Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Mantap.


__ADS_3

"Nona. Tolong jangan begini."


Naya tersenyum lagi, ekspresi Ken berubah drastis hari ini. Biasanya pria itu akan memasang wajah datar, tak ada ekspresi sedikitpun selain penegasan tanpa bantahan.


Sekarang dia melihat sisi lain dari Ken. Ternyata pria yang dianggap bagai batu itu nyatanya penuh perasaan, penuh perhatian dan begitu peduli padanya.


Sayangnya Naya sudah membulatkan tekad. Dia akan menerima nasib dan pasrah jika harus menjadi mainan atau simpanan pria hidung belang.


"Nona, tolong pikirkan lagi," bujuk Ken.


Naya menggeleng, dia asyik mengecek beberapa lembar uang berwarna merah, lantas memasukkan dalam saku celana.


"Sekarang aku izin, ya, Kak. Aku mau ngelakuin apa pun hari ini. Aku mau jalan-jalan sendirian. Aku mau menikmati hari terakhirku sebagai Naya."


''Nona ...."


Naya menggeleng. "Tolong jangan pengaruhi aku lagi, Kak. Aku udah mantap. Aku akan terima apa pun takdirku."


Ken habisan kata, dia mendesah frustasi dan menyugar kasar rambutnya sendiri. "Kalau begitu izinkan saya menemani Nona."


"Nggak, Kak. Aku mau sendiri."

__ADS_1


"Tapi ...."


"Tolong, Kak. Hargai keputusanku."


Ken menghela napas berat. "Baiklah, saya tidak akan melakukan itu."


"Oh iya, jam berapa pertemuannya?" tanya Naya.


"Jam tujuh malam ini."


Naya melihat jam dinding. "Sekarang masih jam sembilan pagi. Aku janji bakalan balik sebelum  makan malam."


Ken menunduk lesu.


Ken mengangkat kepala. "Katakan, apapun itu bakalan saya lakukan."


"Tolong mulai saat ini, detik ini juga perlakukan aku kayak temen. Aku nggak suka karena Kak Ken bersikap terlalu formal. Aku seneng dekat Kak Ken. Tapi cara Kak Ken mandang aku, terus cara Kak Ken ngomong ke aku rasanya membuat jarak kita begitu jauh."


"Tapi Nona ...."


"Panggil aku Naya, Kak."

__ADS_1


Ken mendesah, dia tatap lekat wajah tenang Naya. Tanpa bisa mengendalikan diri dia justru memeluk tubuh Naya dan memeluknya sangat erat. Tentu saja perlakuan itu membuat Naya terkesiap, jantungnya kembali berulah. Yang jelas bukan marah tapi mengarah ke lain hal.


"Kak Ken ...."


Dalam pelukan Ken Naya bisa merasakan pipinya sudah menghangat. Dia juga bisa mendengar tabuhan dalam dada Ken yang begitu menggila, sama gilanya dengan detak jantungnya.


"Maafkan aku, Naya. Aku harap kamu berubah pikiran. Pergilah, pergi yang jauh. Jangan balik lagi ke sini."


Untuk pertama kalinya Ken berkata setulus dan selembut itu sampai-sampai Naya tak bisa menyembunyikan haru. Dia peluk erat tubuh tegap Ken seraya menyembunyikan ketakutan.


Takut, ya Naya merasakan itu. Siapa yang bisa tenang saat menghadapi situasi sepertinya kini. Namun dia sadar, sekuat apa pun meronta pada dunia dia tidak akan bisa menang.


Mau pergi? Pergi ke mana? Dia tidak punya rumah dan tidak ada tujuan. Kenalan juga tidak punya. Siapa yang mau dekat dengan gadis lusuh yang tidak punya keluarga?


Tapi anehnya, di saat-saat terakhir khususnya sekarang dia merasakan mendapat keluarga lagi selain sang nenek yang sudah meninggal.


Ken, pria itu memberinya kehangatan dan perlindungan. Jadi dia tidak tega untuk menyelamatkan diri sendiri dan membahayakan orang lain.


Naya melepaskan pelukan, menghapus air matanya lalu mundur beberapa langkah. Dengan seulas senyum di bibir dia pun melambaikan tangan pada Ken. "Aku pergi ya, Kak. Sebelum makan malam aku pasti udah pulang."


Tanpa mau menunggu jawaban Ken Naya pun berlalu pergi. Dia tersenyum tapi dalam senyuman ada kegetiran yang tak akan bisa dia jelaskan pada orang lain.

__ADS_1


Jujur, dia takut takut Mike. Pria yang kata Ken akan membelinya.


__ADS_2