
"Maaf, Pak Mike. Sepertinya Ibu Laras mengalami masalah. Sejak sadar dia terus berteriak memanggil nama Hery. Terus kadang juga melukai diri sendiri. Dia beberapa kali mencakar luka di perutnya. Saya rasa kita perlu pemeriksaan lebih soal ini," ucap seorang wanita cantik. Dia menatap Naya dan Mike bergantian.
Sementara Naya, dia hanya bisa diam dengan mata mengerjap. Dia benar-benar tak menyangka bakalan bertemu gadis yang dulu dia kira adalah pacar Ken. Dokter Marcella alias Sella.
Sella yang ditatap seperti itu tentu saja menyadari, tapi tetap memilih fokus pada Mike.
"Kira-kira di mana Herry? Kalau memungkinkan apa kita bisa pertemukan mereka?" lanjut Sella.
"Dia sudah meninggal," sahut Mike sekenanya.
Sella manggut-manggut. Dia kembali melirik Naya. "Kalau begitu nanti ada beberapa dokumen yang harus ...."
Tiba-tiba Sella menjeda kata. Dia kaget saat melihat Naya membekap mulut sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Mike. Dia membelai rambut Naya dengan pelan dan merapikannya.
Naya cuma merespon dengan gelengan, lantas berdiri. "Aku ke toilet sebentar."
"Aku antar."
"Gak usah," sahut Naya, dia lepas tangan Mike dari lengannya. "Toiletnya gak jauh kok."
Setelah itu Naya pun pergi. Dia meninggalkan Mike dan Sella di sana. Sebenarnya bukan mual. Itu cuma akal-akalan agar bisa keluar dari ruangan. Entah kenapa melihat Sella membuatnya makin sedih.
"Saya percayakan kesehatan Laras pada Dokter. Nanti akan ada orang suruhan saya ke sini. Nanti dia yang bakalan urus semua syarat dan dokumen yang kurang," lanjut Mike sembari berdiri. Dia ulurkan tangan dan Sella pun menyambutnya. Tak hanya itu, Sella bahkan mengantar Mike hingga ke depan pintu. Di sana sudah ada Naya yang duduk di kursi tunggu.
"Kamu gak apa-apa, 'kan?" tanya Mike sembari duduk di sebelah Naya.
"Aku gak apa-apa. Ayo kita pulang," ajak Naya. Dia sempat beradu mata dengan Sella.
Namun, bukannya ikut berdiri Mike justru menahan tangan Naya, lalu menuntunnya kembali duduk. "Kamu lebih baik tunggu dulu di sini. Aku mau ketemu Bian sebentar," terang Mike.
Naya tak bisa menolak. Dia hanya mengangguk dan melihat punggung Mike pergi menjauh. Di sana hanya ada dirinya dan Sella.
"Maaf, kalau boleh tau apa kita pernah ketemu sebelumnya?" tanya Sella.
Naya gelagapan, dia meremas jari sendiri. "Sepertinya enggak, Dok."
Sella manggut-manggut. Dia garuk pelipis. "Tapi kenapa tatapan ...."
"Sella! Naya!"
Kedua wanita itu seketika mencari arah suara. Alangkah terkejutnya Naya setelah melihat siapa yang memanggil. Ternyata itu adalah Sean. Beda halnya dengan Sella, gadis itu mendekat dengan gaya angkuh ke arah abangnya.
"Lah, kok ke sini? Kan udah aku bilang aku gak mau ikut," sungutnya manyun-manyun. Namun ekspresi itu berubah seketika saat melihat tatapan Sean pada Naya yang ada di belakangnya.
"Tunggu dulu, kalian saling kenal?" tanya Sella lagi. Alisnya naik sebelah.
__ADS_1
Merasa tak ada yang menjawab, si Sella mulai berspekulasi. Dia mulai ingat sesuatu. Lekat dia menatap Sean yang menatap Naya dengan sorot mata sendu.
"Apa jangan-jangan kalung berinisial N yang Mas pesen itu untuk dia?"
Seketika wajah Sean berubah drastis. Begitu juga dengan Naya, dia melotot hebat. Sean yang salah tingkah menoyor dahi adiknya.
"Jangan ngadi-ngadi. N bukan cuma Naya aja Sella," geram Sean.
Sella manyun-manyun. Dia usap kening yang barusan menjadi sasaran kekesalan sang Abang. Kini dia ikut mendekati Sean.
"Tolong kamu jangan ambil hati ucapan dia. Dia ngawur. Oiya, kalian sejak kapan saling kenal?" tanya Sean lagi.
"Barusan," seloroh Sella. "Dia istri dari wali pasien yang bernama Laras."
Mata Sean terbelalak. Namun, berusaha bersikap biasa saja.
"Mas, aku itu nanya loh dari tadi. Kok dikacangin, sih?" gerutu si Sella.
"Enggak, bukan begitu. Aku takutnya dia salah paham aja. Jadi, teruntuk kamu, please ... jangan nyebarin rumor yang nggak-nggak. Nanti kalau suaminya denger dan salah paham bagaimana?" sahut Sean.
Reflek Naya membulatkan mata. Sejak kapan Sean tahu kenyataan itu?
"Oiya, Sel. Kamu lanjutin aja kerjanya. Aku mau ngomong sama Naya sebentar."
Naya makin gelisah, dia bahkan memundurkan langkah sembari melihat sekitar. Takut kalau tiba-tiba Mike datang dan salah paham.
"Cuma sebentar," ujar Sean. Dia sudah duduk di kursi.
Hening. Naya terpaksa duduk sembari melihat keadaan sekitar. Sungguh, jantungnya mulai menggila. Dia serasa diincar malaikat maut.
"Sudah lama ya kita nggak ketemu?" ucap Sean memecah keheningan.
Naya mengangguk. "Sejak kapan kamu tahu?"
"Di hari terakhir kali kita bertemu. Waktu itu aku bertemu Ken. Dan ...."
Sean menjeda kata. Dia yang tadinya memandang pintu ruang kerja Sella jadi melihat Naya. Dia juga melihat ada sedikit perubahan di perut gadis itu.
"Hari itu aku tau kalau wanita yang disukai sama Ken adalah kamu. Kamu tahu kan aku dan Ken bersahabat sejak lama?"
Naya terdiam, lidahnya kelu. Keringat dingin keluar besar-besar. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah bersyukur atau ... entahlah Naya hanya menghela napas panjang.
"Aku sudah tau semuanya. Ken udah bilang. Dia juga udah usaha buat bantu kamu. Tapi Naya ... kenapa kamu nggak bilang sejak awal ke aku kalau kamu terlibat sama Mike?"
"Karena aku yakin nggak akan ada yang bisa bantuin?"
"Tapi seenggaknya dicoba."
__ADS_1
"Aku nggak mau bikin kamu repot karena ini. Aku yang mau, nggak ada unsur paksaan di sini."
Kini Sean yang mengalah napas panjang. "Sepertinya hubunganmu dengan Mike berjalan lancar."
Naya refleks memeluk perut. Dia yakin Sean sudah tau kalau dirinya hamil.
Hening. Sean terdiam. Dia tampak menerawang.
"Apa kamu menyukai Ken?" tanyanya tiba-tiba.
Naya tersentak kaget. Namun tak menjawab pertanyaan. Dia menundukkan kepala.
Melihat itu Sean jadi paham sesuatu, ternyata dua sejoli itu saling menyukai. Hanya saja ....
"Naya, apa aku boleh jujur?"
Naya sontak melirik. Namun memilih tetap diam.
"Sebenarnya juga suka sama kamu. Sejak pertama kali ketemu. Tapi karena aku tahu kalau Ken begitu peduli sama kamu, aku buang juga rasa itu. Pertemanan kami sangat berharga."
"Bagus, itu keputusan yang tepat Sean. Aku nggak pantes buat kalian rebutkan. Kamu orang baik. Ken juga. Lagian aku sekarang sudah punya kehidupan sendiri." Naya tiba-tiba berdiri. Dia tatap Sean yang masih duduk.
"Mungkin ini terdengar gak tau malu. Aku tau kamu baik. Kamu orang baik dan aku seneng pernah kenal sama kamu. Tapi Sean, kalau aku boleh minta, jika suatu saat kita ketemu lagi boleh gak kamu berlagak kita gak pernah kenal."
Mata Sean melotot. Dia bahkan berdiri menghadap Naya.
"Tolong. Ini demi kebaikan kita." Naya tampak mengiba saat mengatakan itu. Sean pun paham itu semua. Dia mengangguk dan membiarkan Naya membalik diri.
"Naya, apa kamu tahu yang terjadi pada Ken?"
Langkah Naya terhenti. Hatinya nyeri, tapi dia menyadari situasi.
"Ken masih hidup."
Mata Naya membulat. Jantungnya melemah. Pandangannya pulai terpecah-pecah.
"Saat kecelakaan Ken ...."
"Tolong hentikan Sean. Tolong jangan lanjutkan lagi," potong Naya.
Sean terbelalak. Dia benar-benar tidak paham. Bukankah seharusnya Naya senang?
Kini mata itu semakin membulat saat melihat Naya membalik badan dan menatapnya. Di sana, di pipi mulus itu terlihat ada air yang mengalir.
"Kenapa?" tanya Sean. "Apa kamu gak senang dia masih hidup?"
"Kamu salah. Aku bersyukur dan bahagia kalau dia masih hidup. Tapi tolong jangan beri tahu aku di mana dia. Aku takut nanti hilang kendali dan justru membuatnya dalam bahaya. Sekarang aku udah punya kehidupan. Dan aku minta tolong bilang ke dia, lupakan aku. Jalani hidup dengan baik."
__ADS_1
"Tapi Naya."
"Please ... aku sekarang sudah punya suami, gak lama lagi aku juga bakalan punya bayi. Jadi, lupakan aku dan fokuslah pada kebahagiaan kalian masing-masing."