
"Kenapa?" tanya Ken saat Naya memperhatikan tanpa berkedip.
"Kak Ken, bisa antar aku ke rumah sakit?"
"Kenapa? Apa ada yang salah? Apa ayah kamu ...."
"Dia sadar," potong Naya.
Lagi, Ken keheranan. Jika Burhan sadar bukankah seharusnya Naya bahagia. Ini kenapa mukanya biasa saja?
Ken mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ketimbang Naya justru dia yang tak sabar ingin bertemu Burhan. Orang baik yang dia anggap sebagai ayah sendiri. Sungguh, senyum Ken terukir tanpa sempat Naya lihat.
***
Naya melongo. Dia melihat tanpa berkedip pria beruban yang sedang duduk di kursi roda.
Burhan, sang ayah ternyata sudah sadar, tapi sayangnya memiliki kelainan dan penurunan fungsi otak. Burhan tak bisa bergerak, juga tak bisa bicara. Hanya mata yang bisa mengerjap.
__ADS_1
Mendengar pernyataan dokter membuat Naya bungkam. Total. Dia tak tahu harus apa. Haruskan senang saat ayah biologis sadar? Ataukah sedih kerena orang itu sama saja tidak bisa apa-apa?
Entahlah, Naya bingung. Yang jelas mau sedih atau bahagia dia tidak bisa merasakan Keduanya, karena memang mereka tidak sedekat itu. Naya merasa Burhan masihlah orang asing.
"Baiklah, Dok. Saya serahkan semuanya sama Dokter. Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya," ucap Naya sembari mengulurkan tangan.
Dokter dan suster di sana terbengong keheranan. Bagaimana tidak, sama sekali tidak ada ekspresi yang dapat di tangkap.
Si dokter pun menyambut tangan Naya. Dia juga mengantar Naya dan Ken sampai pintu.
"Naya, aku anter pulang, ya?" ujar Ken sembari mensejajarkan dirinya dengan Naya.
"Kenapa?" tanya Naya. Dia keluar dari mobil.
"Bannya kempes," sahut Ken. Dia terlihat gusar. "Aku anter pake taksi ya?"
Naya menggeleng pelan, lantas berkata, "Gak perlu Kak. Aku bisa sendiri. Lagian aku lagi gak enak badan. Mau langsung pulang."
__ADS_1
"Tapi ...."
"Aku beneran bisa sendiri. Kak Ken juga harusnya jangan kelelahan. Aku pergi, ya."
Ken tak bisa berkata lagi. Sebenarnya dia masih rindu Naya. Ingin berbicara dan sebagainya. Namun ... gadis itu sudha hilang dari pandangan.
Ken menghela napas frustrasi. Dia rogoh saku celana—mengambil ponsel—dan menempelkan benda pipih itu ke telinga. "Sean, ban mobil kamu kempes. Semuanya."
Sepeninggal Naya, si dokter pun mulai memeriksa keadaan Burhan lagi. Setelah selesai dia memerintahkan kedua asisten untuk kembali mengantar Burhan ke kamar.
"Eh eh ... itu cewek kan kalau gak salah yang pernah viral itu kan ya? Yang suaminya kena tembak pas malam resepsi," bisik satu asisten.
Asisten dua mengangguk. "Iya, aku juga tadi mikirnya begitu. Tapi mukanya gitu amat, ya. Udah mirip kayak psikopat gak sih? Kok nyeremin ya?"
"Ho oh. Tapi ngomong-ngomong suaminya itu beneran meninggal gak sih? Soalnya kan yang viral itu pas penembakan aja. Kejadiannya terekam CCTV dan tersebar. Walaupun sudah dihapus aku sempet liat gimana tu perempuan nangis. Sekarang kok gak ada ekspresi ya? Apa mungkin trauma?"
"Mungkin juga sih. Dan soal suaminya aku juga gak tau. Soalnya gak ada kabar sama sekali. Gak ada info pemakaman atau berobat keluar negeri gitu. Dan satu lagi, dokter yang dulu mengoperasi juga berhenti. Terus direktur rumah sakit juga kayak nutupin gitu. Aku jadi suuzon."
__ADS_1
"Ish kamu. Suaminya itu bukan orang biasa. Ya mana bisa kita tau. Sudahlah. Kita cepat antar bapak ini."
Perdebatan dua asisten itu sukses membuat air mata Burhan meluruh. Sayangnya dia tidak bisa berkata dan juga tidak bisa bergerak.