
Dup-dup-dup-dup.
Jantung Naya bertalu. Matanya membulat besar saat melihat Mike. Pria itu begitu nyalang melihatnya.
"Sudah selesai nostalgianya?" ulang Mike.
Naya terbeku, lidahnya kelu, tangan kiri dan kanan bahkan sudah berkeringat hebat. Saking gugupnya dia sampai menggenggam erat tangan yang hampir mati rasa .
"Jawab, Naya!" bentak Mike yang tak kalah melotot.
Naya yang kehilangan nyali langsung saja bersimpuh di depan Mike, lalu mengatupkan kedua belah tangan dan menautkannya erat-erat.
"Maaf, maaf ... tolong jangan apa-apain Kak Ken. Dia cuma mau nanyain kabar," jelas Naya terbata. Sungguh, rasa takut telah memeluknya begitu erat. Atmosfer bahkan sudah berubah suram. Mata Mike jangan ditanya, sudah seperti laser yang siap memecah bebatuan.
Mike menyeringai. Dipindahnya wajah Naya yang sudah kehilangan rona.
"Cuma nanyain kabar?" ulang Mike. Sorot matanya berubah drastis. Tadi yang melotot hebat sekarang sudah menyipit sinis. Dia pegang dagu Naya dengan sebelah tangan dan mengapitnya kuat hingga suara rintihan pun terdengar jelas.
"Beneran cuman nanyain kabar?" Mike semakin geram. Cengkeramannya juga terasa lebih menyakitkan.
Tiba-tiba Jordan masuk dan melihat keadaan itu. Sebenarnya dia kasihan pada Naya, tapi memutuskan abai demi sang tuan.
Mike melirik kehadiran Jordan sekilas, lalu kembali menoleh Naya. "Jujurlah atau saya minta Jordan putar kamera yang ada di mobil ini."
Naya terdiam. Mike yang sudah kehilangan kesabaran pun kembali berkata, "Cepat putar vidio-nya, Jordan. Ayo kita lihat apa benar mereka cuma saling sapa?"
Naya kelabakan, air matanya meluruh banyak. Putus asa, dia pun mendekat lagi dan memegang lutut Mike. "Tolong Tuan ... tolong maafkan saya. Saya janji nggak bakalan ngulangin lagi. Tolong jangan ganggu Kak Ken ...."
__ADS_1
Naya makin terisak-isak. Namun, Mike yang sudah kadung kesal justru menyeringai. Dia lepas apitan tangannya lalu mencengangkan kuat bahu Naya.
"Dia asisten Laura, 'kan?"
Naya tak menjawab.
"Kamu manggilnya kakak. Wah, akrab banget kayaknya," sindir Mike lagi. Bibirnya kembali mengukir smirk.
Naya menelan ludah, matanya bergerak liar karena takut. Ucapan Mike barusan bukanlah sindiran biasa. Dia baru sadar telah melakukan kesalahan tanpa sadar.
"Seberapa dekat kalian?" tanya Mike lagi. Cengkeramannya makin terasa kuat dan Naya tentu saja merasakan ngilu di bahu.
"Ayo jawab! Atau kamu mau saya yang nanya orangnya langsung?"
Naya menggeleng tegas. Air matanya meluruh makin deras. "Kita nggak punya hubungan apa-apa, Tuan. Cuma pernah tinggal serumah. Itu pun karena Tante Laura yang suruh. Selama seminggu tinggal bareng kita gak pernah ngapa-ngapain, kok. Dia cuma ngajarin tentang tata krama dan lainnya," jelas Naya dengan perasaan takut yang sudah berkecamuk hebat.
"Oh, hebat juga asistennya Laura itu. Saya mau lihat sehebat apa dia." Mike melihat Jordan lalu kembali berkata, "Jordan ...."
"Jangan Tuan!" sela Naya panik. Dia tahu Mike pasti akan menghancurkan Ken. Dan dia tidak ingin Ken menderita karenanya.
Memelas. Ya, Naya melakukan itu. Dirinya yang masih berlutut meraih tangan kanan Mike lalu meletakkannya di atas kepala.
"Tuan maafin. Saya janji bakalan ngelakuin apa pun yang Tuan mau. Tapi tolong lepasin Kak Ken. Dia nggak salah apa-apa. Dia cuma mau nanyain kabar saya," ulang Naya. Bibirnya bergetar. Sangat takut jika Mike nekat. Bagaimanapun Ken berkata akan mencari kelemahan Mike. Dia takut sebelum Ken berhasil Mike lebih dulu menghancurkannya.
"Wah, menyentuh sekali. Demi dia kamu berani berlutut kayak gini. Wah ... hebat hebat."
Mike bertepuk tangan. Lalu sedetik kemudian kembali melihat Naya. Bibirnya membentuk setengah senyuman, lantas tanpa permisi dia tarik tangan Naya dengan paksa agar duduk di sampingnya.
__ADS_1
Tenang, pelan dan perhatian Mike hapus air mata Naya lalu berkata, "Sebegitu pentingnya 'kah dia untukmu? Hmm ...."
Naya mengangguk sekali, tapi sepersekian detik kemudian langsung menggeleng tegas. "Enggak kayak gitu. Kita beneran enggak ada hubungan apa-apa."
Mike mengangguk, warna mukanya sudah sedikit berubah dan tidak lagi merah padam seperti sebelumnya. Dia bahkan rela membetulkan pakaian Naya dan membersihkan lutut gadis itu.
"Oke, kali ini saya percaya. Tapi jangan pernah ulangi lagi. Saya tidak suka penghianat. Kamu jangan coba-coba melakukannya jika gak mau menerima hukuman."
Mike berucap pelan tapi jelas penuh penegasan. Bahkan terdengar ada sedikit ancaman di ujung kalimatnya hingga Naya tanpa sadar menahan ludah. Satu sisi dia lega tapi satu sisi juga masih takut pada Mike.
Namun satu yang hal yang patut disyukuri. Meskipun seperti itu Mike bukanlah tipe laki-laki yang ingkar janji.
Naya mengangguk. Anehnya Mike kembali mencengkeram pipinya dengan kuat.
"Ingat, ini teguran pertama dan terakhir Naya. Jangan pernah kamu kepikiran buat kabur dari saya. Karena mau bagaimanapun kamu tetap milik saya. Orang saya. Dan saya gak suka milik saya diambil orang lain. Saya gak suka kecurian. Kalau saya bosan pasti saya buang. Tapi jangan berkepikiran untuk curang. Paham?" tagasnya dalam kata, lalu dengan kasar melepas cengkeraman hingga Naya merasakan sedikit pusing di kepala.
"Camkan itu!"
Naya lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah. Hanya ada kata syukur dalam hati. Paling tidak Ken lepas dari masalah hari ini.
Mike menghirup udara dalam-dalam lantas mengembuskannya. Tenang dia mengusap pipi Naya yang memerah. "Kalau gitu minta maaflah dengan tulus," ucapnya lagi lalu menyeringai licik.
"Tuan. Saya minta maaf, saya beneran minta maaf," ujar Naya seraya mengelap air matanya yang kembali turun.
Mike menggeleng tegas. "Bukan. Bukan seperti itu. Minta maaflah dengan tubuhmu."
__ADS_1