereka menyatu.
Keduanya mulai bergerak. Anehnya meski baru pertama kali berdansa, Naya bisa mengimbanginya langkah Mike. Seakan-akan ada dorongan dan bisikan yang membuatnya bergerak seirama padahal tak ada apa-apa di sana selain mereka yang saling bersitatap.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Mike pun terpaksa menghentikan gerakan karena merasa ada yang berdesakan ingin keluar dari kerongkongan. Dia berlari, tapi saat di depan tak sengaja menabrak seseorang. Pria yang ditabrak minta maaf, tapi Mike abai dan tetap berlari menuju toilet.
Setelah selesai dengan itu Mike pun keluar, senyumnya terpatri. Malam ini dia merasa berbunga. Entah apa sebabnya. Apa mungkin karena Naya mau berdansa dengannya?
Ah, mendadak dia seperti ABG yang baru puber.
Pintu Mike buka.
Dup-dup-dup-dup.
Mike mematung, matanya bergerak. Saat sadar dia pun berlari menghampiri Naya yang sudah bersimbah darah. Dia peluk Naya yang tergeletak di lantai.
"Nay, Naya! Bangunlah, Naya! Bangun!"
***
like jangan lupa. entar agak malam aku up lagi. Sekarang mau malam mingguan dulu ama doi. heheh.
MET malam Minggu semua.
__ADS_1