Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Dendam kesumat.


__ADS_3

"Apa? Dia di Banten?" ucap Ken. Tangannya memegang ponsel.


"Ya udah. Thanks ya, Sean. Aku otw ke sana," lanjut Ken lagi. Dia berlari menuju parkiran. Beruntung keadaan Burhan yang kejang tadi bukanlah hal serius. Jadi dia bisa menyusul Naya. Dalam hati pria yang menginjak usia 31 tahun itu begitu berbunga. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Naya.


Namun, langkah Ken terhenti saat ada yang berseru memanggilnya dari arah belakang. Refleks, Ken membalik diri. Tampak seorang pria tua berperut buncit mendekat. Dia di dampingi seorang wanita cantik berpakaian rapi.


"Pak Broto," ucap Ken. Dari wajah sudah dipastikan kalau dirinya terkejut.


"Gak nyangka kita bakalan bertemu lagi," ucap si Broto. Dia melihat sekitar. "Ngomong-ngomong ngapain kamu ke sini?"


"Saya ...."


"Ah iya, saya lupa. Kan si brengsek Burhan sedang di rawat kan ya? Jadi apa kabarnya? Apa dia sudah mati?"


"Pak Broto, tolong jaga bicara Anda," sahut Ken. Dia mulai kesal. Rahangnya mengeras tapi berusaha untuk tidak melakukan kesalahan.


"Lah, apa saya salah? Sudah lama kan dia sakit. Saya kira dia mati."


"Bos, ini tempat umum." Bisikan gadis sekretaris sukses membuat Broto diam. Dia betulkan dasinya, lalu berdeham.


"Jadi di mana kamu kerja sekarang?" lanjut Broto.


Ken terdiam. Dia masih belum memikirkan hal itu semenjak sembuh dari cidera.

__ADS_1


"Apa kamu tau kalau perusahaan milik Burhan sudah di bawah kendali saya?"


Ken tetap diam. Dia sudah tahu segalanya. Lagipula sudah tidak ada harapan untuk perusahaan itu. Terlalu banyak hutang. Beruntung sudah ditangani Mike sebelum insiden penembakan terjadi. Jadi para staff dan karyawan masih bisa bekerja di sana meskipun sudah berbeda pemilik dan nama.


"Jika kamu mau, kamu bisa bekerja dengan saya. Saya akan menggaji kamu lebih besar dari Burhan. Bagaimana?" tawar Broto lagi sembari memelintir kumis.


Namun, Ken tetap terdiam. Dia tahu perangai Broto. Makin dilawan pria berumur itu makin senang.


"Saya akan kasih kemudahan buat kamu. Asal kamu mau merangkak dan mencium kaki saya. Bagaimana?"


"Boss ...." Kali ini panggilan singkat sang sekretaris tidak diindahkan Broto. Dia tetap memasang wajah angkuh di depan Ken.


"Kenapa? Gak sudi merangkak? Atau karena gajinya kurang banyak? Ayolah, jangan munafik. Kamu butuh kerja, kamu butuh uang agar bisa melanjutkan hidup. Kamu enggak akan kenyang jika hanya mengandalkan kesetiaan. Lagian, apa kamu nggak merasa hidup kamu sia-sia? Kamu terlalu royal pada si badjingan itu."


"Pak Bos, apa Pak Bos tidak keterlaluan?" bisik si sekretaris lagi. Dia betulkan kacamata dan melihat sekitar. Mereka sempat menjadi titik pandang orang-orang saat berdebat dengan Ken tadi.


Akan tetapi si Broto tak peduli. Dia tetap berjalan seperti tidak ada apa-apa. Yang terlihat di mukanya hanyalah semburat kekesalan.


"Kamu gak tahu apa-apa. Ken, asisten sok itu sudah mempermalukan saya demi membela bosnya yang brengsek itu. Saya ingat betul, mereka membuat saya malu di depan para pengusaha lain di pesta pernikahan seorang anak menteri. Saya jadi bahan tertawaan semua orang. Jadi saya nggak akan pernah puas untuk mengganggu Burhan maupun anak itu," papar Broto menggebu-gebu.


"Tapi Pak Bos, kalau dilihat-lihat asisten Ken itu mirip lho dengan Pak Bos."


Seketika langkah Broto berhenti. Nyalang dia menatap sang sekretaris yang terlihat nyengir.

__ADS_1


"Jangan mengada-ada. Walaupun jika memang benar kalau asisten Ken itu adalah anak saya. Saya tetap tidak akan menerimanya. Karena apa, karena dia sudah berhubungan dengan Burhan."


Si sekretaris terdiam. Dia ikuti langkah Broto yang kian lebar. Sepertinya kunjungan ke rumah sakit yang awalnya hanya untuk menjenguk orang sakit justru menjadi awal penyakit sang bos.


***


Setelah melakukan perjalanan beberapa jam akhirnya tiba juga Ken ke tempat Naya menginap. Dengan sebuket bunga mawar, pria dengan tinggi 180 cm dan pakaian kasual itu pun memasuki rumah berpagar. Rumah asri dengan banyak tanaman hias. Tak hanya itu, embusan angin pantai menambah kenyamanan yang ada.


"Semoga dia suka," gumam Ken setelah mencium aroma bunga yang dia bawa. Senyumnya terpatri. Dia edarkan mata ke sekeliling. Situasi agak sepi karena memang sudah menjelang malam.


Namun sosok pria bermobil yang ada di seberang rumah Naya membuatnya curiga. Gegas Ken mengejar, tapi tetap saja kalah. Pria bermasker itu telah melesat laju dengan kendaraan.


Mendadak pikiran buruk menyerang Ken. Naya, ya Naya. Ken begitu khawatir dengan keadaan gadis itu. Dia gedor kuat pintu rumah Naya sembari memanggil nama.


Tak lama pintu berderit. Ternyata Naya yang membuka pintu. Gadis itu mengenakan piyama dan menatap dengan sorot mata heran.


"Kak Ken. Kak Ken ngapain ke sini? Kak Ken tau dari ma—"


Lisan Naya tergantung karena Ken lebih dulu menyambar tubuhnya.


"Kamu gak apa-apa, kan? Kamu kenapa pergi gak bilang-bilang? Aku khawatir, Nay. Aku ...."


Sekarang giliran lisan Ken yang tak terselesaikan. Bagaimana tidak, gadis yang dipeluk telah melemah dan merosot. Beruntung Ken dengan sigap mendekapnya.

__ADS_1


"Naya, Nay. Kamu kenapa? Naya! Bangun Naya!"


__ADS_2