Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Lihatlah adegan panas itu.


__ADS_3

Mike tersenyum melihat Naya. Dia speechless karena benar-benar tidak bisa menebak apa isi kepala gadis itu. Bagaimana tidak? Malam ini selain rela berpenampilan liar—gaun malam selutut hitam tanpa kerah dan lengan, dandanannya juga bisa dikatakan mencolok—Naya juga sudah berani kurang ajar. Ekspresinya jelas-jelas menunjukkan ketakutan. Anehnya sorot mata justru terlihat menantang. Teruntuk bibir, begitu tenang memanggil dengan santai.


Mike menyeringai. Kata aku dan kamu yang keluar dari bibir tipis Naya entah kenapa terdengar begitu romantis di telinga. Tidak ada lagi kata tuan dan ketakutan dari sorot mata gadis itu.


'Hmm ... menarik.' Mike membatin, kemudian dia melangkah lebih dekat. "Apa kamu beneran mau tau?" ulangnya.


"Ya, aku mau tau," sahut Naya sembari memundurkan langkah. Sialnya tak bisa bergerak lagi karena sudah membentur sisi ranjang.


Nanar Naya menatap Mike yang begitu dekat dengannya. "Apa kamu yang bunuh Bella? Apa itu semua karena dia ...."


Dup-dup-dup-dup.


Jantung Naya bertabuh makin gila sebab Mike dengan santai mendorongnya hingga terduduk di ranjang.

__ADS_1


"Mau apa?" tanya Naya lagi. Dia mulai gemetaran. Lekat matanya menatap Mike yang hanya berjarak beberapa senti saja. Sementara tangan begitu erat menggenggam seprai. Entah ke mana perginya keberanian yang tadi memberinya dorongan untuk bersikap kurang ajar.


"Tentu saja mau jawab," bisik Mike.


Berdiri, semua buku kuduk Naya berdiri. Mike lagi-lagi membuatnya mendapatkan senam jantung.


Hening. Naya yang sudah mematung hanya bisa mengerjap, lantas memalingkan wajah. Membiarkan Mike membelai pipinya dengan telunjuk dan sedetik kemudian membuat mata mereka kembali bersitatap. Mike memegang dagunya.


"Kalau aku bilang bukan aku yang bunuh dia apa kamu percaya?" bisik Mike lagi. Dia menyapu wajah ayu Naya dengan pandangan berhasrat.


"Kalau aku bilang itu murni kecelakaan apa kamu bakalan percaya?" timpal Mike yang terdengar semakin ambigu.


Naya menelan ludah. 'Aneh, jawaban macam apa itu? Aku yang bertanya kenapa sekarang aku yang ditanya?' batin Naya, dia berdengkus kecil lantas menepis tangan Mike dari dagunya.

__ADS_1


Alih-alih marah Mike justru terbahak karena gelagat agak kurang ajar yang Naya tunjukkan. Dia membenarkan posisi lalu duduk di sisi ranjang—tepat di sebelah Naya.


"Tapi kenapa bisa gak ada satu pun berita tentang kecelakaannya? Dia model top. Mustahil ...."


Lidah Naya kelu. Dia melihat dengan kedua bola mata sendiri kalau Mike dengan pasti membuka jas dan kemeja hingga hanya menyisakan celana panjang saja.


"Mau ngapain?" tanya Naya. Dia seketika menggeser tubuhnya agar menjauh. Namun lagi-lagi direspon Mike dengan gelak tawa. Pria itu bahkan dengan santai meraih remot TV dan memencetnya.


Dup-dup-dup-dup.


Lagi, Naya mendapat senam jantung dadakan saat TV menyala. Lagipula siapa yang tidak shock saat mata tak sengaja melihat sebuah adegan panas yang terpampang di sana. Refleks Naya menundukkan pandangan.


"Lihatlah!" titah Mike.

__ADS_1


Namun, Naya mengabaikan dan masih menunduk sembari memijit jemari tangan yang mulai kaku. Dia baru ingat kalau sekarang memang masanya dia menyerahkan semua kepada Mike.


"Jangan malu. Lihat itu dan belajarlah. Sebentar lagi kita akan beradegan sama seperti itu," lanjut Mike. Dia menarik sebelah bibir.


__ADS_2