Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Takdir yang menunggu


__ADS_3

"Kamu cleaning servis?" ulang Naya sembari memindai penampilan Sean. Lagi-lagi dia hanya bisa menggeleng.


Sean tergelak. "Tentu saja enggak, aku bohong. Kamu ini gimana, sih? Polos banget. Asal kamu tahu aja, aku keturunan orang kaya, loh."


Naya mencebik, tapi meski begitu dia tetap bersyukur bertemu Sean. Kalau bukan karena Sean dia tidak mungkin terlepas dari cengkeraman Mario dan kawan-kawan.


"Kalau boleh tau ada hubungan apa kamu sama salah satu cowok tadi?" tanya Sean tiba-tiba. Raut mukanya mendadak penuh keseriusan.


Naya menggeleng lalu mendesah. "Entah, beberapa malam yang lalu dia gangguin aku, persis kayak tadi. Beruntung ada kerabat yang datang. Aku gak nyangka dia dendam."


Sean manggut-manggut. "Lebih baik kamu hindari dia. Aku kenal keluarganya. Walaupun kaya dia bukan dari keluarga baik-baik. Jadi pastikan kamu jauhi mereka. Dan usahakan ke mana-mana jangan sendiri. Bahaya. Ini Jakarta. Apa pun bisa terjadi."


Naya terdiam hingga Sean tak tahan untuk tak bertanya. "Oiya, berapa umurmu. Kamu sepertinya masih muda."


"Umurku 19 taun," jawab Naya. Sean hanya menaikturunkan kepala.


Berinisiatif lebih dulu, Naya pun mengeluarkan tangan pada Sean yang seumuran dengan Ken. "Kenalin nama aku Naya."


Sean menyambut tangan terulur Naya tapi tidak menyebutkan nama. "Aku tahu nama kamu. Kita kan sudah pernah ketemu sebelumnya," balas Sean tenang. Seperti tidak punya salah.


"Tapi itu bukan poin terpentingnya. Maksud aku, aku itu mau tau nama kamu."

__ADS_1


Sean tergelak lagi, dia sampai memegang perut. Begitu lucu dan imut wajah nanya kalau cemberut. Dia acak-acak rambut Naya.


"Kamu lucu banget sih. Lagian kamu udah tau kok nama aku."


"Eh, masa? Kok aku gak inget."


"Itu tadi, cowok teh kotak. Bukannya itu nama spesial yang kamu kasih ya. Jadi ya udah pakai itu aja. Mau kamu bilang cowok teh kek, cowok aneh atau cowok tampan sekalipun aku nggak bakalan protes," papar Sean disusul gelak tawa.


"Hu ... narsis banget sih," balas Naya, dia pun terkekeh juga.


"Oh iya, kamu mau pulang? Aku anterin ya. Mayan irit ongkos. Jarang-jarang loh aku berbaik hati gini."


Naya langsung terdiam, godaan receh Sean sama sekali tak membuatnya tersenyum. Dia justru bergeming karena baru ingat hari ini adalah hari terakhirnya memiliki kebebasan. Mempunyai teman seperti Sean tidak akan berguna sekarang. Kini dia sudah dicap sebagai milik seseorang.


Mendengar itu tak lantas membuat Naya marah. Dia tahu Sean hanya menggoda.


"Enggak deh, aku pulang sendiri aja," sahut Naya.


"Beneran, gak mau nyoba naik mobil ini?" Sean mengusap-usap body mobilnya dengan gaya sensual hingga Naya tak bisa tak tersenyum. Dia pun mengangguk. "Aku bisa balik sendiri."


"Jangan takut, aku nggak bakalan macam-macam, kok. Apa kamu pernah lihat orang jahat serapi dan setampan aku?" lanjut Sean lagi

__ADS_1


"Bukan itu maksud aku, cuma ...."


Naya menggantung lisan, gugup karena takut Sean tersinggung atas penolakan yang dia berikan.


Melihat itu Sean semakin gencar ingin menggoda. "Apa kamu nggak takut kalau mereka datang lagi?"


"Enggak, aku yakin mereka nggak berani lagi buat datengin aku. Secara seorang sultan udah turun tangan."


Sean tertawa. "Wah, pede sekali kamu ya. Ya sudah, kalau gitu pulanglah. Aku juga bukan tipe pemaksa. Kalau kamu nggak mau bareng aku ya nggak masalah. Tapi kalau berkenan boleh nggak kasih tau aku nomor HP kamu?"


"HP?" ulang Naya. Seketika dia meraba saku celana dan memang ada ponsel.


Meski menjadi tawanan Laura, Ken tak pernah memperlakukannya demikian. Ken selalu menjaganya tanpa ada kekangan. Pria itu begitu percaya padanya bahkan tanpa ragu menghadiahi ponsel.


"Gak mau kasih juga?" Sean menyelidik.


Gegas Naya menggeleng. Meski tahu apa yang akan terjadi di hari selanjutnya, Naya tetap memberikan nomor ponselnya kepada Sean. Dia tidak ingin membuat Sean kecewa.


"Save nomor aku ya, nanti kalau ada waktu aku hubungi lagi. Kita jalan-jalan, kita ngeteh," papar Sean setelah sukses melakukan panggilan.


Naya mengangguk, dia lepas kepergian Sean dengan senyuman serta lambaian tangan.

__ADS_1


"Ternyata di dunia yang kejam ini masih ada orang sebaik kamu. Makasih, makasih banyak," gumam Naya lalu memutar tumit. Dia sudah bersiap apa yang akan dihadapinya nanti malam.


__ADS_2