Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Bandit Genit.


__ADS_3

"Kami hanya mau nemenin kamu. Jadi jangan takut. Kami bukan orang jahat, kok," balas Kristian—pria berbadan kurus tinggi dengan jaket denim membalut badan.


"Oiya, kamu mau ke mana? Mending ikut kita-kita aja. Gimana?" timpal seorang lagi yang bernama Juno. Pria itu berperawakan sedikit brewok, bahkan ada tato tengkorak di punggung tangannya.


"Iya, Neng. Mending ikut kita. Kita seneng-seneng. Gimana?"


Kini si pria berkepala plontos yang angkat suara. Namanya Mario, bisa dibilang Mario inilah ketua dari tiga pria lainnya.


"G-gak p-perlu. A-aku lagi nungguin temen," sahut Naya. Dia terbata. Bibirnya bahkan bergetar, keringat dingin juga sudah membasahi telapak tangan.


Alih-alih pergi mereka justru secara bersamaan makin memepet tubuh Naya hingga terpojok ke salah satu kendaraan yang terparkir.


"K-kalian mau ngapain?" Naya memeluk dirinya. Tangannya menyilang ke dada.


Ngeri, ya Naya merasakan itu. Beberapa kali dia menghindar dan menepis saat tangan-tangan nakal para pria asing itu mulai kurang ajar. Mereka terus mencolek lengan serta perut Naya.


"Tolong, jangan begini ...."

__ADS_1


Naya hampir menangis saat mengatakan itu. Sungguh, dia ketakutan. Ritme jantung sudah diambang batas normal. Dia ingin sekali berteriak, tapi aneh tak ada satu pun kata yang terlontar hingga sebuah derap kaki membuatnya sedikit merasa lega.


"Kak Ken ...."


Akhirnya air mata Naya meluruh. Dia senang plus lega. Ken hadir di saat-saat dia mulai putus asa.


Tanpa mau berdebat, Ken tarik tubuh kurus Naya dan membawanya ke belakang punggung.


"Apa mau kalian?" tanya Ken. Matanya nyalang menatap empat pria itu. Ken yakin mereka hanyalah anak-anak orang kaya yang manja. Terlihat dari pakaian mahal yang membalut badan mereka. Perkiraan umurnya sekitaran dua puluhan.


"Kamu yang siapa?" tanya Mario. Dia maju dan mencoba menarik lagi tangan Naya. "Urusi saja urusanmu. Jangan pedulikan kami," lanjutnya tegas.


Naya ketakutan, dia meronta mencoba melepaskan cengkeraman tangan Mario. Ken yang melihat itu pun tak membiarkan begitu saja. Dia dengan sigap mencekal pergelangan tangan pria itu. Dari sorot mata keduanya jelas sedang melakukan perang tak kasatmata.


"Lepasin dia," kata Ken dengan rahang yang sudah mengetat.


"Kalau aku gak mau?"

__ADS_1


Mario seperti menantang. Tak berapa lama tawanya mengudara. Dia tarik paksa Naya hingga terjatuh. Gadis itu meringis sebab telapak tangan membentur aspal.


Ken meradang. Tanpa ba bi bu dia langsung melayangkan tinju, tepat mengenai hidung pria botak itu. Darah segar pun keluar seperti keran bocor.


"Pergilah kalau kalian tidak ingin menginap di rumah sakit," ucap Ken yang bukan hanya gertakan biasa. Dia bisa bela diri dan takut akan khilaf saat menghajar Mario dan kawanannya.


Namun Mario mengabaikan. Meski terhuyung dan pandangan mulai tak fokus, dia mencoba berdiri tegak. Harga dirinya tercoreng. Dengan beringas dan membabi buta dia serang Ken. Dari tinjuan, tendangan dia layangkan bertubi-tubi. Sayangnya nihil. Ken sudah terlatih. Dia bisa menghindari serangan itu tanpa mengeluarkan tenaga lebih.


Tap!


Ken dengan cepat mengunci leher Mario dengan lengannya. Mario meronta kesakitan. Sedangkan teman-temannya hanya mematung karena ngeri.


Tak ingin membahayakan nyawa orang lain, Ken pun melepaskan Mario. Dari pendarnya lampu penerangan parkiran Ken dapat dengan jelas melihat wajah berang Mario. Pria botak itu terbatuk-batuk menetralkan pernapasan yang sempat tercekat.


Masih tak mau kalah, Mario pun memberi kode dengan kerlingan mata. Edwin yang mengerti langsung maju. Tanpa aba-aba dia melayangkan tinju.


Apes. Ken begitu cepat menghindar. Justru kepalan tinju Edwin Ken pelintir hingga suara erangan pun terdengar.

__ADS_1


__ADS_2