
Brakh!
Sean membanting pintu. Dia masuk kamar lantas membuka jas serta kemeja. Emosinya meledak makin hebat. Awalnya dia kira setelah mengeluarkan unek-unek yang tertahan selama ini akan membuatnya tenang dan akan menyadarkan Naya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dia semakin tidak enak hati karena bersikap menggurui. Teruntuk Naya, dia yakin gadis itu pasti makin sedih. Terbukti karena belum pulang saat hari sudah malam. Padahal tadi setelah selesai bekerja Sean berniat meminta maaf. Hanya saja rumah gadis itu kosong. Begitu juga tempat usahanya.
Sean masuk ke kamar mandi. Dia hidupkan keran di wastafel dan membasuh muka.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sean makin kesal. Air dingin itu tak berefek apa-apa. Dia buka mata dan terperanjat saat melihat Sella yang berdiri dari pantulan cermin. Adiknya itu melotot tajam dengan tangan yang sudah bersedekap.
Tingkat kekesalan Sean naik secara signifikan, dia lantas mengelap muka dengan handuk dan melemparkan ke arah Sella.
"Bisa gak sih jangan nyelonong?" dengkus Sean. Dia lewati Sella yang bersandar di pintu den memegang handuknya.
"Trus, salah siapa bikin penasaran. Nutup pintu aja udah kaya emak-emak nepuk kasur pas lagi emosi. Kenceng bener. Aku kira tadi ada gempa lokal, lho," sahut Sella tak kalah sinis. Dia dekati Sean. Abangnya itu tengah terbaring di ranjang dengan tangan membentang.
"Emang ada apa sih? Dapat klien nyebelin?" tanya Sella. Sekarang dia sudah duduk di atas nakas dengan alis naik turun.
Sean membenarkan posisi. Dia duduk tegap dan menatap lekat pada Sella yang mengenakan pakaian tidur.
"Sel, apa semua perempuan di dunia ini selalu menggunakan perasaan dan menyingkirkan logika?" tanya Sean.
"Tentu saja. Emang gak semua sih, tapi hampir keseluruhan perempuan begitu. Makanya laki-laki disebut mahluk visual dan perempuan emosional. Laki-laki mengedepankan logika, kalau perempuan banyak cabangnya. Masa iya itu aja pake nanya, sih, Mas?" sahut Sella.
Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah. Dia dekati Sean dan duduk bersisian dengannya.
"Apa ini soal janda muda itu?" lanjutnya dengan berbisik.
__ADS_1
Sean berdengkus. Dia memalingkan wajah.
"Kenapa? Ditolak, ya?" goda Sella lagi. Dia cekikikan.
Sumpah, ingin rasanya Sean menyeret gadis itu keluar dari kamar, tapi urung dilakukan karena tahu tabiat adiknya itu. Dia pasti akan membuat heboh para penghuni rumah.
"Ayolah ngaku aja. Mas ditolak, 'kan?" ulang Sella seraya menyenggol lengan Sean.
Namun, Sean tak menjawab. Dia memutuskan kembali merebahkan diri di ranjang dan sengaja memejamkan mata. Bodo amat dengan ucapan adiknya.
"Tapi kayaknya Mas kudu usaha total. Aku yakin pasti susah menangin hatinya. Aku yakin banyak yang dia pikirkan."
Celotehan Sella kali ini membuat Sean tak bisa abai. Dia kembali duduk tegak dan menatap wajah Sella.
"Memangnya apa sih yang harus dipikirkan lagi? Bukankah semuanya udah jelas. Dia janda. Apa salahnya memulai dengan orang lain?"
"Yee gak semudah itu juga kali Bambang. Semua ada tahapannya dan ada levelnya. Kalo dari penglihatan aku sebagai perempuan, dia pasti berat buat melangkah. Bayangkan, dia kehilangan suami saat resepsi. Gak sampai situ, dia juga keguguran. Terus gak lama kabar itu beredar luas. Belum lagi banyak orang yang numpang ngeksis di tivi. Mereka bilang mengenal Naya dan bla bla bla. Dan parahnya lagi mereka menyangkut pautkan semua dengan masa lalu. Jadi menurut Mas, apa dia bisa buka hati dengan mudah?"
Sella menggeleng. "Gak bisa. Perlu perjuangan besar. Aku salut dia gak sampai kepikiran buat gantung diri."
"Aku gak ngasal Mas. Gosipnya menyebar ke mana-mana. Berita itu kan sempat viral."
"Ya tapi kan itu cuma gosip. Lagian juga gak lama kan. Pihak dari Abraham Group juga udah nutup tu berita. Gak sampe sehari malahan. Lagian tuh ya, kamu itu kan berpendidikan. Masa percaya yang begituan. Nalar dong di pake. Percuma bergelar dokter juga."
"Lah kok ngegas sih. Aku kan cuma cerita. Kalo aku sih gak masalah. Yang penting Mas suka dan Bapak Ibuk setuju. Udah, gitu aja."
"Ngarang," ketus Sean lagi.
"Eciee ... ngebet banget kayaknya," goda Sella lagi dia terbahak saat melihat Sean yang berdengkus.
"Jangan bercanda. Orang lagi serius ini."
"Iya iya iya. Mon maap. Tapi kan seneng kan ya digodain begini?" Sella kembali cengengesan.
__ADS_1
Sean tak menjawab. Adiknya itu kalau sudah kepo cerewetnya melebihi token listrik yang mau habis.
"Tapi, Mas. Gak ada yang mustahil kok di dunia ini. Sulit buka hati bukan berarti gak bisa. Intinya Pepet aja terus. Gasken ... jangan kendor."
"Makin ngasal kamu ya. Lagian siapa yang suka sih? Orang cuma nanya juga."
"Yaelah gak mau ngaku. Kamu itu suka sama dia. Coba tanya, semua orang itu tau tatapan kamu sama dia itu beda."
"Sok tau! Pergi sana. Aku mau mandi!"
"Ya emang aku tau."
Sean yang sudah di ambang pintu kembali membalik diri. Dia mengukir senyum sinis. "Kalau gitu, apa kamu tau kalau Ken juga suka sama dia?"
Senyum Sella lenyap. Matanya serius menatap Sean. Dia ingin bertanya tapi keburu sang abang menutup pintu.
"Mas ... buka pintunya! Maksudnya apa itu! Ken juga naksir dia?"
Senyap, sama sekali tak ada sahutan dari dalam. Tentu saja hal itu membuat Sella makin kesal. Dia gedor makin kuat itu pintu kamar mandi. "Mas Sean! Buka pintunya!"
Namun Sean memilih abai.
"Rasain, terlalu rese sih. Mamam tuh."
****
"Neng, sudah sampai."
Suara itu tak ayal membuat Naya terlonjak kaget dan refleks membuka mata. Dia celingukan dan benar adanya, dia sudah tiba di depan rumah. Rumah sederhana dengan dua lantai.
Membuka tas tangan, Naya pun menyerahkan ongkos taksi dan pergi tanpa suara. Kepalanya tertunduk. Dia melihat kakinya yang bergerak selangkah demi selangkah.
Hari ini moodnya benar-benar hancur. Setelah pertemuan dengan Sean dia memutuskan ke tempat peristirahatan Mike. Di sana dia termenung dan mulai mengenang semua. Perkataan Sean sama persis yang pernah Mike katakan. Kalau dia adalah wanita jahat.
__ADS_1
"Nona dari mana?"
Suara itu membuat Naya melonjak kaget. Kunci yang ada di tangan bahkan nyaris jatuh.