Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Bidadari tanpa baju


__ADS_3

'Apa mungkin orang ini mau bikin aku jadi bidadari tanpa baju yang layak?' batin Naya dongkol.


Dia terus berdengkus dalam langkah. Mengutuk pria yang ada di depannya. Pria yang terus saja memerintah tanpa bertanya apa pendapat orang lain.


"Naya, sini!"


"Naya, cepetan!"


"Coba ini!"


"Nggak bagus!"


"Cocok. Kamu cantik. Bungkus."


"Ya sudah, ambil semuanya."


Itulah kata-kata yang hampir satu jam Naya dengar. Dia tak berkomentar apa pun dan hanya menuruti apa yang Mike mau. Sampai-sampai tangan kiri dan kanan sudah penuh belanjaan. Begitu juga Jordan yang juga kewalahan membawa semua pakaian yang Naya sendiri tidak tahu kapan dan apa bisa memakai pakaian yang kebanyakan kekurangan bahan?


Naya mendesah. Dia kelelahan tapi tetap berjalan di belakang Mike.


"Apa ada lagi yang mau kamu beli?" tanya Mike.


Tanpa permisi Mike membalik badan hingga Naya yang tak siap jadi menabrak tubuhnya.

__ADS_1


"Apa ada yang mau kamu beli?" ulang Mike datar. "Kalau ada cepat pilih, saya tunggu."


Cepat-cepat Naya menggeleng, matanya bergerak liar menahan gugup sembari menggenggam erat barang bawaan.


Mike yang melihat gelagat menggemaskan itu tak mau kehilangan kesempatan. Dia mendekat dan mencondongkan badan. Tentunya gelagat mesum itu refleks Naya hindari.


Nanar mata Naya melihat Mike yang hanya berjarak beberapa senti saja. "T-tuan mau apa ya?" tanyanya.


Hening, Mike tak menyahut, pria itu sibuk menyapu wajah Naya yang ayu dengan pandangan mesum.


Naya yang gelisah mulai resah. Dia dorong dada Mike tapi sayangnya Mike tak bergerak sama sekali.


'Kenapa dia? Dia nggak mungkin mau nyium aku di sini, 'kan?' batin Naya.


Tiba-tiba saja Mike tergelak. Dia ketuk dahi Naya hingga Naya kembali menautkan alis, keheranan.


"Kamu jangan mikir yang macam-macam. Ayo kita pulang, saya masih banyak pekerjaan," ujar Mike setelah bisa meredam tawa. Dia membalik badan dan kembali berjalan.


Sementara Naya lagi-lagi hanya bisa berdengkus. Perlakuan Mike dan perkataannya barusan seolah-olah mengatakan kalau Naya yang mesum.


''Nyebelin banget sih dia. Kalau masih banyak kerjaan ngapain juga maksa datang. Padahal dia sendiri yang ngajakin belanja."


Naya bersungut, matanya berputar malas sehingga Jordan yang melihat ekspresi itu tidak tahan untuk tidak tersenyum.

__ADS_1


Ketika ketiganya berdiri di eskalator—hendak menuju pintu keluar—tiba-tiba ponsel Mike yang ada di saku bergetar.


Hening, Naya tak menyahut. Dia yang berada di belakang Mike diam tanpa kata. Sementara Mike, sesekali meliriknya.


"Jordan, bawa m Naya ke parkiran. Tunggu saya di sana," perintahnya ketika mereka sudah sampai di lantai dasar mall.


Jordan mengangguk patuh. Seperti biasa dia persilakan Naya berjalan lebih dulu dan mengikutinya tanpa bersuara.


Tidak berapa lama tibalah mereka ke parkiran. Namun, lagi-lagi ada yang berdering dan itu berasal dari ponsel Jordan.


"Nona, Anda masuk lebih dulu. Saya mau mengangkat telepon," ujar Jordan setelah membukakan pintu mobil untuk Naya.


Naya mengangguk, lantas menyandarkan punggung yang lelah ke sandaran kursi dengan mata yang terpejam. Begitu lelahnya hari ini sehingga dia tidak menyadari ada yang mendekat dan membuka pintu.


"Siapa kamu?"


Mata Naya melotot saat melihat seorang pria berpakaian serba hitam dan bertopi masuk dan duduk di sebelahnya. Dia ingin segera pergi tapi tangan sudah dicekal dengan kuat oleh pria itu


"Diamlah! Jangan berisik!"


'T-tunggu dulu, suara ini familiar.'


jejak jmpolnya jgn lupa. hehe

__ADS_1


__ADS_2