
"Nona sudah bangun?"
Suara berat Ken menyentak, gadis itu hampir terjatuh kalau saja di dekatnya tak ada meja.
"S-sudah, Kak," balas Naya terbata sembari memegang erat tepian meja.
Ken tak berkata lagi. Dia kembali fokus menata spaghetti di atas piring lalu mendekati Naya yang berdiri mematung.
"Kita sarapan. Saya harap Nona suka," papar Ken sembari menyodorkan piring berisi spaghetti.
Naya menelan ludah. Belum apa-apa tampilan serta aroma nikmat makanan khas Italia itu sukses membuat bunyian dari dalam. Bunyian yang tentu saja semakin membuat Naya malu. Dia pegang perutnya lantas pelan-pelan duduk.
Tak ingin mendapat teguran karena salah bersikap di meja makan, Naya pun memutuskan untuk memperhatikan cara Ken terlebih dulu. Dalam pandangan Naya, Ken kembali tampak bersinar. Begitu tenangnya pria itu saat makan. Semuanya terlihat indah dari bibir yang bergerak, rahang yang bergoyang serta jakun yang naik turun. Naya kembali seperti orang linglung hingga Ken yang sadar kalau tengah diperhatikan berdeham sekali.
"Kenapa tidak dimakan? Nona tidak suka?" tanya Ken.
Lekas Naya menggeleng. Dia kembali menunduk dan meraih piring, menikmati makan lezat itu sambil mengutuk diri.
'Bodoh banget si aku. Gimana ceritanya mandang laki-laki penuh ***** begitu? Aku pasti udah gila. Sadar ... sadar, sebenarnya ada apa denganku?' batinnya.
Beberapa menit pun berlalu. Keduanya sarapan dengan tenang tanpa ada sepatah kata pun yang keluar.
"Terima kasih untuk sarapannya," kata Naya seraya berdiri, dia ingin mengangkat piring bekas makan tapi dihalang oleh Ken. Pria itu memegang tangannya, ekspresinya tetap sama—tenang tapi mengintimidasi.
Heran, Naya pun bertanya, "Kenapa Kak? Apa aku ngelakuin kesalahan lagi?"
__ADS_1
Ken menggeleng. "Letakkan saja piringnya. Ingat, jangan pernah membersihkan bekas makan karena ada orang yang bertugas untuk itu."
Seketika Naya melotot. Dia serasa dipaksa untuk bermalas-malasan.
"T-tapi kenapa? Aku gak masalah kok. Aku udah terbiasa begini," tanyanya.
"Itu karena Nona bukan Nona Naya yang dulu. Sekarang Nona adalah tanggung jawab Bu Direktur, yang otomatis juga menjadi tanggung jawab saya. Saya harap Nona bisa melupakan kalau Nona pernah menjadi orang biasa. Sekarang status Nona sudah berubah."
Naya menelan ludah. Sumpah, dia bingung tapi tetap berakhir menurut. Dia lepas piring yang ada di tangan dan memperhatikan Ken yang mulai berdiri.
"Sekarang mohon ikut saya," ucap Ken lagi.
Bak dicolok hidungnya, Naya pasrah saja. Dia ikuti langkah Ken tanpa ada penolakan berarti seperti hari-hari sebelumnya. Dia bahkan tak bersuara padahal dituntun masuk ke dalam kamar pria itu.
"Kak Ken ...."
Naya terdengar merengek. Namun, Ken tetap abai. Pria itu menuju ranjang dan membawa benda yang sukses mengubah Naya dari tenang menjadi belingsatan.
Heels, ya sandal tinggi nan indah itu sukses membuat Naya mengalami spot jantung. Bahkan suara derap sepatu Ken yang mendekat serasa intaian maut. Naya membalik badan hendak pergi dari sana tapi Ken memanggil namanya.
Pasrah, Naya pun kembali membalik diri dan menatap sendu pada Ken.
"Kak Ken, aku gak bisa. Kakiku masih sakit ...."
Naya kembali setengah merengek, sangat berharap Ken luluh. Meskipun cara itu sudah dia coba berulang kali dan tetap saja jawaban Ken tetap sama—pria itu tak peduli sama sekali.
__ADS_1
"Beneran masih sakit?" tanya Ken.
Gegas Naya mengangguk.
"Kalau gitu, ayo kita coba."
"Hah?"
"Ya, kita coba," sahut Ken.
Tanpa pemberitahuan Ken langsung berjongkok dan memasangkan heels ke kaki Naya. Pas, masuk dengan mudah.
Tersenyum sedikit, Ken lantas mendongak melihat wajah Naya yang terlihat ngeri-ngeri sedap.
"Gimana? Masih sakit? Coba goyang-goyang."
Naya mengembuskan napas panjang, memberanikan diri membuka mata dan melihat di kakinya sudah terpasang sepatu yang begitu menyiksa itu. Aneh, sekarang tidak sesakit kemarin. Bahkan dia bisa menggerakkan pergelangan kaki dengan bebas.
"Masih sakit?'' ulang Ken.
Naya nyengir, lantas menggeleng pelan.
Satu lagi Ken pasangkan sepatu itu. Pas, kini Naya tidak perlu bantuan dinding untuk menopang tubuh. Dia sudah bisa berdiri tegak.
"Sekarang ikut saya," pinta Ken.
__ADS_1