
"Dasar bodoh! Tololl! Gak guna! Pergi dan cari dia sampai ketemu!" umpat Mike setelah memberi tendangan ke tulang kering empat bodyguard yang berdiri sigap di depannya. Mereka jelas meringis, tapi memilih tetap berdiri tegak.
"Pokoknya saya mau kalian cari dia sampai ketemu. Mau hidup atau mati kalian harus dapatkan wanita itu. Harus!" lanjut Mike lagi dengan suara makin keras. Dia yang masih berada di teras mengendurkan dasi, lantas melewati Jordan dan masuk mobil.
Sembari memasang sabuk pengaman, dia pandangi Jordan tak kalah garang. "Yang di internet hapus segera. Dan kerahkan orang kita buat cari Laras. Jangan sampai dia lolos lagi!"
Jordan menunduk patuh. Saat Mike sudah hilang ditelan pagar dia langsung mengerahkan banyak bodyguard untuk mengikuti empat pria tadi. Sementara dirinya memilih masuk ke dalam mobil pribadi dan pergi dari sana.
Teruntuk Mike, dia mengumpat berkali-kali. Semua karena Laras, gadis itu mengusiknya lagi, bahkan semakin menggila. Padahal semalam dia lega karena mendengar orang suruhan sudah mendapatkan Laras. Mereka menyekap Laras di villa yang ada di puncak. Namun, karena tengah malam dia memutuskan menemani Naya dan akan ke sana setelah sarapan.
Namun, semua tidak sesuai rencana. Laras sukses kabur. Tak hanya itu, dia juga menyebarkan ujaran kebencian di sosial media pada Mike beserta bukti betapa dekatnya mereka dulu.
Sukses besar rencana Laras itu. Hanya beberapa paragraf—mengisahkan kesedihan mendalam—dan beberapa foto kedekatan mereka, semua pemegang saham di perusahaan induk milik Abraham grup jadi kalut. Mereka mempertanyakan moral Mike. Bahkan proyek masa depan Mike jadi berantakan karena rumor itu. Tak hanya itu, banyak klien mengundurkan diri dari kesepakatan awal dan rela membayar pinalti.
"Laras! Kamu benar-benar nekat. Jangan pikir karena kita pernah dekat aku bakalan maafin kamu?" Mike terkekeh ironi. Dia kendurkan lagi dasi yang serasa mencekik, lantas kembali berkata, "Gak bakalan. Aku bukan orang dermawan. Ingat itu!"
Satu jam
Dua jam.
Tiga jam.
Waktu berlalu begitu saja. Mega pun sudah berubah pekat dan hitam. Meskipun demikian Mike dan Jordan tidak kelihatan batang hidungnya.
Oleh sebab itulah entah kenapa Naya yang berada di kamar menjadi gelisah. Dia beberapa kali mendongak melihat CCTV. Biasanya meski sibuk Mike akan menyempatkan mengganggunya. Hp bahkan sering Naya ubah ke mode silent saking banyak pesan yang masuk.
Dari kata jangan berlari, tiduran jangan tiarap, jangan makan pedas dan lain-lain. Pria itu selalu berkomentar yang tidak-tidak dan tak segan menelepon sekedar mengingatkan 'jangan memakai celana jeans', dengan suara nyaring.
Terlihat sangat senggang, bukan? Apa tidak malu berteriak begitu ketika di kantor?
Anehnya hari ini satu pun tidak ada pesan masuk. Terlalu sibuk kah? Atau memang sedang menyusun rencana besar?
"Apa dia benar-benar sibuk?" gumam Naya entah sudah ke berapa kali. Dia kembali mendongak melihat CCTV yang terpasang.
__ADS_1
Tiba-tiba saja bunyian dari pintu mengagetkan Naya.
"Nona, ini saya, Mala. Nona belum makan malam. Apa mau saya antar ke kamar saja makanannya?"
"Gak usah, Mbak. Nanti kalau aku lapar pasti turun. Mbak Mala istirahat aja. Yang lain juga. Aku bisa sendiri."
"Tapi Nona, ini sudah hampir jam sembilan malam."
"Aku nggak apa-apa, Mbak. Nanti aku bisa sendiri. Lagian tadi sore juga udah makan. Sekarang masih kenyang."
Hening, tak ada lagi suara dari balik pintu. Naya yang tengah bersandar di ranjang dan memegang majalah pun memutuskan untuk berbaring.
Sayang, baru beberapa detik kepala menyentuh bantal, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari balik pintu.
"Aku beneran belum lapar, Mbak," terang Naya dengan intonasi sedikit berbeda.
Aneh, pintu yang memang tertutup tiba-tiba berderit. Naya yang penasaran seketika membenarkan posisi. Matanya terbelalak saat melihat seorang wanita berpakaian pelayan mendekat.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" tanya Naya, dia mulai waspada.
"Kenapa? Takut, ya?" tanya Laras balik. Dia mendekat dengan kantong kresek hitam. "Tentu saja dengan berjalan. Gak mungkin dengan merangkak."
Laras menjeda kata. Dia edarkan pandangan, sedetik kemudian dia menyeringai saat melihat CCTV yang ada di sana. "Kira-kira dia ngeliatin kita gak, sih?" tanyanya lagi sembari melambaikan tangan.
Naya terbengong, tapi tidak untuk Laras, dia menyeringai lagi. "Ternyata rumah ini gak berubah sama sekali. Bahkan letak CCTV-nya pun masih sama," ujarnya sembari memasang sarung tangan.
Setelah itu dia pun mengeluarkan pisau lipat dari kantong. "Kamu gak masalah kan kalau kita main sebentar?" tanyanya lagi.
Naya yang panik ingin berteriak, tapi tak terealisasikan karena Laras sudah menodongkan pisau.
"Jangan coba-coba teriak," ujar Laras. Dia menyeringai.
"Apa mau kamu?" balas Naya. Dia sedikit mendongak. Kaki dan tangan sudah membeku. Senjata tajam itu hanya berjarak beberapa senti saja dari leher.
__ADS_1
Gleg!
Naya menelan ludah kasar. Matanya bergerak liar menatap Laras yang juga menatapnya.
"Aku gak mau apa-apa. Aku juga gak punya apa-apa sekarang. Aku cuma mau bersenang-senang sama sama wanita kesayangan Mike. Itu aja, kok. Boleh, 'kan?"
Lagi, Naya menelan ludah. Dia bahkan menahan napas saat Laras menggerakkan pisau itu ke pelipisnya. Sumpah, dia masih trauma dengan yang namanya senjata tajam jenis itu.
Laras tiba-tiba berdecih. Nyalang matanya melihat Naya. "Aku heran, apa yang diliat Mike dari kamu. Kamu terlalu muda. Kamu pendek dan gak good looking sama sekali. Kamu standar."
"Tolong turunkan pisau ini. Kita bisa ngomong baik-baik," balas Naya. Namun, direspon Laras dengan gelak tawa. Sedetik kemudian dia layangkan tamparan hingga membuat Naya terjerembab di ranjang.
Naya meringis. Kulit pipi serasa panas dan perih. Nanar dia menatap Laras yang mengeluarkan sesuatu dari kantong.
"Tali?" ujar Naya pelan.
"Asal kamu tau, kedatangan aku ke sini bukan buat bicara. Aku gak butuh bicara. Aku cuma mau menyaksikan. Menyaksikan Mike menderita. Dan cara satu-satunya adalah kamu," terang Laras.
Naya menggelengkan kepalanya. Dia mencoba berlari, tapi Laras dengan cepat menarik dan mengunci pergerakan dengan cara mengikat dengan tali. Setelah selesai dia tarik Naya hingga mereka kembali berhadapan. Tak hanya itu, dia bahkan menuntun Naya duduk di sisi ranjang.
"Kamu mau ke mana? Bukannya ini rumah kalian? Tenang saja dulu. Nanti setelah puas bermain kamu pasti aku lepasin, oke," ucapnya sembari merapikan rambut Naya yang berantakan.
Naya meronta, tapi jelas percuma. Kini tangannya sudah terikat tali ke belakang.
"Apa kamu kira kamu bakalan menang?" sentak Naya. Dia takut, tapi mencoba memberanikan diri. Dia ingat perkataan Mike, jika tengah mengalami hal buruk jalan satu-satunya adalah mengulur waktu sampai bantuan datang.
"Kamu gak bakalan bisa. Dia Mike. Dia selalu menang," lanjut Naya menggebu-gebu.
Alih-alih marah, Laras justru terbahak. Sorot matanya menunjukkan ketidaksenangan.
"Asal kamu tau saja. Mike itu sebenarnya udah kalah. Saat dia melindungi perempuan, saat itulah dia lemah. Dan aku ... aku cuma mau lihat momen dia merangkak demi nyelametin kamu. Bagaimana? Aku yakin kamu juga penasaran kan sebenarnya. Kamu juga pasti penasaran Mike itu manusia seperti apa. Iya, 'kan?"
Laras menjeda kata lagi. Matanya tertuju ke perut Naya. "Oiya, aku denger kalau kamu lagi hamil."
__ADS_1