Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Tertangkap


__ADS_3

"Karena ini permintaan Bu Direktur. Saya hanya mengikuti perintah," balas Ken.


Naya menghela napas panjang. Dia biarkan Jovan memotong rambutnya yang panjang. Jujur, tadi dia sedikit senang dengan penampilannya yang begitu berbeda. Terutama rambut. Dulu hanya terkucir kuda kini ikal bergelombang dan tampak tebal.


Namun, sepertinya dia harus terima kenyataan kalau rambut panjang yang selalu menemani hari-hari harus dipangkas dan itu karena Laura.


Dalam kekesalan Naya perhatikan tangan Jovan yang begitu cekatan. Dari cermin Naya dapat melihat betapa berbinar mata Jovan saat memainkan gunting dan mengatur rambutnya


Seketika Naya terpikir dengan cita-cita. Dulu dia berkeinginan menjadi desainer fashion. Kadang kala jika ada waktu luang dirinya akan menggambar apa saja yang ada di kepala. Namun, karena tuntutan ekonomi dia terpaksa mengubur dalam-dalam keinginan itu dan bekerja sebagai kasir.


Menit demi menit berlalu, selesai sudah pemotongan rambut Naya. Gadis itu sudah berpenampilan baru dengan rambut sebahu dan kembali lurus.


"Nona terlihat cantik," ucap Jovan, dia lalu melihat Ken yang duduk kaku di kursi tunggu. "Bagaimana Ken, apa kamu setuju? Nona ini cantik banget, 'kan?"


Ken tak menjawab, dia justru mendekati Naya dan memindai penampilan gadis itu dari pantulan cermin.

__ADS_1


"Cantik, 'kan?" ulang Jovan.


Ken masih tak menyahut. Sorot matanya masih sama dan tentu saja membuat Naya bertanya-tanya, apa penampilan barunya terlihat aneh?


Berdeham sekali, Ken menyentuh hidung lalu berkata, "Maaf Nona, saya tinggal sebentar. Saya mau ke toilet. Nona tunggu di sini. Saya tidak akan lama."


Naya mengangguk, dia tatap punggung Ken hingga hilang ditelan belokan. Seketika ide gila hinggap di kepala tanpa dipinta. Naya tersenyum licik, dia celingukan melihat sekitar.


'Dikiranya aku mau gitu nunggu? Hello Ken Dedes, Kendesa atau Ken bensin, asal kamu tau, aku gak mau berhubungan dengan kamu ataupun lampir itu. Jadi jangan harap aku nungguin kamu.' Naya bermonolog. Dia kembali celingukan.


Seperti mendapat lampu hijau dari Tuhan, Naya melihat beberapa karyawan yang ada di sana terlihat sibuk. Jovan pun pergi entah ke mana. Dengan seribu keyakinan dan seratus persen harapan, Naya pun melepas heels dan melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Dia berlari kencang. Gaun panjang yang membalut badan dia tarik hingga lutut. Dia berlari tanpa alas kaki melewati kerumunan orang-orang.


Lima puluh meter.


Seratus meter.

__ADS_1


Naya lalui itu semua tanpa mengindahkan tatapan orang-orang. Sungguh, dia ingin lepas dari cengkeraman Laura dan Ken. Dia terus berlari membawa harapan yang begitu besar dengan mengabaikan rasa sakit di tumit yang tentu saja makin terasa menyakitkan.


dia benar-benar bertekad tidak ingin terperangkap dalam genggaman Laura. Entah apa yang direncanakan Laura, tapi Naya merasa istri sah ayahnya itu punya niat jahat.


Naya ngos-ngosan. Dia celingukan dan berhenti di sebuah bangku yang ada di sebuah jalan komplek. Keringatnya begitu besar, tapi senyuman terpatri manis di wajah.


"Akhirnya aku bisa kabur," gumamnya pelan sembari menghela napas lega.


Sayangnya belum juga bisa mengatur debaran di dada, sebuah derap sepatu membuat jantung Naya kembali berdebar cepat. Dirinya yang tengah menunduk pun perlahan-lahan mengangkat kepala dan mendapati wajah datar Ken. Pria itu menyodorkan sebotol air mineral.


"Capek?" tanya Ken singkat.


"K-kak Ken, k-kenapa b-bisa kamu ...."


Naya terbata. Sungguh, melihat wajah tampan tapi datar Ken membuatnya seketika menelan ludah. Dia hendak kabur tapi keburu tangan Ken mencekal lengannya.

__ADS_1


Naya membalik diri, dia menatap penuh iba. Sangat berharap Ken melepaskan dirinya. Namun sayang, Ken tetaplah Ken. Dia tanpa ekspresi menarik tangan Naya dan memaksanya kembali duduk.


"Minum dulu, Nona. Saya yakin Nona haus."


__ADS_2