
Jordan menelan ludah. Wajah yang tadinya tenang sedikit berubah. Nanar dia menatap Bella yang sudah menyeringai.
"Nona salah. Dia hanya kolega Tuan Muda Mike dan bukan siapa-siapa," balas Jordan waspada. Dia tahu perangai Bella dan berbohong adalah jalan satu-satunya. Dia takut jika Bella nekat dan mencelakai Naya.
"Oh ya? Cuma kolega, ya?''
Seringai Bella makin terlihat menyeramkan. Gegas dia berjalan hendak menuju tangga, tapi Jordan dengan sigap menghalang dengan membentangkan kedua belah tangan.
"Nona Bella mau ke mana? Nona tidak diperkenankan naik ke atas!" Jordan berkata tegas. Dia tampak gelisah dan gelagat itu membuat Bella yakin kalau gadis yang mengintip di sana adalah alasan kenapa Mike membuangnya.
"Kalau dia bukan siapa-siapa biarkan aku ke sana, Jordan," balas Bella tak kalah ngotot.
Jordan menggeleng tegas. "Pulanglah, Nona. Jangan ganggu di—"
Belum selesai perkataan Jordan, Bella telah lebih dulu menepis tangannya dan dengan cepat berlari menaiki tangga.
Beruntungnya Jordan dengan sigap meraih pinggang wanita itu dan membawanya kembali turun ke lantai dasar. Hanya dengan sekali lirikan, beberapa pengawal yang berjaga di sana sudah bisa mengamankan Bella. Wanita itu tentu saja menjerit histeris minta dilepaskan.
"Brengsek kalian! Lepas gak! Atau aku tuntut kalian!" hardik Bella.
Dua pria tambun yang mengunci pergerakan Bella bergeming. Mereka makin menahan gadis itu.
Jordan mendekati Bella, lantas berkata, "Maaf Nona. Sebenarnya saya tidak ingin begini. Tapi karena Nona yang menginginkannya terpaksa saya lakukan. Ingat, status Nona sekarang bukan siapa-siapa. Nona sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Tuan Muda Mike."
"Brengsek kamu Jordan! Lepasin gak!" Bela meronta-ronta, tapi tetap kalah tanaga. Pakaian cantik nan mahal yang membalut badan sudah tidak ada unsur estetikanya lagi. Rambut yang tadinya tergerai indah kini sudah kelihatan acak-acakan. Nyalang Bella menatap Jordan yang memasukkan kedua belah tangan ke saku celana.
"Kenapa? Aku benar, 'kan? Gadis kecil di atas itu simpanan barunya Mike. Iya, 'kan?" Bella berkata lalu melihat Naya yang meringkuk di balik pembatas pagar. Dia menyeringai lantas melihat kembali Jordan dan tanpa bersalah meludah. Hampir mengenai sepatu Jordan.
__ADS_1
"Kalian benar-benar gila. Apa kamu gak liat, dia terlalu kecil!" Teriakan Bella membuat Naya yang ada di lantai atas makin memeluk kakinya. Sementara Dina yang berada di dapur menyeringai licik.
"Anda salah sangka," balas Jordan. "Umurnya sudah mencukupi dan sudah dewasa menurut negara. Hanya tubuh saja yang terlihat kecil."
"Tapi tetep aja gila! Apa ada masalah dengan otak Mike? Dia beneran gak waras, ya? Kenapa seleranya sekarang berubah drastis? Kampungan!" umpat Bella. Dia tak peduli dan ingin sekali lepas agar bisa menghajar Naya. Sangat ingin melampiaskan kekesalan pada gadis muda yang ketakutan di atas sana.
Jordan lagi-lagi bergeming. Dia menatap Bella lalu menyeringai.
"Tapi apa Nona tau, tubuh kecil dan polos begitu sekarang jadi kesenangannya Tuan Muda Mike, loh."
"Apa? Apa dia gila? Apa bagusnya gadis itu?"
"Kalau itu saya tidak bisa berkomentar. Itu terserah Tuan Muda Mike. Apa pun yang dia inginkan akan kami lakukan. Perintahnya akan kami jalankan. Dan Nona tidak boleh mencelakai dia."
Bella melongo, sungguh dia ingin sekali memukul Jordan. Tapi apa daya dia hanya bisa meronta tanpa tahu kapan dilepaskan.
Bela terdiam. Dia jadi merinding dan tidak meronta lagi. Dia tahu Mike dan sepak terjangnya. Mike meski terlihat tenang sebenarnya bukanlah orang dermawan. Nyalang matanya menatap Jordan.
"Lagipula ini sudah seharusnya. Putus, bukankah itu sudah ada dalam kontrak? Anda tidak berhak meminta lebih," lanjut Jordan.
"Tapi aku mencintainya ... aku gak rela ini berakhir," ucap Bella dengan bibir merah merona yang terlihat bergetar. Air matanya mendadak meluruh banyak.
"Cinta?" Jordan terkekeh meremehkan. "Jangan berakting. Percuma juga menangis di depan saya. Saya tahu semua yang Nona lakukan di belakang Tuan Muda Mike. Dan beliau juga tahu segalanya. Tapi karena terlalu baik hati Tuan Muda membiarkan Nona membohonginya beberapa bulan ini."
Bella menelan ludah. "Apa maksud kamu? Aku gak pernah berbohong," balas Bella. Dia gemetaran.
"Oh ya? Gak pernah bohong, ya? Apa perlu saya ingatkan kalau Nona juga sebenarnya jadi wanitanya Abimanyu?"
__ADS_1
"Abimanyu?" ulang Bella, wajahnya pias seketika.
"Ya, Abimanyu. Dia fotografer Anda. Jadi sebelum Tuan Muda ambil tindakan ekstrim, lebih baik Nona pergi dengan tenang. Tutup mulut rapat-rapat dan jalani hidup dengan semestinya," tegas Jordan.
Bella menggelengkan kepala. Air matanya makin banyak. Dia panik saat kedua lengan di angkat paksa.
"Gak, gak, itu gak bener. Itu fitnah, Jordan. Itu bohong. Aku hanya cinta sama Mike. Dia ...."
Jordan gak lagi mendengar teriakan Bella. Wanita itu sudah digotong para bodyguard menuju pintu keluar. Mereka melempar gadis itu tanpa iba.
Bella merintih. Harga dirinya terluka makin parah. Belum lagi lutut yang juga tergores karena terjatuh.
"Dasar gadis jalangg. Aku pasti bakalan bales kamu. Aku gak terima dipermalukan kayak gini," geram Bella.
Tiba-tiba tampak sepasang kaki berada di depan mata. Sontak Bella mendongak.
"Nona, Nona gak apa-apa?" tanya si pemilik sepatu seraya mengulurkan tangan.
Namun, Bella yang sudah kadung kesal menepis tangan terulur itu lantas berdiri sendiri. Dia berdengkus.
"Pembantu tau apa? Pergi sana!" sentak Bella. Arogan.
Sayang, bukannya pergi si pemilik tangan justru menyeringai. Dia menatap Bella yang masih saja melihat pintu rumah Mike yang sudah tertutup.
"Nona, apa Nona mau balas dendam? Kalau iya, saya Dian akan membantu dengan senang hati."
Bella terdiam, dia menatap menyeledik gadis yang ada di sebelahnya, beberapa detik kemudian tersenyum ambigu.
__ADS_1