
Sudah dua hari Naya menghilang. Dan dua hari itu juga Ken bolak-balik mengunjungi Burhan. Dia selalu menemani Burhan terapi dan lain sebagainya. Menceritakan semua yang dia paham. Dimulai dari perangai Laura, keberadaan Naya dan apa yang Naya lalui selama ini. Semuanya Ken ceritakan. Dia juga mengaku kalau dirinya juga menjadi pelaku dalam skenario yang dibuat Laura. Tak ayal Burhan beberapa kali menitikkan air mata.
Meski telah memberitahu itu semua, Ken tetap menjaga Burhan. Terserah apa nanti hukuman yang akan Burhan berikan, tapi yang jelas dia tidak bisa mengabaikan Burhan. Di matanya pria berusia lima puluhan itu adalah sosok ayah yang wajib di jaga.
Teruntuk Naya, dia juga tidak bisa menyalahkan gadis itu. Wajar jika Naya abai pada Burhan. Mengingat mereka memang tidak pernah saling jumpa sebelumya.
"Kita ke sana, ya, Pak?" ucap Ken sembari mendorong kursi roda menuju kursi yang ada di taman. Keduanya kini saling berhadapan.
"Pak, tolong maklumi Naya. Dia bukan gadis yang jahat. Saya yakin dia butuh waktu. Dia tidak datang bukan berarti tidak peduli. Kita harus beri dia waktu lebih lama lagi. Dia rapuh, terlalu rapuh. Bahkan jika salah menyentuh dia akan langsung pecah," ucap Ken. Dia tersenyum tulus. Sementara Burhan hanya bisa mengerjap.
"Dan satu lagi," lanjut Ken. Dia pegang tangan Burhan. "Mungkin saya tidak tahu malu. Saya sadar saya ini adalah anak panti yang Bapak besarkan. Saya sangat berterima kasih untuk itu. Saya sudah berjanji akan mengabdikan diri pada Pak Burhan. Tapi, Pak. Jika boleh saya ingin berjuang. Saya ingin mendapatkan Naya. Saya ingin melindungi dia. Saya sadar saya tidak pantas. Anak Bapak berhak mendapatkan yang lebih dari saya. Tapi, izinkan saya berusaha. Saya janji akan menjaga Naya. Akan saya buktikan kalau saya bisa membahagiakan dia."
Mendengar kata Ken respon tubuh Burhan sedikit ada keanehan. Jarinya bergerak-gerak dengan mata yang mengerjap berkali-kali. Bahkan ada air di pelupuk mata pria beruban itu. Pria tua itu seperti kejang. Gegas Ken memanggil dokter dan suter yang ada di sana.
***
Sementara itu, di tepi pantai tampak seorang gadis berjalan dengan bertelanjangg kaki. Dia biarkan air dan buih lautan menerpa dan angin membelai wajahnya. Dia terlihat lelah. Dia terus menunduk, sedangkan tangannya menenteng heels.
"Kakak cantik baju putih, tunggu!"
__ADS_1
Suara teriakan dari belakang membuat Naya sontak menoleh. Bagaimana tidak, karena memang hanya dia yang mengenakan baju putih di sana. Dia lihat dengan seksama seorang gadis berlari ke arahnya. Dia tampak ngos-ngosan.
"Adik kecil, nama kamu siapa?" tanya Naya lembut. Dia menunduk, dahinya mengernyit saat melihat gadis itu memegang setangkai mawar. "Kamu tadi manggil Kakak?"
"Iya, aku panggil Kakak. Nama aku Ririn, Kak."
Naya manggut-manggut. Dia lihat sekitar. "Kamu sama siapa di sini? Orang tua kamu mana?"
"Orang tuaku jualan, Kak. Di sana," tunjuk Ririn ke arah sebuah warung.
Naya kembali manggut-manggut. Itu artinya Ririn bukanlah anak yang hilang atau terlepas dari orang tuanya, tapi ....
Ucapan Ririn yang tiba-tiba itu membuat mata Naya melotot. Dia kembali mengedarkan pandangan.
"Ini buat Kakak. Dari siapa?" ulang Naya.
"Dari Om yang di sana. Katanya dia mau minta nomor HP Kakak," tunjuk Ririn lagi ke arah sebuah pohon besar.
Naya menahan ludah. Dia kembali memindai sekitar. Matanya awas dan waspada. Anehnya tetap tak melihat ada yang mencurigakan. Semua pengunjung pantai terlihat biasa saja.
__ADS_1
Naya mulai gemetar. Dia keluarkan uang seratus ribu dan menyerahkannya ke tangan Ririn. "Ririn. Uang ini buat Ririn. Tapi bilang sama Om itu. Kakak sudah menikah."
Mata Ririn mengerjap. Anak berusia tujuh tahun itu seperti mencerna dan Naya makin bingung di buatnya. Bingung menjelaskannya.
"Gini-gini. Bilang saja sama Om itu. Kakak udah nikah. Udah gitu aja. Uangnya buat Ririn."
"Beneran, Kak!" teriak Ririn. Dia melompat kegirangan, lantas berlalu begitu saja.
Sementara Naya, dia juga sama. Gadis yang mengenakan terusan selutut bermotif batik itu memilih langkah seribu meninggalkan tepian pantai menuju villa tempatnya menginap yang memang berada di sekitar sana. Mendadak dia takut, takut kalau ada orang yang berniat jahat.
Naya yang ngos-ngosan pun memilih duduk di kursi. Kakinya pegal, dada bertabuh luar biasa, belum lagi tenggorokan yang mulai panas. Dia butuh istirahat agar semuanya kembali normal.
Namun, baru saja mereda, tiba-tiba saja dompet sudah berpindah tangan. Naya menjerit, dia mengejar. Akan tetapi karena tenaga sudah habis dia berakhir oleng dan terjerembab. Naya meringis, lutut dan telapak tangan tergores terkena gesekan batu.
Anehnya, tak berapa lama si copet kembali datang. Wajahnya babak belur. Dia tampak ketakutan. Dengan tangan gemetar dia serahkan dompet Naya beserta sekantong obat.
"Ini, Neng. Saya kembalikan dompetnya. Saya janji gak bakalan nyopet lagi."
***
__ADS_1
Gaes, ini sengaja aku teken End ya. Ya karena memang udah End. Ini season kedua. Jangan lupa like dan vote ya. Makasih. Jika ada typo kasih tau ya. Heheh