Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Pelajaran pertama


__ADS_3

Menit demi menit berlalu begitu lambat. Entah kenapa Ken merasa waswas. Dia bolak-balik di depan kamar Naya dan berhenti saat suara derit pintu masuk ke telinga.


Gegas dia membalik diri dan mendapati Naya begitu bersinar dengan gaun hitam panjang tanpa lengan. Gadis yang tadi merengek tak ingin berdandan ternyata begitu menyilaukan mata setelah di make over.


Berdeham sekali, Ken sentuh hidungnya karena grogi. Gelagat yang tentu saja membuat Naya salah tingkah. Gadis itu celingukan melihat sisi kiri kanan serta bawah, lantas menatap Ken lekat-lekat.


"Apa ada yang salah? Keliatan aneh, ya?" tanyanya.


Bukannya menjawab pertanyaan, Ken justru mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia lambai Alea—wanita tinggi berlesung pipi yang menjabat sebagai MUA—yang kebetulan juga pemilik salon langganan Laura.


"Ada apa, Ken?" tanya Alea, dahinya mengernyit. Dia lihat Naya dan memindai gadis itu dari kaki hingga kepala. Rasa-rasanya tidak ada yang salah dengan make up yang diberikan oleh anak buahnya.


"Semuanya sudah dilakukan sesuai perintah Bu Laura, 'kan?" tanya Ken bernada datar. Kedua belah tangan masuk ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Tentu saja sudah. Semua alat serta make up yang yang aku gunakan semuanya baru, tahan air dan cocok untuk kulit natural Nona Naya. Aku pastikan nggak akan ada alergi karena produk yang aku gunakan ini aman. Sudah teruji di—"


Ken mengagetkan Alea dengan gerakan yang sangat cepat. Jepit rambut berbentuk bunga anggrek yang tadinya bertengger di kepala bagian kiri sudah ada di tangan lelaki itu.


Alea mengerjap lalu menelan ludah. Terlihat jelas tengah kaget dan tak percaya kalau pria yang selama ini seperti enggan bersentuhan dengan wanita kini menyentuh kepalanya.


"Saya pinjem ini," tutur Ken yang tentu saja membuat Alea sedikit melotot.


"Boleh?" tanya Ken lagi.


Kini mata Ken terarah ke Naya, mendekatinya lantas menjepitkan benda tadi. Tentu saja perlakuan itu membuat Alea semakin tak percaya. "Ini keajaiban dunia," decak Alea, speechless.


"Sekarang baru oke. Terlihat pas," ucap Ken sembari melihat rambut Naya. Kemarin malam yang lurus kini sudah sedikit bergelombang. Terlihat lebih manis.

__ADS_1


"Oke, ya?" ulang Naya, dia tersenyum siput. Baru kali ini ada yang menatap begitu intens dan cenderung lama. Dia bahkan dapat menangkap kalau sorot mata Ken menunjukkan kekaguman.


"Iya, sekarang sudah oke." Mata Ken melihat Alea yang terbengong lantas berkata, "Terima kasih, Le. Uangnya sudah saya transfer. Sekarang kamu dan orang-orangmu boleh pulang."


Meski bingung Alea tetap menurut. Sebelum menjauh dia sempat membalik diri sebentar karena penasaran, apa yang membuat Ken berubah drastis dan siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan Laura hingga Ken memperlakukannya begitu istimewa?


Selepas kepergian Alea, Kenzi kembali menatap Naya. "Baiklah, Nona. Sekarang kita bisa mulai sesi pembelajaran kita. Saya minta sekarang tolong Nona ikut saya."


Statement Kenzi barusan membuat Naya yang tadinya sempat senang seketika berubah berang. Dia berdengkus, tapi tetap pasrah saat disuruh mengikuti langkah lelaki itu. Keduanya menuruni tangga. Meski agak oleng Naya tetap bisa bertahan dan turun dengan selamat.


Keduanya pun tiba di ruang makan. Alangkah terkejutnya Naya setelah melihat sesuatu yang menunggu di sana. Mata bahkan terbuka begitu besar seolah telah melihat hantu.


Bagaimana tidak, begitu banyak makanan enak di meja. Dari makanan Eropa, India bahkan Korea. Begitu memanjakan mata dan tentu saja memancing bunyian yang tak seharusnya unjuk suara.

__ADS_1


"Nona lapar?" tanya Ken.


Jgn lupa like komen dan vote.


__ADS_2