
Mendengar itu mata Naya langsung membulat. sontak saja dia mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap orang yang berkata—laki-laki yang bernama Mike.
Sedetik
Dua detik.
Tiga detik.
Nihil, sekeras apa pun Naya berpikir dia tetap tidak bisa mengenali pria yang ada di hadapan. Dia benar-benar tidak mengingat pernah bertemu atau bermasalah dengan pria yang bisa dibilang sempurna itu. Dia memiliki wajah yang bersih, hidung mancung, alis tebal, rahang yang tegas serta tubuh tinggi semampai.
Tak hanya itu, rambut yang sedikit berponi membuatnya terkesan menawan tapi arogan di saat bersamaan.
Mencubit pahanya keras-keras, Naya menyadarkan diri dari pikiran melenceng yang sempat memenuhi otak. Bukankah sekarang sedang genting? Kenapa bisa memikirkan fisik orang lain?
Menelan ludah, Naya kembali menatap Laura yang juga menatapnya keheranan.
"Apa ini? Kalian saling kenal?" tanya Laura.
Naya bergeming, sedangkan Mike hanya menipiskan bibir.
"Hoo, sepertinya kalian memang berjodoh. Ya bagus kalau begitu," lanjut Laura. Dia terkekeh kecil. "Oiya, jadi bagaimana Pak Mike? Apakah kita ...."
Mike mengangkat tangan kanan tanpa memalingkan pandangan dari Naya, dengan senyum ambigu dia pun berkata, "Saya setuju. Transaksi ini ... saya menyukainya."
Laura tersenyum puas. Sementara Naya makin kentara ketakutan di wajahnya. Dia benar-benar telah dijual dan dibeli di saat bersamaan dan sialnya berlangsung di depan mata.
Mike pun menggerak-gerakkan empat buku jarinya, dan seorang laki-laki dewasa yang ada tak jauh dari mereka berdiri mendekat, lantas menunduk patuh di depan Mike. "Ya, Tuan Muda."
"Jordan, tolong bawa Bu Laura ke ruang kerja. Lakukan apa yang saya perintahkan kemarin," ucap Mike yang lagi-lagi tak memalingkan matanya dari Naya.
Si Jordan mengiyakan. Dia menunduk patuh.
Kini Mike tersenyum melihat Laura. "Saya sebenarnya sedikit terkejut dengan kisi-kisi yang Anda katakan tempo hari. Tapi saya juga penasaran makanya menyetujui. Uang bukanlah hal besar untuk saya. Yang penting saya senang. Dan sekarang ...." Mike menjeda kata dan tatapannya pada Naya makin intens saja. "Saya tidak menyesal karena setuju."
"Terima kasih Pak Mike. Anda masih muda, kompeten dan bisa segalanya. Saya janji tidak akan mengecewakan. Ini transaksi bisnis istimewa yang pernah saya lakukan. Dan saya tidak akan melupakan kebaikan ini," balas Laura. Dia kembali tersenyum puas lantas mengulurkan tangan pada Mike.
Mike menyambut tangan Laura. "Bicarakan semuanya sama asisten saya. Dia sudah mengerti apa yang harus dia lakukan, jadi saya rasa tidak perlu untuk saya menjelaskan intinya. Semuanya tertera di surat kontrak kita. Nanti Jordan yang akan menjelaskan apa-apa saja yang akan Bu Laura terima dan apa saja yang harus Bu Laura patuhi."
__ADS_1
"Terima kasih, Pak Mike. Anda manusia budiman."
Laura tersenyum ramah. Setelah itu dia melihat Naya dan tanpa segan mengusap rambutnya. "Baik-baiklah dengan Pak Mike. Dia penyelamat usaha keluarga kita dan dia pahlawan untuk ayah kamu yang sedang koma."
Naya hanya bisa mengepalkan tangan. Dia menggeram. Sungguh, dia merasa ini tidak adil. Seperak pun tidak pernah menikmati hasil kekayaan keluarga itu tapi kini harus menjadi tumbal.
"Kalau gitu Tante pergi dulu," lanjut Laura seraya mendaratkan kecupan ringan di kepala Naya. Seperti sayang padahal bukan. Wanita itu sama sekali tak punya rasa iba.
Sementara Naya, dia hanya bisa mendesis karena tak bisa apa-apa. Dia lepas kepergian Laura dengan menahan emosi yang meletup-letup.
Hening. Mike masih menatap Naya yang melihat kepergian Laura dengan sorot mata tajam. Namun, dia tak peduli. Sejak awal bertemu di kafe dia sudah menyukai gadis itu. Dia dalam diam mencari tahu identitas Naya.
Beruntungnya gadis itu datang sendiri dan kini ada di hadapan.
"Saya beneran nggak nyangka kalau kita bakalan ketemu lagi," ulang Mike.
Naya menoleh. Dia kembali dibuat heran dengan statement Mike. Pria berkemeja hitam itu kembali membuatnya harus berpikir keras.
"Apa maksud Om? Apa kita saling kenal? Apa kita pernah ketemu?" cecar Naya.
Akan tetapi Mike tak menjawab, dia justru mengelilingi tubuh Naya dan memperhatikan gaun cantik selutut yang membalut badan gadis itu, lantas berdecak. Terdengar tidak senang. "Jangan panggil saya Om. Memangnya saya kawin sama tante kamu?"
"Panggil saya Tuan. Kamu tau apa alasannya?" tanya Mike penuh penekanan.
Naya mendesahh pasrah lalu mengangguk pelan. Dia telah dijual, otomatis derajatnya sama saja dengan budak.
"Jujur saya suka keberanian dan penampilan kamu tadi siang. Penampilan kamu sekarang bikin saya kecewa," tutur Mike yang membuat Naya melongo.
'Tunggu dulu. Tadi siang? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan dia penguntit? Tapi sejak kapan? Dan bagaimana bisa? Lagipula bukannya kata Kak Ken kalau tujuan dia ngerubah penampilan aku ini karena orang ini? Tapi kenapa bisa sekarang malah ingin kebalikannya?' Naya terus membatin. Sedangkan Mike masih saja mengelilinginya.
"Bisa jelasin apa maksud, Tuan? Kita pernah ketemu? Terus ... sejak kapan? Apa Tuan?" Naya menghentikan kata. Pikirannya langsung tertuju pada Mario. "Apa Tuan ...."
"Oiya," sela Mike tanpa peduli dengan perkataan Naya barusan. Dia bersedekap dan bersandar di dinding dekat Bonsai Sang Shohin berada. Bonsai kecil dengan ukuran hanya sekitar 10 cm saja.
"Apakah kamu datang ke sini karena keinginan kamu sendiri?" lanjutnya lagi
Naya tak menjawab. Dia menunduk karena gugup. Haruskah mengaku kalau dirinya sendiri yang pasrah masuk ke dalam lingkaran jual beli ilegal antara Mike dan Laura?
__ADS_1
Mike menipiskan bibir. "Terus, apa kamu tahu alasan kenapa kamu datang ke sini?" lanjut Mike lagi. Dia memasukkan kedua belah tangan ke dalam saku celana.
Naya mengangguk pelan.
"Wah hebat. Apa kamu diancam?" tanya Mike lagi, pupil matanya melebar. Terlihat seperti psikopat yang sedang bersemangat karena mendengar penderitaan orang lain.
Naya mengangguk, berharap Mike kasihan. Namun kebalikan, yang dia dapati pria itu justru tersenyum.
"Saya tidak peduli bagaimana caranya kamu bisa di sini. Itu bukan urusan saya. Yang jelas sekarang kamu sudah jadi milik saya."
Naya menelan ludah. Mike sangat berbeda dari Ken. Setiap perkataan Mike entah kenapa membuatnya membeku. Apalagi penekanan kata yang baru saja dia dengar. Mendadak dia merasa menggigil tanpa sebab.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya Mike lagi. Senyumnya kembali hadir.
Naya diam. Dia menunduk makin dalam.
"Saya nggak tahu hubungan rumit apa yang ada antara kamu sama Laura. Tapi yang jelas saya menyukai pertukaran ini. Kamu cantik, kamu muda dan menarik."
Alih-alih tersipu Naya justru melotot. Tanpa ragu dia melayangkan tatapan sinis. Sayangnya respon Mike hanya gelak tawa. Dia bertepuk tangan. Baru kali ini ada yang melotot kepadanya setajam itu.
"Ayolah. Jangan terlalu serius. Walaupun saya suka perempuan manis kayak kamu tapi saya masih normal. Selain bermodal saya juga bermoral," papar Mike seraya memindai dada Naya.
Lagi, Naya melayangkan tatapan sinis. Dia bahkan menyilangkan lengan ke kedua dada. Ucapan serta tindakan pria itu bertolakbelakang.
'Bermoral? Ada gitu orang bermoral yang membeli manusia?' batin Naya dongkol.
Mike tergelak lagi. "Oiya, apa kamu tau berapa nilai hutang perusahaan ayahmu?"
Ekspresi Naya berubah drastis, dia menunduk lesu lalu menggeleng.
"Sepuluh miliar," sahut Mike yang membuat Naya kembali mengangkat kepala secara cepat. Dia shock.
"S-sepuluh miliar?" ulang Naya terbata.
"Ya. Sebenarnya uang segitu gak terlalu besar untuk ukuran Rain Company. Aku yakin keuntungan sebulan perusahaan ayah kamu sudah lebih dari itu. Tapi apa kamu tau, semakin besar perusahaan semakin gampang menghancurkannya. Kuncinya cuma satu ... gosip. Semuanya jadi berantakan hanya karena asumsi miring. Gak heran Laura sampai rela menjual anak tirinya," papar Mike.
Naya menelan ludah. Ternyata Mike tahu asal usulnya.
__ADS_1
Berdeham sekali. Mike menuju meja yang ada di ruangan itu dan menuang minuman ke dalam gelas. Warnanya merah pekat. Naya tebak itu adalah anggur.
Mike dekati lagi Naya lantas memainkan gelas yang ada di tangan. Lekat dia memandang gadis itu. "Apa kamu masih perawan?"