Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Pilihan Berat.


__ADS_3

"Tidak sesederhana itu, Nona. Dia tidak menampakkan diri bukan berarti selama ini dia tidak tahu keberadaan Nona. Nona hanya tidak menyadari itu. Asal Nona tau saja, selama ini dia sudah mengetahui keberadaan Nona bahkan jauh-jauh hari sebelum ini," jelas Ken.


"A-apa maksudnya itu?" Naya terbata. Nanar dia menatap Ken. "Apa maksud Kak Ken ini sudah terencana? Maksudnya, dia udah tahu selama ini kalau aku tinggal sama Nenek dan sengaja ketemu aku saat nenek meninggal?" cecar Naya.


Sungguh, dia mengharapkan sanggahan. Jika benar spekulasi yang berkembang dalam kepala itu artinya Laura benar-benar orang yang mengerikan.


Ken tak menjawab. Dia kembali menghadap depan.


Naya pun tergelak ironi. Dia ingin sekali menampik pikiran buruk itu, tapi ....


"Gak, enggak. Itu gak bener, 'kan? Mustahil Kak. Tante Laura bilang kalau dia baru ketemu aku kemarin sore."


Ken tetap tak menjawab dan bungkamnya Ken membuat pikiran buruk itu semakin menguasai Naya. Gadis itu tersandar lesu dengan air yang kembali menetes membasahi pipi.

__ADS_1


"T-tapi kenapa? Apa maunya?" tanya Naya, terdengar lirih dan putus asa.


"Maaf Nona. Hanya itu yang bisa saya katakan. Intinya demi kenyamanan dan keamanan Nona sebaiknya Nona menurut saja. Bu Laura bukanlah tandingan Nona."


"Tapi kenapa? Apa maunya? Enggak ada untungnya buat dia. Aku hanya anak simpanan suaminya dan kalau media tau bukannya dia bakalan malu?"


Ken lagi-lagi terdiam, dia tak menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang Naya lontarkan.


"Tolong Kak, tolong lepasin aku. Aku beneran gak bisa kayak gini lagi. Walaupun di sini aku dikasih makan yang enak-enak, tapi tetap aja aku mau pulang. Aku gak bisa serumah sama orang itu."


Penuturan singkat Ken itu membuat Naya menelan ludah, dia baru ingat kalau rumah satu-satunya tempat bernaung selama ini sudah hangus dimakan api. Benar kata Ken, dia tidak punya tempat tujuan lain. Kenyataan itu semakin memukul Naya. Gadis itu semakin tertunduk lemah sembari menghela napas panjang.


"Lagi pula, Nona nggak akan bisa lepas dari bu Laura, karena yang ada di tangan Nona itu ada sinyal GPS-nya. Perhiasan itu sudah lama dipersiapkan bu Laura untuk Nona. Dia sudah lama mengincar Nona. Jadi tidak mungkin dia akan membiarkan Nona lepas begitu saja," papar Ken. Sebuah kenyataan yang akhirnya membuka mata Naya jadi semakin lebar.

__ADS_1


"Ini ... ini GPS?" tanya Naya seraya mengangkat tangan kiri. Dia lihat lekat benda yang melingkar di tangan. Seketika terjawab sudah kecurigaannya sejak tadi. Ternyata benda itu bukanlah gelang biasa. Pantas saja ada angka-angkanya.


"Iya, itu perhiasan khusus yang dia siapkan untuk Nona," jelas Ken tanpa basa-basi.


Seketika Naya meraung makin keras, tak terbayangkan sebelumnya kalau dirinya akan menjadi tawanan Laura. Dia merasa sudah seperti anjing peliharaan.


"Ya Tuhan ...." Naya menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Dia menangis, meraung dan mengutuk nasib sial yang terus saja silih berganti menghampiri.


"Lalu aku harus apa, Kak? Aku nggak bisa kayak gini, aku takut sama dia, dia jahat," lirih Naya dengan posisi masih sama—telapak tangan menutup wajahnya.


"Maka dari itu lebih baik Nona menurut saja. Jadi ayo kita masuk ke dalam, banyak yang harus saya ajarkan pada Nona. Selama lima hari kedepan saya harap Nona bisa menjadi yang dia mau."


"Tapi ...."

__ADS_1


Naya mengangkat kepala, nanar dia menatap Ken yang masih saja memasang wajah tanpa ekspresi. Melihat gimik muka Ken yang begitu membuatnya mulai curiga, sebenarnya manusia seperti apa Ken itu? Di satu sisi dia seperti penjahat berdarah dingin. Namun, di sisi lain seperti malaikat tanpa sayap. Pria itu begitu apik menyimpan ekspresi meski orang di depannya penuh emosi.


"Bagaimana Nona? Anda mau keluar sendiri apa saya gendong?"


__ADS_2