
Hari demi hari berlalu begitu saja. Tak terasa hari resepsi hanya tersisa seminggu lagi.
Resepsi? Ya, hanya tinggal resepsi karena sebelum keluar dari rumah sakit—dua minggu yang lalu—Mike ternyata sudah merencanakan hal besar jauh-jauh hari. Dia langsung membawa Naya ke kantor urusan agama dan mengesahkan hubungan mereka. Kini, Naya tidak punya alasan untuk pergi lagi.
Mengingat itu Naya kembali menghela napas. Jika dilihat, dirasa dan ditelaah, perlakuan Mike kini jauh lebih lembut dari sebelumnya. Dia memperlakukan Naya bak ratu, tapi tetap saja Naya merasa ada yang mengganjal. Luka itu tertanam begitu dalam. Terekam jelas dalam memori bagaimana Mike menginjak harga dirinya, bagaimana Mike menyiksa dan bagaimana perlakuan binal yang dia terima.
Namun, kembali lagi ke kenyataan—tetap tak bisa apa-apa—karena hanya Mike tempatnya melabuhkan harapan terakhir. Laura, ya dia ingin membuat Laura menderita.
Sekarang, semua orang tetap melakukan tugas seperti biasa. Hanya Mike saja yang tampak bersemangat menunggu hari itu tiba. Tak hanya itu, Mike bahkan terus saja mengganggu dengan dalih merangsaang otak anak dengan musik.
Sembari mendengarkan musik klasik, dia juga akan menempelkan stetoskop ke perut Naya. Terkadang pria yang bisa dikatakan berumur itu berteriak kegirangan ketika mendengar bunyian dari dalam perut Naya. Terlihat menyebalkan dan menggemaskan di saat bersamaan. Padahal belum tentu bunyian itu detak jantung bayi.
"Nona Naya, Nona mau makan apa untuk makan malam nanti?" tanya Mala sesaat setelah Naya menghabiskan susu khusus ibu hamil yang dia buatkan.
Naya menggeleng. Dia letakkan gelas ke nampan Mala lalu berkata, "Terserah Mbak saja. Aku gak masalah dengan makanan apa pun."
Naya sengaja menjeda kata, dia tampak celingukan. Saat merasa situasi aman, dia pun memberi kode pada Mala untuk membungkuk.
"Mbak bisa beliin aku sesuatu?" tanya Naya, dia tampak cengengesan sembari mengurut tengkuk.
Mala yang sudah membungkuk, mengangguk paham.
"Tolong beliin aku es lilin."
Dahi Mala mengerut dan refleks berdiri. "Es lilin?" ulangnya dengan berbisik pula.
Naya mengangguk cepat. "Iya, es lilin. Aku mau es lilin yang dijual tetanggaku dulu. Mbak Mala bisa gak ke sana? Aku mau es lilin buatannya lagi."
"Tapi Nona, nanti Tuan Muda ...."
__ADS_1
"Jangan bilang dia. Nanti dia marah."
"Tapi Nona, itu gak sehat. Nanti ...."
Lagi, belum juga selesai lisan Mala, Naya sudah mengatupkan kedua belah tangan. "Please, Mbak, aku mau es buatan nenek itu."
Mala tak bisa berkata-kata. Dia terpaksa mengiyakan lalu pergi dari sana.
Kini tinggallah Naya yang duduk sendirian di meja makan. Para karyawan sama seperti biasa, tidak ada yang berani berbicara. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing.
Perlahan Naya beranjak dari kursi. Dia berjalan menuju pintu belakang. Sudah lama dia tinggal di sana, dan baru kali ini tergerak ingin berjalan-jalan.
Namun, tiba-tiba saja sesuatu mencuri perhatian. Naya yang mengenakan baju hamil berhenti di depan sebuah pintu yang posisinya lumayan jauh dari dapur.
Seolah-olah dapat dorongan, Naya yang penasaran pun memberanikan diri masuk ke dalam sana. Tentu saja penampakan yang ada di depan jauh dari kata indah. Berbeda sekali dengan ruangan yang ada di rumah itu.
Naya tetap berjalan. Matanya memindai banyaknya kotak yang tersusun di sana. Dia juga sempat beberapa kali bersin karena debu di sana tidaklah main-main.
"I-ini dia?" gumam Naya. Dia melotot melihat foto Mike yang masih mengenakan pakaian SMA. Terlihat tampan, tak banyak perubahan, cuma sekarang terlihat makin matang. Hanya saja tak cuma Mike yang ada di pas foto itu. Di sana terlihat Mike tengah mencium pipi seorang gadis yang juga mengenakan pakaian SMA.
"Apa ini Laras?" gumam Naya lagi. Dia mulai kepo dan melihat banyak potret kemesraan Mike dan Laras.
Sayangnya, itu sama sekali tak mengusik Naya. Dia justru teralihkan dengan foto Mike yang memeluk pinggang seorang ibu-ibu tua.
"Apa dia pengasuh?" gumam Naya lagi.
Entah kenapa Naya makin penasaran. Dia buka kotak yang tak sebegitu besar—mirip peti kayu dengan ukiran batik berwarna keemasan agak kusam.
Di sana ada foto Mike kecil yang tengah berdiri sendirian. Naya tebak itu adalah foto waktu TK. Di sana wajah Mike begitu masam. Tak hanya satu, hampir semua foto yang dia pegang memperlihatkan kalau Mike tengah bersedih.
__ADS_1
Sekarang tangan Naya menegang sebuah buku gambar. Dia buka semua lembar demi lembar. Tak ada gambar lain selalin seorang anak yang terlihat membentangkan tangan, seperti ingin menggapai tangan kedua orang yang ada si sebelahnya, tapi sayangnya tidak sampai.
Tiba-tiba saja air mata Naya menetes. Meski gambar itu hanya terbentuk dari bulatan besar dan tubuh seperti lidi, Naya tau itu pastilah mengisyaratkan kesedihan. Dia paham karena pernah menggambar hal yang sama.
"Apa ini alasan kenapa dulu kamu gak mau nikah?" ujar Naya. Suaranya terdengar samar karena beradu dengan tangisan. Dia peluk erat buku gambar itu.
Tiba-tiba saja suara keributan terdengar dari arah luar. Suara yang Naya hapal betul. Itu suaranya Laura. Ya, Naya yakin itu.
Gegas Naya menghapus air mata, lalu membenarkan semua ke posisi semula. Dengan mantap dia keluar dan mendekati si biang rusuh yang tampak meronta dalam apitan para bodyguard.
"Lepaskan dia," ucap Naya tenang.
Dua bodyguard yang mengunci pergerakan Laura pun menurut. Akan tetapi tetap berjaga.
"Mau apa ke sini?" tanya Naya tanpa ekspresi. Dia bersedekap dan memindai penampilan Laura yang sangat kacau. Dia yakin, Mike pasti sukses melancarkan rencana.
"Mau apa? Mau apa kamu bilang?" Laura berdengkus. Dia yang sudah kadung emosi mendekati Naya dan hendak melayangkan tamparan. Beruntung Naya mencekal tangan itu dengan kuat.
Plak!
Kini Naya yang memberikan tamparan. Laura terbengong. Pipi sakit, tapi mental lebih sakit.
"Beraninya kamu!" hardik Laura.
Alih-alih takut, Naya justru kembali melayangkan tamparan. Tepat, mendarat di tempat yang sama. Mata Laura bahkan makin memerah.
"Dasar jalangg kecil!"
Plak!
__ADS_1
Tampar mendarat lagi. Kini Naya bahkan melepaskan cekalan dan mendorong Laura hingga terduduk dengan kasar.
"Jaga atitud! Apa kamu gak tau kalau akulah nyonya di rumah ini?"