
"Bagaimana Nona? Anda mau keluar sendiri apa saya gendong?"
Gelagapan, Naya pun pasrah turun dari mobil. Meski kaki sakit tetap saja digendong laki-laki asing membuatnya tidak nyaman. Dia terus mengikuti langkah Ken masuk ke dalam gedung dengan jalan sedikit oleng.
Bukan tanpa alasan, Ken memaksanya kembali memakai heels. Si saat pria lain akan iba melihat keadaannya yang cukup mengenaskan, Ken justru memaksanya harus kembali menggunakan heels. Terkesan dingin dan tidak berperikemanusiaan.
"Mulai sekarang ini kamar Nona." Ken berkata sembari meletakkan tas belanjaan yang begitu banyak di atas ranjang, lantas kembali berdiri tegak menghadap Naya yang celingukan melihat sekitar.
"Mulai hari ini sampai lima hari ke depan Nona harus tinggal di sini. Mohon kerjasamanya. Saya juga berharap Nona tidak berpikir untuk kabur lagi," paparnya yang entah kenapa terdengar begitu menyebalkan di telinga Naya.
"Apa ada yang mau Nona tanyakan? Atau apa Nona butuh sesuatu?" lanjut Ken lagi.
Naya tak menyahut kakinya melemas seketika. Dia duduk di samping ranjang sambil menghela napas. Ingin rasanya menangis meratapi kemalangan, tapi air mata seakan lelah untuk keluar. Dia berakhir menghela napas panjang, sedetik kemudian mendongakkan kepala melihat Ken yang berdiri di depannya. Gadis itu seakan menelaah ekspresi datar Ken.
"Ada yang perlu saya bantu?" tanya Ken yang mulai salah tingkah.
__ADS_1
Naya menggeleng. Pasrah, ya sepertinya dia akan mencoba itu.
"Kalau ada perlu apa-apa panggil saja saya. Saya ada di luar dan saya minta Nona lekas bersiap. Saya beri waktu Nona sepuluh menit dari sekarang."
Seketika mata Naya membulat makin besar. Mendadak dia merasa masuk ke dalam sebuah reality show tentang tantangan.
"Kenapa, ada yang salah?" tanya Ken keheranan karena Naya membuka mulut lumayan lama.
"Sepuluh menit kecepetan, Kak ... aku gak bakalan bisa siap dalam waktu singkat begitu ...."
Alih-alih mengiyakan Ken justru menggeleng tegas. Dia sengaja membalik diri tanpa berkata lebih jelas. Dia tinggalkan Naya yang masih terbengong hingga suara dering telepon dalam saku celana menghentikan langkahnya.
Jari telunjuk Ken terarah pada Nakas di samping ranjang.
"Dan kalau lapar Nona bisa pesan di luar, atau bisa juga masak di dapur. Semua bahan ada di kulkas," lanjut Ken lagi.
__ADS_1
Naya kembali terbengong. Ken benar-benar membuatnya speechless. Pria itu seperti tidak takut meninggalkan dirinya sendirian. Begitu percayakah pria itu padanya setelah apa yang Naya lakukan beberapa saat lalu?
Berdeham sekali, Ken membuyarkan lamunan Naya. Gadis itu tampak gelagapan.
"Apa ada pertanyaan?" tanya Ken lagi
Naya menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit. Kalau butuh apa-apa silakan hubungi saya," ujar Ken sebelum akhirnya menutup pintu kamar itu.
Naya merosot, kakinya seperti kehilangan tenaga. Lamat dia menatap pintu itu. "Tu orang bener-bener diluar prediksi. Sebenarnya apa maunya. Kalau mau jahat jahat aja. Jangan sok perhatian begitu. Aku kan jadi gak bisa mutusin, mau benci dia atau percaya pada dia," gumamnya lantas membaringkan diri di ranjang.
Namun, baru saja meluruskan punggung, handle pintu kembali terputar dan menampilkan sosok Ken yang kembali berdiri di sana.
Naya yang tengah rebahan pun langsung melompat berdiri. Kesal dia menatap Ken.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Saya cuma mau mengingatkan. Jangan berpikir untuk kabur lagi." Lantas kembali menutup pintu.
Jangan lupa like komen dan vote. Hehehe