
Si barista tersenyum ironi. "Jika kangen datangi dia. Mau sampai kapan kucing-kucingan terus?"
Hening, orang itu tak menjawab hingga si barista yang aslinya seorang dokter itu pun agak kesal. Dia menggetok meja tiga kali.
"Mike, mau sampai kapan kamu begini? Apa kamu tega melihatnya begitu? Kasihan Mike ...."
Mike memberikan sorot mata nyalang. Dia buka topi lalu menyugar rambut sendiri. "Lalu menurutmu aku bahagia setelah ninggalin dia? Enggak Bian. Aku hampir gila. Aku selalu menguntit dia ke mana pun dia pergi. Aku terus saja khawatir."
Mike menjeda kaya, dia memukul dada. Matanya memerah menatap Bian. "Aku hampir gila. Setiap saat aku selalu ingin memeluk dia. Aku ingin menciumnya. Aku rindu, tapi apa kau tahu rasa bersalahku begitu besar. Karena egois aku bahkan membuat anak kami meninggal, karena aku yang berpura-pura mati membuat dia hampir gila. Lalu, apa menurutmu jika sekarang aku hadir di depan dia dia bakalan nerima gitu aja? Nggak Bian, nggak semudah itu."
"Lalu mau sampai kapan kamu sembunyi? Dua tahun bukan waktu yang singkat, Mike. Sedangkan saat dia dekat dengan pria lain kamu marah."
"Ya jelas aku marah, dia milikku. Dia istriku. Aku hanya ingin dia bersabar."
Bian berdecak. "Mana ada orang mati memiliki istri."
"Jangan mengolok-olok," dengkus Mike. Dia memutar mata kesal dan menyeruput latte yang Bian serahkan tadi. "Sudah kepalang tanggung untuk mundur. Aku harus sabar sampai Jordan bisa menemukan Aston dan menggeser si brengsek itu. Aku gerah dengan ulahnya. Dia selalu mencari kesalahanku. Sok berkuasa, padahal semua aku yang kerjakan. Otakku bekerja keras untuk membesarkan perusahaan keluarga. Tapi dia ... dia taunya cuma menyela, mengorek semua kesalahanku. Aku sudah muak makanya buat sandiwara begini. Dan juga ... aku sebenarnya mau tau apa Naya menerimaku atau tidak. Aku mau lihat apa dia bakalan pergi ke laki-laki itu saat aku mati. Tapi aku gak menyangka kalau konsekuensinya begitu besar. Anak kami ...."
Mike kembali menghela napas berat. Ada semburat kesedihan yang dalam di raut mukanya yang tegas. Dia pun kembali menyeruput latte karena butuh asupan glukosa saat mengenang janin yang telah gugur dan sosok Broto yang menyebalkan.
"Apa kau masih ingat kasus Laras dulu. Broto memperkeruhnya. Karena dia hampir semua dewan membenciku. Semua memihak dia. Aku kalah karena tua bangka itu memprovokasi para pemegang saham. Sialan! Setiap melihat si brengsek itu aku selalu ingat papa. Cih! Ingin sekali aku buang dia jauh-jauh. Brengsek emang!" lanjut Mike menggebu-gebu.
"Woo ... santai Mike. Jangan emosi. Aku ingat itu. Aku yakin dia sekarang juga lagi pusing. Bukankah proyek banyak yang terbengkalai? Aku yakin dia juga tertekan."
Bian diam. Lamat dia lihat Mike yang gusar. "Lalu sekarang apa kamu puas?"
"Belum. Aku belum puas. Aku mau dia bayar penghinaan ini dengan setimpal. Aku mau dia merangkak ke kakiku. Aku akan buat anaknya berada dipihakku. Aku yakin pemegang saham yang lain tidak akan komplen jika itu terealisasikan."
"Apa itu setimpal dengan pengorbanan Naya selama dua tahun ini?"
Mike terdiam beberapa detik. "Aku akan minta maaf untuk itu. Aku akan lakukan apa pun agar dia mengerti."
Bian manggut-manggut. "Lalu, apa kamu yakin Aston bakalan memihakmu? Dia hilang waktu masih bayi. Apa yang bisa dia lakukan. Barangkali hidupnya tidak seberuntung kamu."
"Justru itu lebih mempermudah. Aku hanya perlu ngasih apa yang dia mau. Jadi Abraham Group tetap jadi milikku."
Alis Bian naik sebelah. "Kalau sebaliknya, Aston licik seperti bapaknya, apa yang bakalan kamu lakukan?"
__ADS_1
Mike terdiam. Lamat dia menatap Bian.
"Sudahlah, jangan bahas lagi. Aku dapat kabar dari Jordan kalau dia sudah mendapatkan informasi. Tinggal tes DNA. Aku yakin hasilnya akurat kali ini." Mike mengembuskan napas kasar. "Lalu bagaimana dengan kamu? Mau sampai kapan kamu jadi penyeduh kopi?" lanjutnya.
Kini wajah serius Bian berubah drastis. Dia berdecak kesal. "Jangan mulai, ini semua karena kamu. Jika aku tidak berbohong mungkin aku masih bangga mengenakan jas putih kebanggaanku. Apa kau tau, aku bahkan menangis saat berbohong di depan istrimu. Aku mengenang masa sulit saat sekolah kedokteran. Pengabdianku, pengorbanan dan lain-lain bakalan hilang. Kesempatan jadi profesor juga hilang. Dan itu semua karena menuruti permintaan seseorang yang konyol."
"Kan berbohong cuma sama satu orang. Kenapa langsung lepas jas? Heran. Di dunia ini gak ada satu orang pun yang gak pernah bohong," papar Mike. Dia memasang wajah datar.
"Lagian soal anggapan masyarakat yang mengatakan aku mati itu bukan salah kamu, Bian. Kamu kan tidak pernah kasih statement kalau aku mati. Tidak pernah mengeluarkan surat kematian juga. Masyarakatnya saja yang berspekulasi sendiri. Ini hanya kebohongan kecil yang diketahui oleh beberapa orang saja."
"Masalahnya gak semudah itu. Ingat, aku menggunakan profesi dokter saat membohongi keluarga pasien. Itu saja udah menyalahi aturan dan melanggar sumpah."
"Jangan terlalu idealis. Banyak dokter busuk diluaran sana," sahut Mike lagi. Dia tersenyum sinis.
"Itu mereka Mike. Bukan aku," balas Bian sesuai dengan prinsip.
Keduanya kembali terdiam.
"Lalu apa rencana kamu sekarang? Aku akan kasih apa pun yang kamu mau. Tawaranku dulu juga masih berlaku. Jika kamu mau aku akan bantu kamu membuka klinik buat praktek. Kalau kamu mau aku juga bisa menjadikanmu direktur rumah sakit," ucap Mike setelah menyesap lagi latte yang sudah dingin.
Mike yang melihat itu berdengkus. "Tentu, apa saja. Aku akan kasih apa pun asal bukan Naya."
****
Pagi harinya di rumah sakit. Naya yang baru saja membuka mata sontak terkejut saat melihat Ken duduk di sebelahnya dan memasang senyum hangat.
"Kamu sudah sadar? Bagaimana, apa ada yang sakit?" tanya Ken. Dia belai pipi Naya.
"Haus, Kak."
Ken segera menuang air putih dan memberikannya pada Naya. Dia bantu Naya minum hingga air itu habis hampir setengah.
"Kak Ken ... Kak Ken sejak kapan di sini? Dan aku ...." Naya melihat sekitar. "Dan aku kenapa bisa di sini?" lanjutnya.
"Kamu pingsan," sahut Ken setelah menyusun bantal di punggung Naya.
Naya pun dengan mudah bersandar. Lamat dia menatap Ken yang kembali duduk di kursi.
__ADS_1
Hening. Sama sekali tidak ada yang berbicara. Ken makin menatap Naya dengan sorot mata sendu. Sementara Naya yang di tatap seperti itu tentu saja salah tingkah.
"Kak Ken kenapa?" tanyanya.
Ken menggeleng. "Aku cuma seneng akhirnya kita bisa duduk nyaman seperti ini."
Naya terdiam. Dia membuang muka. Rasanya sangat malu di tatap pria seintens itu.
"Sarapan dulu, ya? Nanti baru boleh pulang."
Naya mengangguk. Namun saat hendak menyuap sendiri, pria yang masih rapi dengan kemeja abu-abu itu justru meraih sendok yang Naya pegang.
"Aku suapin."
Naya menggeleng tegas. "Aku bisa sendiri, Kak."
Namun Ken seperti menulikan telinga, dia bahkan meniup bubur hangat itu dan menyuapi Naya dengan penuh ketelitian. Naya sampai tak bisa berkata atau berbuat apa-apa selain mengunyah.
Satu suap
Dua suap.
Tiga suap.
Akhirnya bubur itu habis juga.
"Sekarang apa boleh pulang?" tanya Naya, dia mengerjap heran. Ken sama sekali tidak mengatakan apa-apa selain tersenyum.
Saat Naya hendak turun dari ranjang, tiba-tiba saja Ken sudah berlutut di depannya. Pria itu bahkan mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati yang ada cincin berlian di dalamnya.
"Naya, will you marry me?"
***
Nah loh. Mike saingannya malaikat.
Kuy jangan lupa like. tambahkan ke favorit, terus dukung aku dengan kasih hadiah dan vote. Biar aku semangat. Oiya aku mau absen, kalian kubu Ken-Naya atau Mike-Naya
__ADS_1