
Ken bolak-balik di depan pintu kamar Naya. Dia gelisah. Sudah dua jam gadis itu tak keluar kamar, dipanggil pun tak menyahut. Mendadak pikiran buruk menggerayangi benak. Lekas Ken mencari kunci cadangan dan membuka pintu.
"Aaa!"
Teriakan Naya menggema di ruangan itu. Dia panik. Bagaimana tidak? Saat ingin memakai bra, Ken tiba-tiba membuka pintu. Secara spontan dia menutupi dua gundukan yang ada di dada dengan cepat. Ya meskipun tidak tertutup secara harfiah.
Sedangkan Ken, dia juga tak kalah panik. Lekas-lekas dia menutup kembali pintu seraya menahan tabuhan dalam dada yang mulai menggila. Pipinya mulai menghangat dan ada sesuatu yang mulai bergerak dan perlahan bengkak.
"Gila, aku pasti gila. Astaga, Ken ... apa yang udah kamu buat?" gumam Ken. Dia pegang dadanya yang berdetak tak karuan.
Bagaimana tidak? Dia laki-laki normal, mustahil tak berefek saat mendapati pemandangan yang bisa memancing sesuatu yang lain. Ini pengalaman pertama yang sungguh membuatnya gugup.
Pintu terbuka dan Naya langsung menyipitkan mata kala melihat Ken yang ada di depannya.
"Kak, ngapain sih buka pintu? Kak Ken sengaja ngintip?" cecar Naya.
"Ngintip?" ulang Ken, dia terbengong dan tanpa sadar matanya turun ke dada Naya. Tentu saja tatapan tak sengaja itu membuat Naya makin kesal dan tanpa aba-aba melayangkan pukulan di bahu Ken, lantas kembali menyilangkan tangan di dada.
"Kak Ken liat apaan?" dengkus Naya lagi.
"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja. Saya pikir Nona ...."
Ken tak berani melanjutkan kata. Dia pikir Naya bunuh diri setelah tahu kebenarannya. Namun, ternyata di luar ekspektasi. Ekspresi wajah Naya begitu berbeda dari sebelum masuk kamar tadi. Penampilan pun tidak seperti biasa. Dia mengenakan celana jeans panjang dan hoodie hitam membalut badan. Rambut yang pendek dibiarkan tergerai tanpa ada aksesoris apa pun.
"Kamu pikir apa, Kak?" cecar Naya lagi.
__ADS_1
Ken tak berniat menjawab pertanyaan Naya. Dia justru bergegas menuju meja, lantas mengambil amplop cokelat. Kartu ATM dia masukkan ke dalam amplop cokelat itu lalu menyerahkannya ke tangan Naya.
"Sekarang sudah hampir tengah hari. Jadi lebih baik Nona pergi. Masih ada waktu untuk Nona melarikan diri dari sini. Sembunyilah, pergilah ke mana saja. Sejauh mungkin," terang Ken.
Naya terdiam, lamat dia menatap Ken yang terlihat lebih panik.
"Kak Ken beneran nyuruh aku pergi?" tanya Naya. Dia menaikturunkan alis.
Ken mengiyakan pertanyaan aneh itu. Bukankah seharusnya langsung pergi jika tahu ada bahaya yang mengintai? Namun, dari ekspresi Naya dia bisa menyimpulkan gadis itu seperti tidak gentar sama sekali.
"Gak takut perusahaan hancur?" lanjut Naya.
Meski bingung Ken tetap mengiyakan.
Ken kembali mengiyakan dengan mantap. Sama sekali tak ada keraguan di sana.
"Nanti kalau aku pergi dan gak kembali lagi bagaimana?"
"Gak masalah, itu yang saya mau. Itu lebih aman daripada tetap di sini. Selamatkan diri Nona. Itu yang terpenting."
"Lalu, kalau aku pergi, Kak Ken yakin gak kangen aku?" tanya Naya lagi.
Ken terdiam. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Naya bercanda seperti itu saat genting seperti ini?
Tanpa aba-aba dan tanpa diduga Naya justru mengambil beberapa lembar uang kertas dari dalam amplop, lantas menyerahkan sisanya kepada Ken.
__ADS_1
Ken tentu saja terbengong. Dia mengerjap. "Nona, uang segitu gak bakalan cukup."
"Kak Ken, aku udah mikirin baik-buruknya. Aku udah mutusin buat tetap tinggal," sahut Naya. Penuh kemantapan dalam nada bicara.
Mata Ken langsung terbelalak. Panik, dia genggam tangan Naya dan kembali menyerahkan amplop. Sangat berharap Naya mengubah keputusan dan mengambil uang yang dia berikan.
"Tolong pikirkan baik-baik, Nona. Ini untuk masa depan Nona. Nona masih muda, masa depan masih cerah, dan saya nggak mau ikut andil dalam hancurnya masa depan Nona."
Naya menggeleng, senyumnya tampak getir. Dia genggam tangan Ken. "Nggak apa-apa, kok, Kak. Aku udah mutusin, lebih baik ngancurin masa depan satu orang ketimbang puluhan ribu masa depan orang lain. Aku yakin banyak anak yang bergantung pada orang tuanya yang bekerja di perusahaan. Dan aku nggak mau egois. Hanya demi menyelamatkan masa depan sendiri aku mengorbankan mereka."
"Tapi Nona, ini bukan saatnya berpikir emosional. Nona harus rasional, pikirkan dulu masa depan Nona. Egois demi diri sendiri tidak masalah. Semua orang berhak bahagia termasuk Nona. Tolong jangan ...."
"Enggak, Kak." Naya sengaja menyela. Senyumnya kembali terpatri. "Aku udah mutusin, aku akan terima. Mungkin ini nasibku. Mungkin ini harga yang harus aku bayar karena lahir dari rahim seorang pelakor."
"Tapi dosa orang tua nggak ada sangkut-pautnya sama anak," sahut Ken lagi.
"Iya aku tahu, tapi aku tetep mau lakuin ini."
"Nona. Tolong jangan begini."
Naya tersenyum lagi, ekspresi Ken berubah drastis hari ini. Biasanya pria itu akan memasang wajah datar, tak ada ekspresi sedikitpun selain penegasan tanpa bantahan.
Sekarang dia melihat sisi lain dari Ken. Ternyata pria yang dianggap bagai batu itu nyatanya penuh perasaan, penuh perhatian dan begitu peduli padanya.
Jejak jempolnya jangan ketinggalan ya.
__ADS_1