
Naya dan Jordan mengikuti langkah Mike. Ketiganya berjalan menyusuri mall yang ada disalah satu Ibu Kota Jakarta.
Namun Naya merasakan ada yang aneh, di sana tidak ada seorang pun yang menjaga ataupun berlalu lalang. Mall itu seperti telah ditinggalkan para penghuni dan pengunjung.
Naya celingukan, dia terus saja mengedarkan pandangan berharap dapat menjumpai seseorang. Nihil, hanya ada mereka bertiga di sana.
Jordan yang melihat kebingungan di raut muka Naya pun berdeham. Sontak Naya menoleh.
"Tenang saja, Nona. Tuan Muda Mike memang sesekali membawa pacar-pacarnya ke sini. Dan kalau tengah berbelanja Tuan Muda Mike tidak pernah mau ada yang mengganggu, para karyawan harus pergi sebelum beliau datang," papar Jordan yang ada di sebelah.
Alis Naya tertaut, dia mulai menerka-nerka. "Jadi maksud Pak Jordan Tuan Mike udah sering begini?"
Jordan mengiyakan.
"Itu artinya kalau mall ini ...." Naya tak sempat menyelesaikan lisan. Dia terlanjur speechless. Belum lagi setelah mendapat respon anggukan dari kepala Jordan. Dia menjadi terbeku, seketika kaki pun berhenti melangkah.
"Gedung ini milik Tuan Muda Mike. Jadi nikmatilah," lanjut Jordan tanpa ekspresi.
Naya menelan ludah kasar, matanya mengerjap beberapa kali. Ternyata Mike benar-benar seorang sultan terkaya.
'Pantesan perempuan kemarin marah besar karena diputusin,' batin Naya.
__ADS_1
"Naya, ke sini!"
Tiba-tiba Mike memanggil sembari menekuk empat buku jari, semetara mata tetap terfokus para gantungan underwear berwarna-warni yang ada di dalam sebuah toko.
"Heh! Kenapa bengong? Cepat ke sini!" seru Mike lagi.
Naya berdengkus samar, lantas dengan agak kesal berjalan mendekati Mike yang seperti pria hidung belang. Bagaimana tidak, mata pria itu begitu berbinar melihat pakaian dalam perempuan yang ada di sana.
"Ada apa, Tuan?" tanya Naya setelah tiba di samping Mike. Dia menunduk segan.
Mike terdiam dan memindai penampilan Naya yang bisa dibilang agak manis. Rambut pendek dihiasi bando berwarna merah muda dan tubuh atasnya mengenakan kemeja ungu lilac lengan panjang. Teruntuk paha sudah terbalut flared skirt berwarna putih tulang.
"Coba ini." Mike berkata seraya mengambil sepasang pakaian dalam, lalu menempelkannya ke tubuh Naya tanpa canggung sedikit pun.
"Heh, malah bengong." Mike kembali menyodorkan. "Ambil ini dan coba," lanjutnya.
Naya gugup, dia bahkan mengerjap. Gemetaran dia ambil juga barang itu. "Tapi Tuan, ini ...."
"Ya sudah, enggak usah coba. Ambil saja langsung," potong Mike.
Naya kaget, tapi berakhir menghela napas lega. Akhirnya Mike tidak menyuruhnya telanjang di sana.
__ADS_1
Namun, baru juga lega Naya dikagetkan dengan tindakan Mike yang tiba-tiba mengambil beberapa pasang pakaian dalam, lantas menyerahkannya dengan cepat ke tangannya.
Naya tak berkutik, dia pun memasukkan benda pemberian Mike ke dalam bag paper yang tersedia di atas meja kasir.
"Pilih saja, Naya. Pilih semuanya sesuai yang kamu mau," ujar Mike.
Naya mengangguk, dalam hati dia mengutuk Mike. Untuk apa membeli pakaian lagi sedangkan di dalam lemari telah penuh dengan pakaian mewah? Dia sendiri saja tak tahu kapan bisa memakai semua pakaian mahal dan indah yang ada di lemari kamarnya.
"Naya, sini!"
Lagi-lagi panggilan Mike terdengar. Suara bariton itu seperti sambaran petir di siang bolong. Gegas Naya mendekat.
Namun, lagi-lagi Naya dibuat tercengang dengan apa yang ada di depan mata. Mike bahkan sudah memegang langerie tipis berwarna merah menyala.
"Ini pasti cocok untuk kamu." Mike lagi-lagi berkata seraya menempelkan baju tipis yang bisa dibilang transparan. Naya sampai bergidik melihatnya.
"Kenapa? Gak seneng?" cecar Mike dengan nada yang mulai berubah.
Cepat-cepat Naya menggelang. Bisa kacau jika dia menyinggung Mike. Entah apa yang akan dia dapatkan sebagai hukuman.
"Ya sudah, ambil ini. Kamu mau lihat tangan saya patah karena megang ni baju?"
__ADS_1
Naya menelan ludah. Gegas dia mengambil benda menjijikan itu lalu memasukkannya ke dalam bag paper yang ada di sana. Lagi-lagi tak hanya satu yang Mike ambil, pria itu seperti raja belanja yang dengan seenak jidat menarik semua langerie yang ada di depan mata. Dia raup semuanya dari warna merah, kuning, hijau, biru dan yang lain, sudah mirip pelangi saja.
'Apa mungkin orang ini mau bikin aku jadi bidadari tanpa baju yang layak?' batin Naya dongkol.