
"Nona dari mana?"
Suara itu membuat Naya melonjak kaget. Kunci yang ada di tangan bahkan nyaris jatuh.
"P-pak Jordan. Sejak kapan ada di sini?" tanya Naya. Matanya membesar. Ternyata tidak hanya jordan, bahkan juga ada Mala di sana.
"Kami menunggu Nona dari tadi," sambung Mala.
Naya memungut kembali kunci yang terjatuh, lantas mempersilakan kedua manusia itu untuk masuk. Namun, ditolak Jordan dan Mala secara sopan.
"Kami datang ke sini cuma mau kasih ini," ucap Mala sembari menyerahkan sebuah bag paper pada Naya.
Naya yang masih bingung pun tetap menyambut itu. "Ini apaan, Mbak."
Mala terdiam. Dia melirik Jordan.
"Itu hadiah yang sudah Tuan Muda persiapkan. Hadiah Anniversary pertama dan kedua."
Naya terhuyung. Punggungnya membentur pintu. Bahkan benda yang di tangan juga terlepas. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Mala. Dia hendak membantu tapi Naya mengangkat tangan—kode agar Mala tak mendekat.
"Aku bisa sendiri, Mbak. Aku gak apa-apa," balasnya dengan bibir bergetar. Kini matanya fokus ke Jordan. "Apa itu maksudnya?"
"Maafkan kami. Sebenarnya paket itu setiap tahun datang ke rumah utama. Hanya saja tahun lalu tidak mungkin menyerahkannya. Jadi ...."
Naya tiba-tiba merosot dan berjongkok. Matanya mulai mengeluarkan banyak air mata. Namun lagi-lagi dia menolak Mala yang akan membantunya berdiri.
__ADS_1
"Jadi paket itu setiap tahun akan datang. Paket berjangka yang sudah Tuan Muda siapkan sehari sebelum resepsi," papar Jordan lagi. "Jadi kemungkinan tahun depan akan datang lagi."
Naya tak bersuara. Hanya matanya yang memproduksi air begitu banyak. Dalam pandangan yang sudah terpecah-pecah dia hanya menatap dua kotak kado yang sudah ada di lantai.
Kini Mala tak bisa abai. Dia bantu Naya berdiri dan menuntunnya duduk di sofa ruang tamu. Lantas memeluknya.
"Maafkan kami, Nona. Kami hanya ingin yang terbaik buat Nona. Lupakan Tuan Muda. Jadi kami berpikir sekarang sudah waktunya Nona melanjutkan hidup. Lupakan dia, terima kenyataan dan cara paling ampuh adalah menghadapinya," ucap Mala. Dia mengusap punggung Naya dengan pelan.
Naya yang sesenggukan kembali mengeratkan pelukan. "Dia jahat, Mbak. Jika sepeduli ini kenapa dia mati begitu cepat."
"Nona, tenanglah."
Naya sesenggukan makin dalam. Mala pun dengan setia menemaninya. Setelah tenang Mala pun menuntun ke kamar. Dia tatap mata Naya yang sembab setelah memberi selimut.
"Nona harus kuat. Lupakan semuanya."
Naya tak bisa melanjutkan kata. Dia tarik selimut dan menutup wajah.
"Saran saya Nona tenangkan diri. Berliburlah. Jika Nona mau nanti akan saya persiapkan segalanya."
Naya mengangguk. Dia lepas kepergian Mala dengan senyum getir.
Lama Naya terdiam. Matanya terbuka, pikirannya melanglang buana. Sosok Mike terlalu membekas hingga untuk melangkah maju saja dia takut. Untuk membuka hati pada siapa saja dia enggan. Enggan melihat dunia, enggan dengan apa pun. Dia tidak ingin saat membuka hati dia akan ditinggalkan lagi.
Teruntuk Ken, entahlah ... apa rasa itu masih ada atau tidak. Namun yang jelas dia shock setelah mendengarkan penjelasan Sean tentang perlakuan Laura ke Ken. Dia ingin tahu kabar Ken, tapi ....
****
__ADS_1
"Baiklah. Saya akan ke sana segera," ucap Jordan. Dia lalu menutup telepon.
"Siapa?" tanya Mala.
"Broto."
"Soal Tuan Muda Aston?" tanya Mala lagi.
Jordan mengangguk.
"Apa kamu yakin bisa menemukan anak itu? Orang tuanya saja udah nyerah."
"Aku inginnya juga begitu. Tapi ...."
Jordan tidak melanjutkan kata, begitu juga Mala yang tidak bertanya lebih lanjut. Kedua manusia itu sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Jordan, apa kita gak keterlaluan?" tanya Mala setelah sekian lama bungkam. Dia melirik Jordan yang fokus mengemudi.
"Apanya?"
"Ini soal Nona Naya."
Lagi, Jordan mengembuskan napas panjang.
"Entahlah. Kita hanya suruhan, Mala. Kita hanya harus melakukan yang diperintahkan."
"Tapi aku gak tega."
__ADS_1
"Kamu pikir aku tega?" sahut Jordan. Dia mengusap wajah gusar dengan sebelah tangan, lantas mengembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya. "Sudahlah jangan bahas lagi. Kita lihat saja nanti."