Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Terkuak.


__ADS_3

"Tapi ngomong-ngomong, Ken, apa kamu harus berusaha sekeras ini?" tanya Sean. Dia menaikturunkan alis. "Bukannya dia bukan siapa-siapa kamu, ya? Aku heran kenapa kamu jadi sepeduli ini? Apa mungkin kamu naksir dia?" lanjut Sean.


Ken terdiam, tak ada niatan menyanggah ataupun mengiyakan. Hanya saja jauh dalam lubuk hati dia mengkhawatirkan Naya dan merindukannya setengah mati. Sekarang satu yang ingin dia lakukan, yaitu membebaskan Naya dari Mike.


Kebisuan Ken membuat Sean terbahak. Dia bertepuk tangan. "Wah ... hebat, aku penasaran seperti apa gadis itu sampai-sampai bisa ngerubah orang apatis kayak kamu jadi berubah sepeduli ini. Ngomong-ngomong siapa namanya?"


"Kamu nggak perlu tau," sahut Ken ketus


Sean tersenyum. Menggoda Ken sekarang mengasyikkan baginya. "Kenapa nggak boleh tahu? Kita kan satu tim. Bagaimana aku bisa bantuin kalau kamu aja gak mau kasih tau namanya? Ayolah, aku memang pecinta perempuan, tapi gak berarti aku gak bermoral. Aku gak bakalan ngembat orang yang kamu suka."


Ken balas gurauan Sean dengan tatapan serius. Dia tahu betul Sean. Sean orangnya terlalu baik dan murah senyum, belum lagi latar belakang yang menjamin membuat banyak perempuan nyaman dengannya.


"Siapa namanya?" tanya Sean lagi. Matanya menyipit menggoda.


Ken berdengkus. "Nanti saja. Aku bakalan kasih tau. Sekarang aku hanya fokus buat ngebebasin dia. Soal perasaan itu nanti saja."


"Wah, benar-benar dalam kayaknya."


Mata Ken langsung menyipit, membuat Sean kembali terbahak.


"Oke, kalau nggak mau kasih tahu namanya gak apa-apa. Kasih fotonya aja. Sini, aku mau lihat." Sean bahkan sudah menengadahkan tangan. Namun reaksi Ken yang menggelengkan kepala membuat matanya terbelalak spontan.


"Seriusan? Kamu beneran nggak ada satu pun nyimpen foto dia? Bukannya kalian serumah selama seminggu?"


"Nggak kepikiran, Sean."


Tak pelak Sean kembali terbahak. Dia benar-benar tak menyangka kalau Ken sepolos itu.


"Kamu benar-benar benar-benar manusia langka, Ken. Kejantanan kamu perlu diperiksakan."


"Jangan mulai," balas Ken. Matanya menyipit sinis.

__ADS_1


"Oke, oke ... aku ngerti. Sekarang itu bukan yang terpenting. Lebih baik kita cari jalan lain. Kamu cari kontrak itu dan aku bakalan cari cara."


Ken yang tadinya tampak kesal kembali antusias. "Maksud kamu cara lain?" tanyanya


"Aku dengar kalau mantan pacarnya Mike sudah balik ke Indonesia. Aku mau ketemu dia. Siapa tahu dia punya kelemahan Mike."


Ken manggut-manggut. Dia lalu berdiri dan membenarkan jas yang ada di badan. "Tolong ya. Cuma kamu temen yang aku percaya."


"Ayolah, santai saja kan kita temenan udah lama."


"Ya sudah, kalau gitu aku pergi," balas Ken, lalu memutar tumit.


Tanpa Sean duga Ken tiba-tiba kembali membalik badan dan menatapnya yang masih terduduk santai di kursi kafe.


"Apa?" tanya Sean.


Ken mendekat lagi. "Dan satu lagi, aku mau minta tolong sama kamu."


"Bener-bener ya, udah dikasih dada minta paha." Sean lalu terbahak, tapi tidak untuk Ken dia tetap menatap fokus pada Sean.


"Tolong bilang sama Michella jangan keseringan mampir ke apartemenku."


"Wah kalau itu aku angkat tangan, Ken. Aku nggak bakalan bisa nyuruh tuh anak bebal. Dia terlalu keras kepala. Kalau dia udah bilang A yah aku nggak bisa jadiin B"


"Tapi kamu abangnya."


"Abang juga enggak bisa apa-apa kalau adik perempuan udah ngotot. Lagian kenapa nggak kamu terima aja sih perasaannya. Biar kita bisa jadi ipar gitu."


Ken hanya berdengkus kesal, dia memutar mata malas melihat wajah Sean yang tak pernah ada seriusnya. Heran saja orang slengean seperti itu bisa lulus dari universitas hukum ternama dengan nilai yang bisa dibilang sempurna.


"Oke, nanti aku bilang satu kali lagi sama dia, tapi aku nggak janji ya. Tu anak keras kepala banget soalnya."

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu aku pamit."


Sean terdiam. Dia lepas kepergian Ken dengan tatapan ambigu. "Aku penasaran siapa perempuan itu. Pokoknya aku harus cari tau."


Sean kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi Anton.


"Gimana, Ton? Apa udah ada kemajuan?"


Hening. Sean mendengarkan jawaban Anton yang ada di seberang telepon. Seketika senyum puas tercipta.


"Oke, kirim data sama fotonya sekarang. Aku penasaran."


Sean lantas mematikan sambungan telepon. Tak berapa lama masuklah notifikasi pesan. Lekas-lekas Sean mengecek. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati kenyataan yang ada. Matanya membulat, dia bahkan mengucek mata saking tak percaya.


"J-jadi ... jadi gadis yang dimaksud Ken adalah Naya. Naya yang ini. Naya yang aku kenal."


Sean melemah. Tubuhnya tersandar pasrah di kursi. Terbayang betapa pucat wajah Naya saat melihat liontin yang menunjukkan fotonya dan Ken.


"Sekarang aku ngerti, Naya. Aku paham. Tapi kenapa harus kamu yang di sukai Ken?"


***


Waktu dua jam yang Mike berikan pada Naya sudah lewat lima menit. Mike jadi gelisah. Dia keluar dari ruang kerja dan manggill Jordan.


"Ada apa, Tuan Muda?" ujar Jordan saat tiba.


"Di mana lokasinya? Apa dia sedang dalam perjalanan kemari?" tanya Mike balik.


Jordan dengan cepat mengecek ponsel. Mukanya berubah drastis dan Mike tahu apa maksud dari ekspresi itu.


"Sialan! Cepat panggil yang lain! Kita cari dia!" perintah Mike tegas. Dia berjalan mendahului. Sementara Jordan sibuk memanggil yang lain dengan ponsel.

__ADS_1


"Apa kamu beneran punya nyali buat menggangguku, Laras?" gumamnya geram.


Kuy kasih like dan Vote. Nanti malam aku up lagi. Heheheh


__ADS_2