
Naya terbengong beberapa detik. Dia mulai mencerna semua. Heran saja, bukannya diantar pulang ke rumah Mike, Jordan dan Mala justru mengantarnya ke sebuah gedung yang cukup familiar—gedung apartemen tempat Ken tinggal.
"Mbak Mala. Ini ...."
Bibir Naya bergetar. Jordan dan Mala secara tidak langsung telah mengkhianati Mike. Mereka mempertaruhkan nyawa demi dirinya agar bisa bertemu Ken.
"Turunlah, Nona. Kami percaya Nona hanya akan bertemu dia," sahut Mala tenang.
"Iya, selama Nona berjanji akan balik lagi kami tidak masalah dan tidak akan dapat masalah," sambung Jordan.
"T-tapi, kalau dia sampai tau ...." Ucapan Naya terjeda. Bola matanya mulai bergerak liar karena ragu.
"Dia tidak akan tau kalau tidak ada yang memberinya tau. Kami akan merahasiakan ini," balas Jordan.
Lidah Naya kelu, matanya mengerjap dengan embun yang perlahan turun membasahi pipi. Dia terharu karena Jordan dan Mala begitu percaya padanya.
Menghapus air matanya, Naya lantas tersenyum. Dia rapikan baju serta membenarkan make up yang sedikit berantakan. Sangat tidak ingin memperlihatkan sisinya yang lemah di pertemuan dengan Ken kali ini. Dia ingin tetap menjadi gadis cantik di mata pria itu.
"Baiklah. Makasih karena udah percaya aku. Aku janji gak bakalan lama, aku pasti balik lagi ke sini," papar Naya. Gegas dia membuka pintu dan pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan Naya terus berpikir. Bibirnya selalu menipis membayangkan pertemuan yang akan segera terlaksana. Akankah pertemuan ini seperti drama, berpelukan sangat erat dan menangis haru?
Ah ... membayangkan itu membuat pipi Naya menegang tanpa bisa ditahan. Ingatan tentang beberapa bulan lalu pun terngiang. Efeknya sangat luar biasa, senyuman sama sekali tidak luntur. Naya mulai merasa hatinya ditumbuhi bermacam-macam bunga.
Baper? Ah iya, itu sepertinya kata yang cocok untuknya.
Bagaimana tidak? Dia ingat betul bagaimana manisnya perlakuan Ken saat terakhir kali mereka bertemu. Pria panutan serta pujaannya itu bahkan mendaratkan sebuah kecupan singkat.
Sungguh mengingat itu Naya mulai berharap lebih. Benarkah perasaan sukanya disambut oleh Ken?
__ADS_1
Dup-dup-dup-dup.
Debaran dalam dada Naya mulai menggila bersamaan dengan bunyi derap heels yang dia pakai. Dia mulai mengharapkan hal lebih dari sekedar kecupan singkat.
Inikah cinta?
Jika iya ini benar-benar hebat. Satu kata itu mampu membuat orang jadi buta dan gila di saat bersamaan.
Tanpa diundang tiba-tiba saja pikiran buruk menelusup tanpa bisa dicegah. Bisikan-bisikan tentang kabur dan hidup bahagia dengan Ken menjalari pikiran. Dia ingin bahagia bersama Ken, ingin menghilang dan kabur seperti yang Ken katakan dulu. Ingin memulai kehidupan romantis seperti pasangan lainnya.
Sayangnya sekelebat bayangan masa depan nan indah itu ambyar dalam sekejap saat wajah datar Jordan dan Mala. Pantaskah kebaikan mereka dibalas dengan pengkhianatan?
Naya terpaksa menelan ludah disusul bunyian lift yang terbuka. Gontai langkahnya menuju apartemen tempat tinggal Ken.
Fix. Matanya menatap angka di depan pintu tanpa berkedip. Senyumnya langsung sirna. Dia mendadak cemas.
"Masuk, nggak, masuk, nggak, masuk, nggak."
Tiba-tiba saja sebuah bunyi dari dalam menyentak kesadaran. Naya gelagapan, bergegas dia berlari dan sembunyi di sudut lorong.
Tak berapa lama Ken keluar dengan pakaian rapi serta tas tangan.
"Kak Ken ...."
Senyum Naya tercipta sempurna saat melihat pria kaku yang mencuri hatinya terlihat baik-baik saja. Terlihat masih tampan dengan aura yang makin memikat. Pria itu tetap memasang wajah datar yang membuat orang mungkin akan berprasangka buruk.
Naya membenarkan penampilan, tetapi saat hendak melangkah dia dikejutkan dengan seorang wanita yang keluar dari pintu yang sama dengan Ken. Refleks dia kembali bersembunyi dan menggenggam erat tas selempang yang melingkar di tubuh.
"Sini, Ken. Dasi kamu kurang rapi. Aku benerin, ya?" ujar wanita itu.
__ADS_1
Ken hany berdeham dan memasrahkan wanita itu menyentuh leher serta dada.
Entah kenapa air mata Naya menetes, tiba-tiba dia merasa hatinya nyeri. Anehnya walaupun begitu dia tetap ingin tahu siapa wanita yang berbicara dengan Ken dan merapikan penampilan pria itu.
Menarik napas dalam-dalam, Naya mencoba menguatkan hati. Ya, Naya hanya bisa melakukan itu. Perlahan dia mengintip lagi dan melihat dengan seksama betapa mesranya adegan merapikan dasi.
"Kak Ken ...."
Suara Naya begitu lirih. Bagaimana tidak, hati Naya bagai teriris pisau. Perih, sakit dan ngilu. Siapa yang kuat saat melihat pria yang disuka bersentuhan dengan perempuan lain? Terlebih lagi wanitanya cantik, terlihat anggun dan berkelas—rambutnya ikal panjang dengan pakaian yang serba mewah. Wanita itu bahkan tersenyum manis kepada Ken, lantas bergelayut manja di lengannya.
Naya membalik diri—bersandar di dinding. Dia tidak kuat jika melihat adegan itu lebih lama. Dia akhirnya menyerah. Sangat tidak bisa membendung air yang sedari tadi berdesakan minta dikeluarkan.
"Kak Ken ... apa janji yang Kakak bilang kemarin itu cuma omong kosong? Apa Kak Ken udah bener-bener ngelupain aku? Apa Kak Ken ...."
Naya terisak, dia membekap mulut sendiri sembari berjongkok.
****
Hari demi hati telah berlalu dan lagi-lagi Naya menjalani hidup seperti mayat. Tatapannya kosong dan tidak banyak omong. Semenjak melihat kebersamaan Ken dengan wanita lain dia memutuskan akan melupakan pria itu dan menerima semua dengan pasrah.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Bisikan sensual dari suara berat seseorang menyentak. Naya langsung mengangkat kepala, menatap kosong pada cermin dan melihat pantulan dirinya yang dipeluk mesra oleh Mike dari belakang.
"Kenapa gak keluar-keluar? Mereka udah nungguin kamu. Masa yang ulang tahun gak keliatan. Gak sopan itu namanya."
Lagi, Mike berbisik sangat sensual. Dia bahkan mulai menggerayangi perut serta leher Naya dengan sentuhannya yang bisa dibilang sesuatu. Naya bahkan tanpa sadar terpejam. Gegas dia melepaskan pelukan Mike sebelum Mike melakukan hal lebih gila.
"Maaf, karena jetlag aku sedikit pusing," jawab Naya. "Bisa tunggu diluar. Aku nanti pasti keluar."
__ADS_1
Tatapan Mike mulai berubah—terlihat tidak senang. Namun, setelah melihat dandanan Naya yang terlihat berbeda—make up ala wanita liar—membuat emosinya sedikit mereda. Dia usap bibir Naya yang berwarna merah menyala. "Baiklah. Jangan lama-lama. Kalau lama aku gak tau malam seperti apa yang bakalan kamu terima."