
Ken tengah berjalan tergesa-gesa setelah memarkirkan mobil. Dia masuk ke salah satu kafe ternama di Jakarta. Matanya awas menyapu sekitar sesaat setelah membuka pintu.
"Ken, sini!"
Seruan seseorang dari pojok ruangan mengagetkan Ken. Sontak saja dia mencari arah suara dan mendapati orang yang dikenal tengah melambaikan tangan. Gegas dia mendekat.
"Kok lama? Sendirinya yang ngajak ketemuan tapi sendirinya yang telat. Gimana coba?" celoteh seorang pria bertubuh tegap tinggi. Dia menggunakan jaket denim berwarna biru pudar—mirip Dylan. Parasnya juga sangat rupawan—hidung mancung, bibir sedikit tipis, bahkan bulu matanya juga terlihat lentik, persis perempuan. Sayangnya dia punya jakun dan tentu saja itu artinya dia adalah pria.
Sean, namanya Sean. Dia teman Ken. Mereka sudah saling kenal sejak kecil.
Ken tak menggubris ocehan itu. Dia justru langsung duduk tanpa dipersilakan. Dia buka kancing jas dan menatap Sean yang duduk santai bersandar di kursi.
__ADS_1
"Tadi ada kerjaan lebih di kantor. Jadi harus dibereskan dulu," sahut Ken datar.
"Serius?" Sean membelalakkan mata. "Jangan bilang kamu masih betah kerja di sana?"
Ken tak menyahut. Ekspresinya menunjukkan ketidaksenangan. "Kamu tau aku gak bisa berenti kerja," ketusnya.
"Kenapa gak bisa? Bukannya Pak Burhan masih koma? Dan aku dengar yang menggantikan posisinya sekarang adalah istrinya. Aku dengar juga kalau penggantinya ini agak keterlaluan dan cuma tau bersenang-senang. Gak kompeten." Sean menautkan kedua tangannya, tubuhnya bahkan condong ke Ken. "Jadi, Ken. Percuma juga kamu bertahan di sana. Aku tebak perusahaan itu akan bangkrut dalam waktu dekat. Jadi sebelum itu terjadi lebih baik kamu ...."
"Sean!" potong Ken. Raut mukanya sudah masam. Tangannya bahkan sudah terkepal erat. "Ini pilihanku. Kerjaanku. Jadi tolong jaga ucapanmu!"
"Oke. Aku minta maaf. Aku salah. Pak Burhan memang orang baik. Wajar kamu setia sama dia. Tapi kan dia—"
__ADS_1
"Sean!" potong Ken lagi. Matanya bahkan melotot. "Apa kamu lupa, aku bisa kayak gini karena siapa? Dia Sean. Cuma dia yang peduli dan baik. Dia memungutku dari panti dan ngasih beasiswa. Aku berhutang banyak padanya. Jadi aku gak bakalan bisa pergi gitu aja ninggalin perusahaan yang dia kelola dengan susah payah. Kamu gak akan bisa ngerti, karena kamu dari lahir udah hidup nyaman. Kamu gak pernah berhutang budi sama orang lain. Kamu ...."
"Oke, oke aku salah. Aku minta maaf," sela Sean, dia bahkan mengangkat kedua belah tangan. Dia nyerah jika beradu dengan Ken. Ken pintar, kompeten dan jujur. Dia respek pada Ken.
Suasana mendadak hening. Ken dengan pikirannya sendiri begitu juga Sean sampai-sampai tiga menit berlalu sia-sia.
Menyeruput kopi yang ada di depannya, Sean lantas berkata, "Oh iya, ngomong-ngomong ngapain kamu ngajakin ketemuan? Udah hampir setahun kita nggak pernah ketemu. Tiba-tiba kamu ngajak ketemu dan minta bantuan. Katakan, apa itu?"
Ken masih bungkam. Dia masih mencoba menetralkan kemarahan. Namun, Sean yang tak paham mulai berspekulasi. Dia condongkan tubuhnya mendekati Ken. "Jangan bilang kalau kamu gak sengaja ngelakuin hal ilegal?"
Ken yang masih kesal mendorong kepala Sean. Dia berdecak. "Kalau ngomong jangan mengada-ngada."
__ADS_1
Sean tersenyum miring. Ken terlihat lebih tenang sekarang. "Lalu?" tanyanya.
"Aku butuh bantuan kamu. Selidiki seseorang."