
"Mbak, dia bakalan hidup 'kan, ya? Dia gak bakalan mati secepat ini 'kan, ya? D-dia udah janji, katanya bakalan buat aku jatuh cinta sama dia. Dia janji katanya ...."
Naya tak sanggup lagi melisankan kata. Ketahanan dirinya runtuh saat Mala memeluk. Akhirnya dia menangis dengan air mata yang begitu banyak.
Dia benci Mike dan selalu mengutuk pria itu. Namun, saat melihat Mike bersimbah darah di atas pangkuannya, dia jadi takut. Tiba-tiba takut kehilangan. Tiba-tiba takut Mike tidak akan mengganggunya lagi. Tiba-tiba dia takut akan sendiri lagi. Sungguh, dia tidak ingin.
"Aku mau dia hidup, Mbak. Aku gak mau dia ninggalin aku dan anak kami. Aku ...."
"Tenanglah Nona. Saya yakin Tuan Muda Mike baik-baik saja. Dia kuat. Dia tangguh," ucap Mala yang juga terdengar bergetar suaranya.
Mereka saling berpelukan, saling menguatkan. Teruntuk Naya, entah kenapa firasatnya tidak enak. Dia melihat jelas mata Mike sesaat setelah tertembak. Pria kejam itu menitikkan air mata, lantas menyentuhkan tangannya ke pipi Naya.
Ah ... mengingat itu Naya kembali sesenggukan. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan Mike.
Lampu indikator yang ada di dekat pintu ruang operasi yang tadinya menyala tiba-tiba padam. Semua orang mendekat, terlebih lagi Jordan. Gegas dia mendekati Bian.
"Bagaimana keadaan Tuan Muda Mike?" tanya Jordan.
Bian tertunduk lesu. Dia buka masker serta kacamata. Dia melihat Naya yang juga berjalan ke arahnya. Wanita bergaun pengantin dengan banyak noda merah itu tertatih dan menatapnya dengan sorot mata yang sulit dijabarkan. Ada kesedihan, ada harapan dan ada ketakutan di sana.
"Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Naya. Air matanya menetes.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan pasien. Peluru itu tepat mengenai jantung. Jadi dengan sangat menyesal, pasien dengan nama Mike Felix Abraham kami nyatakan meninggal," ucap Bian. Setelah itu dia juga menitikkan air mata.
__ADS_1
Hening, semuanya melemas dan terduduk di lantai. Terkecuali Naya. Dia tetap berdiri mematung, lantas menerobos masuk ruang operasi. Di sana, di meja operasi Mike terbujur kaku dengan kain putih menutup seluruh tubuh.
"Mike, bangun! Tolong jangan bercanda. Tolong bangunlah! Kamu bilang mau memaksaku. Kamu bilang mau jaga aku. Kamu bilang ingin aku merubah kamu agar jadi manusia baik. Ayolah Mike. Jangan bercanda. Ini gak lucu."
Hening. Naya yang putus asa kembali mengguncang tubuh Mike. "Bangun Mike. Jangan mati. Bagaimana dengan anak kita? Bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana dengan ...."
"Argh!"
Naya tak bisa melanjutkan kata. Dia merosot ke lantai sembari memegang perut. Sakit, keram. Rasanya organ perut bagai diremas-remas. Sakitnya sampai ke tulang.
''Non, Nona Naya kenapa?"
****
Sendiri? Ya, karena janin yang ada dikandungnya juga pergi. Sepertinya dia ingin menemani ayahnya.
"Jenita, tolong jaga toko sebentar, ya? Saya mau pergi keluar?"
Jenita mengangguk paham. Dia yang sedang memasang baju ke manekin mengiyakan dengan sopan.
"Dan satu lagi, nanti kalau ada Jordan kamu tau kan apa yang harus kamu katakan?"
"Tolak pemberiannya dengan sopan," sahut Jenita.
__ADS_1
Naya tersenyum, dia sentuh pundak Jenita. "Kalau gitu tolong jaga toko sebentar. Saya ada urusan."
Gadis remaja yang Naya panggil Jenita mengangguk. Tak hanya itu, dia juga membukakan pintu untuk Naya pergi. Dari belakang Jenita bisa menyimpulkan. Kalau sang pemilik gaji sedang tidak baik-baik saja dan selalu terlihat demikian setiap harinya.
Kini tibalah Naya di sebuah ruang yang dibatasi kaca transparan yang ada beberapa lubang di sana. Di depannya telah duduk wanita tua, keriput dan uban hampir menutupi kepala.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya wanita yang tidak lain tidak bukan adalah Laura. Terdengar angkuh meskipun terbalut pakaian berwarna oren harga dirinya tidak memperbolehkan dia untuk sopan pada Naya. Kesombongan tak habis-habis walaupun sudah lama mendekam dalam penjara.
"Aku cuma mau lihat apa kamu masih hidup?'' balas Naya. Dia yang mengenakan terusan panjang bersedekap.
"Apa untungnya buatmu? Buang-buang waktu saja. Pergilah, jangan pernah datang lagi," ketus Laura. Dia beranjak dari kursi tapi kembali berhenti saat Naya manggilnya.
"Apa sulit bagimu untuk minta maaf?" ujar Naya. Dia menggeram. Sebisa mungkin menahan diri agar tidak emosi.
Laura membalik diri. Dia menyeringai lalu berdecih. "Buat apa meminta maaf sama keturunan dari perempuan jahat. Dia sudah buat aku menderita seumur hidup. Dan aku yakin kamu juga sama. Jadi kita impas sekarang. Nikmatilah hidupmu sendiri. Jangan pernah kembali lagi. Karena aku yakin hidupmu juga menyedihkan. Jadi jangan sok dermawan. Jangan sok baik. Karena aku, aku Laura gak akan pernah minta maaf pada orang yang sudah membuatku sakit hati. Ingat itu baik-baik."
Sungguh. Naya tak bisa berkata-kata. Hatinya nyeri. Perkataan Laura benar adanya. Dia kesepian, menderita dan tidak baik-baik saja.
Menyerah. Naya akhirnya berlari menuju kamar mandi. Di sana, di bawah wastafel dia mencurahkan segalanya. Dia berjongkok sembari memegang lutut. Air mata sungguh sulit dia tahan kali ini.
"Tenanglah. Tenang. Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja."
__ADS_1