
"Apa Tuan yakin dengan ini?" tanya Jordan. Dia berdiri di sisi ranjang dan melihat Mike yang tengah menatap tab dengan rahang mengetat.
"Ya, biarkan saja dulu. Aku masih butuh dia."
"Tapi Tuan Muda ...."
Perkataan Jordan terjeda karena mendengar bunyi pintu yang diketuk. Sedetik kemudian terlihat Naya menyembulkan kepala.
"Masuklah," sahut Mike. Dia tersenyum melihat Naya yang datang dengan nampan di tangan.
"Gadis manis. Sini," panggilnya lagi dengan menekuk jari-jari. Dia lalu memberi kode pada Jordan.
Spontan Jordan menghadang Naya, lalu dengan sopan meminta nampan itu. Naya yang tak paham hanya mengernyit.
"Kenapa?" tanyanya. Dia menatap Mike yang bersandar di kepala ranjang dengan hanya mengenakan bokser. Rambutnya bahkan masih terlihat basah. "Katanya tadi mau dimasakin nasi goreng?"
"Itu tadi, sekarang udah enggak," sahut Mike. Ekspresinya langsung berubah. "Kenapa? Kamu mau marah?"
Lekas-lekas Naya menggeleng. Tanpa berkata lagi dia pun menyerahkan nampan itu kepada Jordan. Bisa gawat jika sampai menyinggung pria mesum bertemperamen buruk seperti Mike. Membayangkan hukumannya saja membuat Naya ngeri.
"Kalau gitu aku pamit," ujar Naya.
Mike menggelengkan kepala, senyuman khas terpatri jelas di wajahnya. "Kamu belum boleh keluar."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Naya lagi. Dia masih bingung.
"Karena aku butuh kamu. Sini, duduk sini." Mike menepuk ranjang.
Naya terdiam, dia melirik Jordan dan mendapat anggukan pelan dari pria itu. Itu adalah kode agar Naya mengikuti permintaan Mike.
Menghela napas perlahan, Naya pun memberanikan diri duduk di sebelah Mike.
"Pijitin, aku lelah hari ini," ucap Mike.
Lagi-lagi Naya menghela napas panjang, tapi bukan seperti sebelumnya—resah. Kini lebih ke arah rasa syukur. Dia pun mengambil minyak yang sudah tersedia di atas nakas dan mulai mimijit telapak kaki pria itu. Dia melakukan apa yang diperintahkan tanpa berkata sepatah kata pun.
Tiba-tiba saja Mike tersenyum, dia melihat wajah cemberut Naya, lantas tanpa permisi mengarahkan wajah itu agar menatapnya.
Menggeleng, Mike masih tersenyum. "Nggak ada. Aku cuma mau lihat wajah cantik kamu."
'Orang ini beneran sakit jiwa,' batin Naya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum, lalu dengan pelan menurunkan kaki Mike agar menjauh dari dagu.
"Terima kasih," balasnya pelan lalu kembali memijit.
"Apa kamu tahu sekarang kamu ada sedikit perubahan?" papar Mike lagi. Karena bingung Naya bahkan berhenti memijit.
"Maksud Tuan?"
__ADS_1
Naya mulai waswas karena memang Mike benar-benar tidak bisa diprediksi. Ada kalanya saat bibir itu tersenyum sebenarnya sedang menggeram. Kadang juga justru sebaliknya, tatapannya mulai tajam tapi nyatanya hanya bercanda.
"Sudahlah, aku hanya senang dengan perubahanmu," balas Mike. Dia kembali melihat tab di tangan.
Sementara itu, Dina yang ada di dapur mulai resah. Dia mondar-mandir di sana. Heran kenapa tidak ada yang berubah, tidak ada yang menjerit, tidak ada yang panik. Seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal dia tahu efek lada pada tubuh Mike. Majikannya itu pasti akan kehilangan tenaga dan berakhir pingsan, tapi sekarang ....
Gegas Dina melihat CCTV yang ada di pojokan dapur. Dia yakin dan ingat betul kalau CCTV itu sudah dua hari rusak, bahkan tidak ada lampu yang menyala atau berkedip seperti CCTV yang lain. Hanya saja sekarang dia merasakan firasat buruk. Apa mungkin Mike tahu perbuatannya?
Untuk memastikan dia bahkan melambai-lambai di kamera. Nihil, lampu di benda itu tak berkedip.
"Ini beneran rusak gak sih? Atau sudah dibetulkan? Kalau iya mati aku," gumam Dina. Gegas dia menuju ruang tamu—hendak menuju kamar Mike. Sayangnya terhenti saat melihat Jordan mendekat. Matanya sampai membelalak saat melihat piring nasi goreng sudah ada di tangan pria itu.
"Loh ini kok di sini? Tuan muda enggak makan nasi gorengnya?" tanya Dina, bibirnya bergetar, dia tampak gugup.
Jordan yang tahu alasan Dina seperti itu hanya menatap tanpa berkedip, lalu dengan mantap menjawab, "Tuan Muda lagi gak enak badan. Katanya mau langsung istirahat.
Dina manggut-manggut. Dalam kecewa dia juga bersyukur. Itu artinya Mike tidak menyadari apa yang terjadi, begitu pikirnya.
"Ya sudah, ini simpan saja di dapur," ucap Jordan lagi. Dia menyerahkan nampan nasi goreng itu ke arah Dina. Dina kesal karena rencana gagal, tapi lebih kesal lagi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima pasrah dan membalik badan menuju kembali ke arah dapur.
Dalam langkah dia terus-menerus menggeram. Dia bahkan menggenggam erat sisi nampan. "Awas kamu, hari ini kamu selamat. Aku yakin rencana selanjutnya pasti bakalan bikin kamu diusir dari sini. Tunggu aja Naya, tunggu tanggal mainnya."
Maaf baru up. Jempolku ngilu. Gak tau kenapa.
__ADS_1
btw jejak kalian jangan lupa like komen dan vote. hehehe. makasih