Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Berdebar


__ADS_3

Mike melangkah pasti menuju lantai dua. Sementara para pembantu dan bodyguard kembali ke tugasnya masing-masing. Mereka hanya berani menatap Mike dalam diam, tak berani berbisik apalagi bergunjing karena Mike memang seperti itu. Dia dingin dan hanya suka bersenang-senang dengan wanita, terlebih lagi yang masih harum seperti Naya. Sudah dipastikan dia tidak akan membiarkannya sendirian.


"Aku penasaran, apa yang kamu buat selama aku gak ada di rumah?" gumam Mike. Dia tersenyum licik.


Tibalah di depan pintu. Mike menyeringai. Tanpa berniat mengetuk dia langsung membuka pintu.


Kosong. Kamar yang didominasi warna gold tak ada penghuninya sama sekali. Anehnya Mike tetap tersenyum, mata yang sedikit lelah karena perjalanan panjang tak bosan memindai ruangan itu secara keseluruhan.


Beruntungnya dia segera mendengar percikkan air di dalam kamar mandi, jadi niatan untuk berteriak memanggil Jordan pun urung dilakukan.


"Gadis yang baik, kamu sengaja mau menggoda Tuanmu ini? Sengaja mandi biar aku tertarik?" gumam Mike lagi. Di bibirnya terukur senyum kejemawaan. Dia pun dengan tenang merebahkan diri di ranjang sembari melihat ponsel Naya yang ada di nakas. Dia scroll terus ponsel gadis itu dan melihat riwayat pencarian.


Bersih. Gadis itu seperti bukan manusia yang tinggal bumi. Di saat gadis lain akan berburu dengan yang namanya belanja online atau kesurupan dengan yang namanya media sosial, gadis itu hanya memainkan game termudah. Game ular.


"Kamu benar-benar beda, Naya. Kamu unik. Luar biasa." Mike bermonolog.

__ADS_1


Tak berapa lama pintu kamar mandi pun terbuka. Naya yang hanya terbalut handuk kimono pun seketika mematung. Tak hanya itu, handuk yang tadinya ada di tangan terlepas dari genggaman. Dia shock melihat Mike di kamarnya.


"T-tuan ... T-tuan Mike ...."


Naya terbata, dia juga tak menyangka kehadiran Mike benar-benar memberikan efek yang luar biasa dahsyat. Tubuh dan lidah serasa lumpuh seketika. Dia gemetar, nanar matanya melihat Mike yang mendekat.


Sementara Mike, menyeringai. Dia begitu menikmati kegelisahan Naya. Terbukti karena gadis itu beberapa kali memutar cincin di jari. Sungguh, Mike gemas dan ingin sekali menggodanya lebih lanjut.


"Sayang, kamu baru habis mandi?" ucap Mike. Dia sengaja mengedip lalu membuat kontak mata. Dia pindai Naya dengan pupil yang melebar. Tentu saja Naya yang ditatap semesum itu jadi semakin gemetar.


Alih-alih menjawab, Mike justru semakin melebarkan langkah. Senyum ambigu tetap terpatri hingga Naya yang sejatinya memang ketakutan hampir saja terduduk ke lantai. Dia mendadak kehilangan tenaga. Beruntung Mike dengan sigap merangkul pinggangnya. Sekarang, benar-benar tak ada jarak di antara mereka.


"Kamu sengaja begini biar saya tangkap, 'kan?" ucap Mike. Lirih, dia bahkan sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Naya.


"Kamu nakal juga ternyata," lanjut Mike.

__ADS_1


Lekas Naya menggeleng. Dia dorong dada Mike agar menjauh. Sayang, Mike yang sudah kadung senang dengan ekspresi Naya urung menurut. Dia bahkan sengaja memojokkan Naya di dinding dan mengunci dengan kedua lengannya yang kekar.


"Seminggu gak ketemu kamu berubah banyak. Makin berani. Tapi saya suka. Kamu benar-benar menggoda."


Lagi, bisikan sensual Mike membuat Naya merinding. Bulu kuduk berdiri tegak tanpa permisi. Saking ngerinya gadis itu bahkan memejamkan mata sembari menahan napas. Dia biarkan Mike membelai rambut serta mengendus tubuhnya.


'Dia imut banget, sih. Aku harus bisa mengontrolnya. Jangan sampai kebablasan.' Mike membatin. Dia tersenyum tipis lalu dengan santai menarik dagu Naya, lantas tanpa malu memindai wajah ketakutan gadis itu dengan tatapan minat.


"Buka matamu. Lihat saya. Saya bukan hantu yang harus kamu takuti," lanjut Mike. Meski terdengar pelan tapi jelas penuh ancaman


Naya terpaksa menurut. Dia buka mata dan seketika terdiam membeku. Bagaimana tidak, wajah tampan Mike hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan saking dekatnya Naya bisa merasakan embusan napas memburu Mike yang menerpa wajah.


"T-tuan ...."


Mike membalas suara lirih Naya dengan dehaman. Dia sama sekali tidak bosan memindai ekspresi Naya. Kini, matanya yang tajam turun dan tertuju pada bibir gadis itu, terlihat begitu ranum dengan warna merah muda.

__ADS_1


__ADS_2