
Ternyata Ken memulai kelas kepribadian. Naya disuruh menyeimbangkan tubuh dengan berlenggak-lenggok menggunakan heels, tak lupa beberapa buku disusun di atas kepala gadis itu.
Meski masih bingung, Naya tetap melakukan perintah Ken tanpa protes. Dia bahkan beberapa kali terjatuh tapi tetap mencoba. Entah apa motif Ken dan Laura memaksanya demikian? Hanya saja Naya sudah terlanjur nyaman bersama Ken yang usia mereka terpaut sepuluh tahun. Dia merasa Ken lebih baik dari Laura.
"Kerja bagus Nona," ucap Ken sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin.
Naya yang sedang tersandar tak berdaya di sofa langsung membenarkan posisi. Dia ambil botol yang sudah dibuka tutupnya oleh Ken dan meminumnya hampir setengah. Tenaganya terkuras habis untuk berjalan. Sekarang dia menyadari ternyata lelah saat bekerja di minimarket tak sebanding dengan apa yang dilakukannya hari ini.
"Nona Naya mau makan malam apa? Mau saya masakin atau kita makan di luar?" tanya Ken yang masih berdiri.
Seketika wajah lelah Naya berubah drastis. Gadis itu berdiri tegak dan tampak antusias. "Apa aku boleh keluar?" tanyanya balik.
__ADS_1
Alis Ken tertaut. Dia mencoba untuk berpikir keras sebelum akhirnya membulatkan mata. Sekarang dia paham apa maksud pertanyaan Naya.
"Tentu saja, Nona. Saya bukan penculik. Saya cuma bawahan. Dan saya juga nggak ada niatan untuk mengurung Nona di sini. Saya hanya memperingati kalau Nona tidak boleh kabur. Itu saja," papar Ken.
Naya semakin antusias. Dia berlari menuju kamar dan membawa sweater ketika keluar dari sana. Matanya berbinar kala melihat Ken. "Ayo, Kak. Aku siap. Aku mau kita makan di luar. Belikan aku makanan yang enak."
Ken mengiyakan. Keduanya keluar apartemen dan pergi bersama menelusuri jalanan yang mulai gelap. Naya yang memang sejatinya jarang jalan-jalan kala malam hanya mengerjap takjub melihat lampu jalanan serta bangunan-bangunan tinggi yang seakan menembus langit. Naya berdecak, pandangan Jakarta kala malam lumayan indah terlepas dari kebisingan dan kemacetan. Sekarang dia bisa menikmati keindahan itu tanpa memikirkan apa besok bisa tetap makan.
"Kenapa Nona? Apa ada yang salah?" tanya Ken karena sempat mendengar ******* itu.
Naya menoleh, lantas menggeleng. "Nggak kok. Aku cuma teringat sama nenek."
__ADS_1
Ken tak menyahut. Matanya kembali fokus melihat jalanan sebelum bunyian dalam saku celana mengagetkan.
"Saya tinggal sebentar, ya. Saya mau angkat telepon dulu," ucap Ken setelah menepikan mobil. Pria itu keluar dan tampak menjawab telepon. Naya hanya memperhatikan dari kaca spion. Pria itu terlihat sedikit gelisah hingga membuat Naya bertanya-tanya dalam benak, kira-kira masalah apa yang tengah Ken hadapi?
Perjalanan kembali berlanjut dan tujuan mereka adalah sebuah mall. Keduanya sudah duduk saling berhadapan. Naya begitu menikmati sandwich sedangkan Ken hanya duduk dan memperhatikan ponsel yang ada di tangan. Samar-samar Naya dapat menangkap kekhawatiran di wajah Ken.
"Kak Ken gak makan?" tanya Naya setelah menyeruput sedikit minuman bersoda yang ada di hadapan. Matanya menyelidik gelagat Ken yang sedikit aneh.
Ken menggeleng, masukkan ponsel ke dalam saku jaket dan menjawab, "Saya belum lapar?"
Naya manggut-manggut dan kembali nikmati makanan sebelum akhirnya sebuah cekalan dari samping sukses membuat gadis itu berdiri. Tampak seorang wanita dewasa berpenampilan glamor—gaun mewah berbalut mantel bulu—tengah menatapnya nyalang.
__ADS_1