
"Apa kamu masih gak mau tau apa yang terjadi dua tahun lalu?"
Mengepalkan tangan, Naya lalu berkata, "Bukankah kamu pernah bilang dia masih hidup? Itu saja sudah cukup buatku, Sean. Aku gak perlu tau lebih rinci. Yang penting dia selamat dan sehat. Itu aja."
"Kamu benar-benar. Apa kamu tau kalau dua tahun lalu Ken kecelakaan? Dan itu disebabkan oleh Tante kamu!"
Seketika Naya tersentak. Detak jantung mulai melemah. Sungguh dia ingin berlari mendekat pada Sean. Ingin bertanya lebih jauh tentang kabar Ken. Namun ....
"Kau tau apa yang perempuan itu buat? Dia malah mengurung Ken. Saat Ken harusnya mendapatkan perawatan karena patah kaki dia justru memasukkannya ke rumah sakit jiwa!"
Naya melemah. Dirinya hampir merosot ke tanah jika saja tidak ada kursi di sebelahnya berdiri.
Menarik napas makin dalam, Naya pun berkata, "Aku menyesal untuk itu, Sean. Tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku mohon, rawat dia. Kalian teman baik."
"Aku pasti merawatnya. Dia sekarang juga sudah mulai bisa berjalan. Fisiknya sudah pulih sepenuhnya. Tapi Naya, satu yang harus kamu tau. Dia selalu merindukan kamu. Perjuangannya selama dua tahun ini di Amerika cukup berat, Naya. Apa gak bisa kamu peduli? Hubungilah dia barang sekali."
Tak ada yang bisa Naya katakan selain gelengan kepala.
Sean yang melihat itu jadi terkekeh ironi. Dia kesal. Saking frustrasinya ingin sekali berteriak lantang. Dia bahkan menunjuk-nunjuk pundak Naya yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.
"Kamu keterlaluan, Naya! Dia berusaha demi kamu! Tapi kamu malah acuh begitu. Apa dia sama sekali gak berarti? Sekarang kamu sudah sendiri, jadi apa yang kamu takutkan lagi?" cecar Sean. Dia makin emosi.
"Sudah aku bilang, Sean. Aku gak pantes buat dia. Aku bahkan gak pantes buat siapa pun. Aku hanya perempuan pembawa sial. Apa kamu gak tau. Orang yang dekat denganku semuanya mati. Lalu, apa menurutmu aku bakalan bahagia jika Ken ada di sekitarku?"
__ADS_1
"Pikiranmu terlalu kolot!" sahut Sean kesal.
"Aku gak kolot. Semua fakta. Orang yang aku sayangi sepenuh hati semuanya mati. Anak yang aku kandung juga pergi. Bahkan, orang yang baru saja kusukai juga mati. Lalu, apa menurutmu aku masih kolot?"
Sean yang kesal kembali menyugar rambut. Dia dekati Naya yang berdiri memunggunginya.
"Aku beneran gak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Nay. Tolonglah, hidup itu jangan dipersulit."
"Kamu bisa bilang begitu karena hidupmu gak pernah sulit, Sean."
Refleks Sean menjambak rambutnya lagi. Ingin sekali dia mengguncang tubuh Naya agar tersadar. Namun, dia sudah tak mempunyai tenaga lebih untuk itu.
Kembali menarik napas panjang, Sean pun berkata, "Dengarkan aku baik-baik, Naya. Dia balik ke Indonesia besok siang. Aku tau kamu adalah orang pertama yang akan dia cari."
Sean berdeham. Dia betulkan posisi dasi. "Tentu saja. Cuma itu cara satu-satunya biar dia nggak patah semangat. Dia ingin bertemu dengan kamu. Apa salahnya?"
"Sean! Apa kamu tau bahayanya?"
"Gak. Aku gak tau dan aku gak mau tau. Aku gak percaya yang begituan. Yang aku percaya sekarang adalah kamu itu udah berubah jadi wanita jahat."
Sean berlalu setelah mengatakan itu. Dia tinggalkan Naya yang sesenggukan di sana. Sebenarnya tidak enak hati, tapi ....
Argh! Sean kembali kepikiran. Dia yang sudah menjauh dari kafe berbelok lagi mencari Naya. Nihil. Wanita itu sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
***
"Apa terlalu sulit?"
Pertanyaan dari arah belakang membuat Jordan yang sedang fokus dengan beberapa laporan jadi tersentak. Namun tak marah saat tahu siapa dalangnya.
"Ada apa Mala?" tanya Jordan. Dia lepas kacamatanya.
"Aku bawakan teh. Kamu pasti butuh ini." Mala pun meletakkan barang bawaan ke atas meja.
"Sulit. Ini sangat sulit. Kamu tau, semenjak Pak Broto yang menjabat semuanya jadi kacau. Dia mudah ditipu."
"Jadi apa rencanamu?" tanya Mala. Dahinya ikutan mengernyit.
"Kita harus cepat menggantinya. Kita harus cepat menemukan Tuan Muda Aston. Aku yakin darah pebisnis gak bisa dibohongi."
"Oh ya? Bukannya Pak Broto itu juga mengalir darah pebisnis, ya? Tapi kenapa kamu tetep pusing begini?"
"Tentu aja beda. Pak Broto sudah terlalu tua. Dia gak sanggup lagi. Cuma karena dia satu-satunya saudara Tuan Felix jadi terpaksa dia yang diangkat.
"Lalu, soal anaknya yang hilang bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?'
Jordan menunduk lesu. Dia menggeleng pelan. "Aku belum tau. Sumpah, ya ... baru kali ini mencari orang rasanya begitu sulit. Yang aku tahu dia pernah tinggal di panti asuhan. Udah itu aja.
__ADS_1