
"Hah? Dibuntuti?"
Respon singkat Naya tak digubris Mala. Sang asisten yang berpakaian serba hitam itu begitu cepat menuntunnya menuju keramaian. Naya yang kebingungan tentu saja melihat sekeliling, tapi tetap tak menemukan orang yang mencurigakan.
"Mbak, sebenarnya ada apa?"
Lagi, Mala tidak menjawab. Dia terus saja menuntun Naya hingga Naya yang tidak paham menghentikan langkah. Dia tepis tangan Mala. "Mbak, coba liat, gak ada yang ngikutin kita ...."
Mala tertegun.
"Coba Mbak liat, gak ada yang mencurigakan," timpal Naya lagi.
Mala mengikuti perkataan Naya, matanya awas melihat sekitar, dan benar. Tak ada satupun yang mencurigakan. Semua pengunjung sibuk berlalu-lalang dengan urusan masing-masing.
"Mbak kayanya salah. Gak ada yang aneh. Gak ada yang ngikutin juga."
Mala terdiam. Dia garuk pelipisnya sebentar lalu tersenyum kikuk. "Iya, Nona. Sepertinya memang saya terlalu takut. Ya sudah. Kalau gitu kita langsung ke toilet saja."
Naya mengangguk. Keduanya sama-sama menuju toilet.
Namun, tiba-tiba ponsel Mala berbunyi dan membuat langkah mereka seketika kembali berhenti.
"Siapa Mbak?" tanya Naya. Alisnya mengernyit.
"Jordan Nona," balas Mala.
"Oh, kalau gitu jawab aja. Aku langsung ke toilet. Udah gak nyaman. Es krimnya lengket."
__ADS_1
Mala mengiyakan. Dia mengangkat telepon dan membiarkan Naya berjalan sendirian ke tempat yang dituju.
"Apes banget sih hari ini. Karena pikiran gak fokus aku jadi ceroboh. Sayang, gaun semahal ini jadi kotor," gumam Naya. Dia terus saja membersihkan noda di gaun tanpa sadar ada seorang pemuda tampan masuk dan langsung memeluknya dari belakang.
"Sayang, aku kangen ...."
Ucapan serta perlakuan kurang ajar itu membuat Naya membelalakkan mata. Dia meronta hebat. Anehnya pelukan pemuda itu semakin erat.
"Kamu siapa? Lepasin gak! Jangan kurang ajar!" bentak Naya. Dia ketakutan, matanya dapat dengan jelas melihat wajah pria asing yang menyandarkan dagu di bahunya dari pantulan cermin. Naya terus saja berontak, tapi tetap tidak diindahkan.
"Ayolah, jangan gini. Aku kangen sama kamu, Nay. Apa kamu nggak kangen sama aku? Kita udah dua tahun gak ketemu, loh," balas orang itu lagi. Pria muda yang kira-kira seumuran dengannya.
Naya yang merasa terancam dan ketakutan tentu saja meronta lagi, bahkan makin hebat. "Eh, kamu jangan gila! Aku nggak kenal kamu! Kamu siapa sih?"
"Ya ampun Nay ... sebegitu bencinya kamu sama aku? Padahal aku sayang banget sama kamu. Aku tau, kamu pasti kecewa dan marah karena aku tiba-tiba mutusin ke luar negeri ninggalin kamu. Tapi Nay, percayalah ... aku juga kesiksa ninggalin kamu. Aku kangen kamu. Aku masih sayang. Maafin aku ya. Kita balikan, mau ya?"
"Aku kangen kamu Nay. Aku kangen aroma tubuh kamu. Aku candu. Kita kerumahku ya," papar pemuda itu lagi. Bahkan kini tangannya sudah bergerilya begitu bebas.
"Jangan kurang ajar! Lepasin!"
Merasa keselamatan serta kehormatan sedang terancam, Naya pun langsung menginjak kaki pemuda itu. Pelukan terlepas seketika. Kesempatan itu digunakan Naya untuk menjauh dan mundur beberapa langkah. Nyalang matanya melihat gelagat pemuda itu.
"Cukup! Jangan mendekat lagi! Atau aku teriak!" bentak Naya, tangannya begitu erat memegang tas branded pemberian Mike—jaga-jaga jika pria itu kembali berlaku kurang ajar.
Alih-alih takut, pemuda itu justru tersenyum. Dia bersedekap seolah-olah tengah menikmati ketakutan Naya. Dia pindai penampilan Naya yang begitu cantik dengan gaun merah muda selutut dan heels berwarna senada.
"Kamu tetap sama. Suka cari perhatian. Tapi entah kenapa itu yang bikin aku gak bisa move on dari kamu. Terlebih lagi, pakaian kamu yang sekarang sangat seksi. Aku suka. Jadi ayo, ikut aku. Kita bernostalgia," ucap pemuda itu. Dia mendekat dengan cepat dan dapat mencekal pergelangan tangan Naya.
__ADS_1
"Stop! Lepasin! Aku gak kenal sama kamu. Jadi jangan mengada-ngada! Aku beneran enggak kenal sama kamu!" teriak Naya. Matanya memerah. Dia meronta dan memukul tangan pemuda itu dengan tas tangan. Aksi saling tarik pun terjadi. Orang-orang bahkan sudah berkumpul di depan pintu. Naya makin gugup karenanya.
"Ayolah Sayang, jangan begini. Dulu kita saling sayang. Kita selalu ngabisin waktu bareng. Mau di sekolah ataupun diluar kita selalu kompak. Terus kenapa cepet banget kamu lupain kebersamaan kita? Inget, kita pacaran dua tahun, loh."
Naya melongo. Penuturan pria itu satu pun tidak ada yang bisa dia cerna. Pacaran? Bersama? Saling sayang? Oh Tuhan ... Naya kembali menarik tangannya. Dia ketakutan.
"Aku beneran gak kenal kamu ...." Bibir Naya Bergetar hebat.
Sementara pemuda itu berdecak kesal. Dia mulai gusar dan mengusap wajah dengan sebelah tangan. Lekat dia menatap Naya yang memucat. "Apa perlu aku kasih bukti kalau kita pernah bareng? Apa kamu mau pamer kemesraannya kita dulu pada orang-orang ini?" tanya si dia sembari melihat sekitar. Seringaian terpatri jelas.
Naya menggeleng. "Tolong! Jangan sembarangan. Aku enggak kenal sama kamu," tampik Naya lagi. Dia gemetar mendengar orang-orang mulai berkasak-kusuk. Bahkan ada yang sengaja memberinya seringaian.
"Sayang. Ayolah jangan memperumit. Kita bisa selesaikan ini baik-baik kan? Mau bagaimanapun status kita masih pacaran Sayang."
Pemuda itu menarik lagi tangan Naya. Naya tentu saja menolak. Air matanya menetes makin deras.
"Kamu gila! Aku gak kenal sama kamu!" teriak Naya. Dia mulai panik dan histeris.
"Ayolah Sayang, jangan memperumit. Apa kamu gak liat semua orang udah ngeliat kita. Jadi ayo, kita bahas di rumah aku. Kayak biasanya."
"Gak, aku gak mau. Aku gak kenal sama kamu. Tolong lepasin," ucap Naya. Dia mengiba dan melihat orang-orang—yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja—di sekitar sana.
Aneh, tidak ada yang peduli sama sekali. Mereka bahkan memberikan jalan. Namun berbeda dengan seorang pria berpakaian rapi serba hitam dengan dasi berwarna biru navy. Dia bahkan bergeming dari ambang pintu Matanya menyiratkan kebencian. Rahangnya bahkan sudah mengetat.
"Lepasin dia."
***
__ADS_1
Gaes. mumpung hari Senin kasih vote dong. Kali aja nampang di beranda. Heheheh