Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Kangen Ken.


__ADS_3

Bagai dikejar setan, Naya terus seja berlari tanpa melihat ke belakang. Dia terus menyusuri lorong rumah sakit, melewati para pasien maupun dokter tanpa peduli pandangan mereka. Baginya ini adalah kesempatan terakhir. Mike sedang keluar negeri dan Jordan juga sedang tidak bersamanya.


Akhirnya Naya tiba di depan. Senyumnya tercipta sempurna meski napas tersengal-sengal. Harapan bisa bertemu Ken tinggal sejengkal lagi. Dia terus saja berlari dan berniat memberhentikan taksi.


Namun, tanpa dia sadari ternyata ada sebuah mobil yang muncul dari arah samping. Suara klakson pun menggema hingga memancing rasa ingin tahu semua orang yang ada di sana.


Sementara Naya, tentu saja kaget. Dia sampai menutup telinga dan mata secara spontan.


"Woi! Liat jalan, dong!" umpat si pengendara.


Naya yang baru saja sadar dengan situasinya seketika menepi. Wajahnya bahkan sampai pucat, keringat dingin juga bercucuran. Saking takutnya dia sama sekali tidak berani menatap pria yang ada di mobil. Mau bagaimanapun tetap dirinya yang salah.


Jadi, demi keamanan dan kelancaran agar bisa bertemu Ken, gadis itu hanya mengangguk dan meminta maaf berkali-kali. Sungguh, dia hampir kehilangan detak jantung karena klakson tadi.


"Mata itu dipake! Jangan jadiin pajangan! Gimana, sih? Jangan mentang-mentang ini dilingkungan rumah sakit kamu jadi seenaknya sendiri," omel pria itu lagi. Dia menatap sinis Naya dari jendela mobil yang sudah terbuka setengah, lantas dengan kejam meludah di depan Naya dan hampir saja mengenai kaki.


"Dasar perempuan sinting!" lanjutnya lagi. Dia pun kembali mengendarai mobil keluar dari sana.


Sepeninggal pria itu Naya seketika berjongkok. Tubuh sudah gemetar hebat. Dia benar-benar tidak sanggup, rasanya tenaga seperti sudah terkuras habis.


Namun, tekat Naya sudah bulat. Dia ingin sekali menemui Ken untuk terakhir kali.

__ADS_1


Menarik napas panjang, Naya pun berdiri. Akan tetapi tiba-tiba ada sosok pria yang menghadang. Naya yang kaget refleks menghindar dan berakhir terjungkal ke belakang.


Sakit? Jelas saja. Pantat sudah serasa kebas dan telapak tangan yang perih karena tergores. Anehnya saat dia mendongak rintihan sakit tadi seketika sirna berganti dengan bibir yang mengatup dengan getaran halus.


"P-pak J-jordan?" ucap Naya, dia terbata dengan bola mata yang membulat sempurna. Saking terkejutnya dia bahkan tak melawan saat Jordan membantunya berdiri dan membersihkan pakaian yang sedikit kotor.


"Nona mau ke mana?" tanya Jordan.


Naya terdiam. Dia mati kata dan mati segalanya. Jordan adalah pengikut setia Mike. Apa jadinya jika pria itu mengadu dan mengatakan semuanya?


'Habis sudah. Habis aku kali ini,' batin Naya. Dia mulai resah.


"Apa ada yang mau Nona beli?" tanya Jordan lagi. Suaranya terdengar datar. Entah kenapa berhadapan dengan Jordan kali ini membuatnya merasa sedang berhadapan dengan Mike. Gegas dia mengatupkan kedua belah tangan. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca tanpa bisa ditahan.


Suara klakson dari arah belakang memutus lisan Naya. Lekas keduanya melihat kebelakang dan mendapati sebuah mobil sedan berwarna silver yang familiar. Di dalamnya ada Mala yang duduk belakang kemudi.


"Mbak Mala ...." Mata Naya melotot melihat itu. Mala bahkan menatapnya tanpa ekspresi sedikit pun. Tidakkah wanita itu marah?


"Ayo Nona Naya. Saya antar. Mala sudah menunggu," sela Jordan sopan. Dia bantu Naya menuju mobil dan membukakan pintu untuknya.


Teruntuk Naya, gadis itu seperti sapi yang sudah dicolok hidungnya. Dia pasrah saja dan menangis dalam diam di sepanjang perjalanan. Matanya yang sembab melihat keadaan jalan raya yang masih saja sama—padat dan macet.

__ADS_1


Entahlah, duo manusia kaku—Jordan dan Mala—itu sama sekali tak berkata. Tidak memarahi, menasehati ataupun lainnya. Kedua manusia itu memperlakukan dirinya seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa dan tetap sopan. Anehnya tidak ada obrolan satu pun yang keluar dari bibir mereka.


Tiba-tiba saja Naya menghela napas panjang. Mala yang sedang mengemudi meliriknya sekilas lalu memberi kode pada Jordan untuk mendekat. Mereka saling berbisik.


"Apa kalian akan ngadu sama dia?"


Pertanyaan tiba-tiba Naya memecah keheningan. Namun, tidak ada yang menjawab hingga membuat Naya merasa putus asa dan tersiksa batinnya. Dia hapus air mata lantas melihat pucuk kepala Jordan dan Mala.


"Aku gak ada kepikiran buat kabur. Aku cuma mau ketemu seseorang. Habis ketemu pasti balik lagi. Beneran, sumpah," jelas Naya dengan suara dan emosi yang sedikit menggebu-gebu.


Anehnya, lagi-lagi ucapan Naya tidak direspon kedua orang itu.


"Aku tau manusia kayak apa Tuan Muda Mike itu. Jadi aku gak punya nyali buat lari. Cuma Pak ... aku beneran mau ketemu seseorang untuk terakhir kalinya. Apa mustahil? Apa beneran gak bisa?" lirih Naya.


Kali ini Naya tak bisa menyembunyikan kesedihan. Dia terisak-isak hebat sembari menutup wajah dengan kedua belah tangan dan meratapi nasib sial yang mendera.


Sumpah. Ingin rasanya dia berontak pada takdir dan keadaan yang seolah memberinya harapan. Namun, takdir juga yang membuat kebahagiaan dan harapan itu sirna dalam sekejap saja. Yang tersisa hanyalah keputusasaan.


Naya terus menangis. Dia menunduk hingga suara dehaman Jordan mengagetkan.


"Nona kita sudah sampai," ucap Mala.

__ADS_1


Naya menghentikan tangisan. Dia rapikan wajahnya dan melihat sekeliling. Tiba-tiba saja matanya yang sembab membulat hebat. "Pak Jordan. Ini kita kenapa ke sini?"


__ADS_2