
Happy reading
***
Setelah bisa menenangkan diri Naya pun memutuskan keluar dari tempat dimana Laura di tahan. Nahas, baru saja keluar dari sana dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang juga berjalan ke arahnya. Seorang pria tampan dengan wajah ceria. Pasti banyak yang mengira pria itu adalah playboy tingkat mancanegara yang lagi tebar pesona.
Sean, ya ... itu Sean. Pria bersetelan rapi itu tersenyum ramah sembari menenteng tas laptop. Di sebelah Sean ada seorang gadis cantik yang juga berpenampilan rapi sepertinya.
"Apa kabar? Gak nyangka kita ketemu lagi setelah sekian lama," sapa Sean. Senyumnya masih manis saja.
"Kabarku baik," sahut Naya sekenanya, "kamu apa kabar?"
"Ya begini. Seperti yang kamu liat. Aku ada urusan sama salah satu penghuni di sini," sahut Sean. Dalam senyum dia memindai tampilan Naya. Gadis itu terlihat lebih kuyu padahal usianya masihlah muda.
"Pak, kita gak punya waktu banyak," bisik gadis cantik yang ada di sebelah Sean.
Naya yang mendengar itu tersadar. Dia pun akhirnya berdeham, lantas berkata, "Ya sudah, kalau gitu lanjutin aja. Aku masih ada urusan lain."
Tiba-tiba Sean menghadang. Naya ke kiri dia ikut ke kiri. Naya ke kanan dia juga ikuta ke sana. Tentu saja gelagat kekanakan itu membuat Naya mengembuskan napas kesal.
"Pak, kita gak punya waktu banyak," ucap wanita partner kerja Sean.
__ADS_1
"Gak masalah. Kamu pasti bisa handle klien kita di dalam."
"Tapi kenapa?"
"Karena untuk ketemu wanita ini sama susahnya buat ketemu perdana menteri. Jadi, tolong kamu urus yang di dalam."
"Tapi ...."
"Saya yakin kamu bisa," sahut Sean lagi. Dia bahkan mengedip genit pada gadis itu.
Setelah melalui beberapa menit perdebatan akhirnya Sean bisa mengajak Naya untuk duduk berhadapan di depan sebuah kafe. Keduanya sama-sama terdiam di meja bulat dan ada payung besar menengahi mereka. Sudah dua tahun tidak bertatap muka tentu saja canggungnya luar biasa.
"Kira-kira apa yang buat hubungan kita jadi begini?" tanya Sean tiba-tiba. Dia yang sedari tadi duduk tegak mulai kesal saat menatap Naya yang membuang muka ke arah berbeda. Gadis itu seolah asyik dengan pikirannya sendiri tanpa memedulikan ada Sean di sana
Naya yang sudah melihat Sean tak berekspresi sama sekali. Dia cuma menyesap segelas latte yang sudah tersedia di atas meja.
"Apa gak bisa kamu kembali jadi Naya yang dulu? Aku masih ingat betul pertemuan pertama kita. Kita bahkan berdebat. Apa gak bisa kamu jadi diri sendiri?" cecar Sean lagi.
Naya menghela napas panjang. Dia seperti orang yang kehilangan jiwa. Tatapannya juga tidak menyiratkan apa-apa.
"Kamu tau semua tentangku Sean. Semuanya. Jadi untuk apa aku menjelaskan lagi," sahut Naya datar. Dia pelintir cincin berlian yang masih tersemat di jari. Cincin mas kawin dari Mike.
__ADS_1
"Tapi Naya, apa gak bisa? Cobalah usaha. Aku selalu mengawasimu dua tahun ini. Dan satu yang aku simpulkan. Kamu banyak berubah."
"Bukannya perubahan itu baik Sean."
Sean mengusap wajah. "Naya, ayolah ...."
"Sudahlah, aku rasa gak ada hal penting yang harus kita bicarakan lagi. Jadi aku permisi," potong Naya. Dia sudah melingkarkan tas ke tubuhnya.
"Naya!" panggil Sean agak nyaring.
Naya tentulah berhenti. Namun tak ada niatan membalik diri.
"Apa kamu gak keterlaluan dengan diri sendiri? Cobalah Terima kenyataan. Berdamailah dengan keadaan. Aku yakin semuanya akan berbeda."
Menghela napas panjang, Naya kembali menggenggam tali tas yang menyilang di dada. Dia memutuskan melangkah tapi Sean kembali menyeru namanya.
Naya kembali berhenti. Hatinya mulai berulah. Dia takut jika berlama-lama di sana dia akan semakin emosional.
"Apa kamu masih gak mau tau kabar Ken?" teriak Sean.
Ajaib nama Ken sukses membuat pandangan Naya terpecah. Dadanya mulai sesak.
__ADS_1
"Apa kamu masih gak mau tau apa yang terjadi dua tahun lalu?"