Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Tes.


__ADS_3

"Jangan khawatir, dia hanya mengalami dehidrasi. Jadi mulai sekarang perhatikan asupan gizi. Dia juga butuh istirahat. Kalau bisa jangan buat dia stres. Kalau sudah bangun nanti kalian bisa pulang. Atau ... kalau mau dia juga bisa menginap di sini satu malam," papar seorang dokter paruh baya.


Ken yang posisinya berhadapan dengan sang dokter pun mengangguk paham. Dia antar dokter tersebut sampai ke depan pintu kamar, lantas kembali mendekati Naya yang terlelap. Dia duduk dan menggenggam tangan Naya yang dingin.


"Aku yakin kamu sulit membiasakan diri. Selama ini kamu pasti tertekan. Kamu pasti menderita." Ken menghela napas panjang dia rapikan rambut Naya yang berantakan dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi gadis itu.


"Maafkan aku, Naya. Karena aku yang bertingkah pengecut kamu jadi menderita begini. Aku janji, aku janji bakalan merubah segalanya. Aku akan berusaha membuat kamu ceria seperti dulu. Tolong kasih aku kesempatan. Walaupun aku bukan orang kaya, walaupun aku besar dari panti asuhan, aku berjanji akan menjaga kamu dengan baik. Aku yakin bisa bahagiain kamu. Tolong buka hati kamu lagi. Akan aku hapus kenangan buruk masa lalu kamu dengan kebahagiaan. Akan aku buat hidup kamu kembali sebelum kamu bertemu dengan orang itu."


Ken kembali menghela napas panjang, dia berdiri dan merapikan selimut Naya. Namun, tak sengaja melihat seseorang yang mengintip daru balik pintu ruangan.


Gegas Ken berlari, dia terus mengejar tapi sialnya kehilangan jejak. Orang itu telah lenyap ditelan belokan rumah Sakit


Kesal? Ya Ken merasakan itu. Saking frustrasinya dia bahkan memukul angin. Dia benar-benar penasaran kenapa orang itu selalu berkeliaran di sekitar Naya.


****

__ADS_1


Sementara itu di parkiran apartemen bawah tanah, tampak Jordan tengah menunggu di dalam mobil. Dia terus mengusap dagu dengan mata yang tak lepas dari sebuah kertas. Biodata Ken lengkap dengan foto serta prestasi semasa sekolah.


Kepala Jordan makin berdenyut. Dia benar-benar tak menyangka kalau Tuan Muda Aston yang selama dua tahun ini dia cari ternyata adalah Ken. Orang yang membuatnya jungkir balik mencari informasi. Sungguh, baru Ken yang membuatnya begitu frustrasi. Biasa dia akan mendapatkan informasi hanya dalam hitungan jam, tapi Ken ....


Jordan mulai berpikir, siapa orang yang telah menyembunyikan identitas Ken begitu apik. Semua tersusun hingga dia tidak bisa melacak. Satu yang Jordan bisa tebak, orang yang ada di belakang Ken bukanlah orang biasa.


Tiba-tiba pintu mobil diketuk. Jordan yang sempat berjengket pun membuka kaca pintu mobilnya sedikit. Dia melihat sekitar dengan sorot mata elang.


"Bagaimana? Berhasil?" tanyanya.


Si pria yang mengetuk mengganggu. Dia yang berpenampilan serba hitam dengan maker di wajah juga melihat sekeliling dengan sorot mata waspada. Dia lantas menyerahkan satu buah sikat gigi dan satu kelas yang telah dibungkus dengan plastik hitam ke tangan Jordan.


"Kamu yakin tidak meninggalkan jejak?" tanya Jordan.


Si pria suruhan mengangguk yakin. ''Saya sudah memastikan kalau CCTV semuanya mati."

__ADS_1


Jordan mengembuskan napas panjang. Dia lalu mengeluarkan amplop dan menyerahkannya kepada pria itu, lantas pergi dari sana menuju rumah sakit. Info sudah di dapat, satu-satunya adalah dengan mengecek DNA. Apakah benar Ken adalah Tuan Muda Aston, itu artinya Ken adalah sepupu Mike.


Kepala Jordan kembali terasa berat. Dia injak gas dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia butuh kejelasan dan kepastian secepatnya.


***


Di sebuah kafe yang ramai pengunjung. Terlihat seorang pria bertopi hitam berjalan dan duduk sendirian. Dia melihat jalanan saat malam dari jendela besar. Pandangannya kosong, dia bahkan terdengar menghela napas berkali-kali.


"Mas, kursi ini ada yang punya gak. Kalau nggak ada ...."


"Jangan duduk di sini. Cari kursi lain. Saya sudah menikah dan jangan coba-coba mendekati saya. Saya tidak tertarik dengan kamu," balas si pria bertopi tanpa menoleh sama sekali.


Teruntuk gadis itu, tentu saja dia malu, wajahnya serasa kembang kempis. Dia tinggalkan pria songong itu sendirian.


"Jangan terlalu kasar, dia cuma mau duduk," ucap seseorang yang memakai celemek khas barista. Dia meletakkan segelas latte di depan pria itu.

__ADS_1


"Aku gak percaya. Perempuan di mana-mana sama saja. Kecuali satu orang."


Si barista tersenyum ironi. "Jika kangen datangi dia. Mau sampai kapan kucing-kucingan terus?"


__ADS_2