Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Broto dan Burhan


__ADS_3

Di rumah sakit.


Perkembangan kesehatan Burhan lumayan ada kemajuan. Di sudah bisa menggerakkan jari serta kepala. Semangatnya untuk sembuh sangat tinggi. Terlebih-lebih mengingat Naya. Dia merindukan gadis itu dan ingin segera menemuinya.


Tak terkecuali hari ini. Wajahnya yang tua kembali berseri, dia duduk di taman dan ada dokter terapis yang menemaninya.


Akan tetapi, tiba-tiba sang dokter yang tadinya tenang mulai terlihat gelisah. Dia memegang perut serta pantat. Tak lama kemudian ada bunyian halus dari sana. Si dokter tersenyum. Dia celingukan setelah melihat Burhan yang melotot kearahnya.


"Pak Burhan, saya tinggal ke toilet dulu ya, Pak. Udah gak kuat. Panggilan alam udah gak bisa di tunda-tunda lagi," ucap si dokter terapis. Dia nyengir. Untung saja jarak bangku dirinya dan pasien lain agak berjauhan. Kebayang malunya jika aroma terapi itu terendus oleh orang lain.


Si Burhan merespon dengan anggukan. Dia juga mengerjap. Bibirnya berkedut melihat sang terapis berlari. Dia heran, bagaimana bisa perempuan pecicilan begitu jadi seorang dokter?


Namun, sorot mata Burhan berubah drastis saat melihat seorang pria berperut buncit mendekat.


Broto, ya itu Broto. Dia dengan santainya duduk di kursi tanpa dipersilakan.


"Kenapa? Kaget, ya?" tanya Broto, dia tersenyum meremehkan, lantas dengan lancang menarik kursi roda Burhan. Posisi mereka sangat dekat. Tak hanya itu, Broto bahkan mencondongkan tubuh dan memindai wajah tua Burhan dengan seksama.


"Kenapa? Mau marah?" lanjut Broto lagi, dia berdengkus.


"Silakan, kalau mau marah ya marah saja. Jangan ditahan, tapi masalahnya apa kamu bisa? Bahkan untuk cebok saja kamu harus dibantuin orang lain. Ckckckck."


Burhan menggenggam, tangannya terkepal dengan rahang yang juga sudah mengetat. Matanya begitu nyalang menatap Broto yang lagi lagi seperti sengaja memancing emosi.


Kini Broto menyilangkan kaki. Dia membentuk smirk. "Bagaimana rasanya? Kamu tahu kan kalau sekarang perusahaanmu sudah menjadi salah satu perusahaan dibawah kuasaku?"

__ADS_1


Broto mencondongkan tubuh. Dia sentuh pundak Burhan seakan-akan tengah membersihkan debu. "Bagaimana? Apa rasanya kalau sesuatu milik kita direbut oleh orang lain? Pasti kesal, 'kan? Jengkel, 'kan? Rasanya pasti kamu siap makan manusia."


Broto terkekeh lagi, ekspresi menggeram Burhan seperti hiburan tersendiri. Lamat dia menatap Burhan.


"Karma itu ada Burhan. Dan aku, aku bertahun-tahun menunggu saat itu datang. Dan sekarang akhirnya aku bisa melihatmu jatuh ke jurang paling dalam. Apa kau tau rasanya. Sangat menyenangkan, Burhan. Sangat."


Broto melihat tangan Burhan yang terkepal. Namun dia justru menggenggamnya. ''Ini risiko yang harus kamu bayar karena telah curang, ini resikonya karena kamu sudah ...."


Lisan Broto terjeda karena melihat kedatangan Ken dan seorang gadis. Dia langsung berdiri dan memasukkan tangan ke dalam saku celana.


"Oh ... ternyata asisten Burhan yang kompeten ini sudah punya pacar," celotehnya.


Alih-alih menjawab, Ken justru menarik kursi roda Burhan agar menjauh dari Broto. Dia memasang badan.


"Apa yang Anda lakukan pada Pak Burhan?" tanya Ken. Terdengar tidak bersahabat


Namun sedetik kemudian dia terkekeh meremehkan. "Oh iya, aku lupa, kamu kan tidak bisa ngomong."


Mendengar itu Ken semakin berang. Dia menarik napas panjang.


"Maaf Pak Broto, sepertinya kehadiran Bapak mengganggu Pak Burhan. Jadi sebelum saya berkata kasar lebih baik Bapak pergi dari sini," ucap Ken tegas.


Broto bergeming, dia justru menatap Naya yang ada di belakang. Tatapannya sangat mengerikan hingga Naya membuang muka.


"Jadi kamu anaknya Eva, si jalangg itu."

__ADS_1


"Pak Broto! Jaga bicara Anda!" sentak Ken.


Namun lagi-lagi Broto mengabaikan, dia lewati Ken dan mendekat ke arah Naya. Sembari menatap Naya, dia usap dagunya.


"Kalau dilihat-lihat kamu memang benar-benar mirip ibumu. Cantik, tapi murahan. Apa kamu tau kalau ibumu seorang perempuan gak bener?" lanjut Broto lagi.


"Jaga bicara Anda!" Ken yang kesal langsung mencengkeram kerah kemeja Broto, lantas mendorongnya kasar. "Pergilah, Pak Broto! Sebelum saya semakin kasar!"


Anehnya setelah diperlakukan seperti itu tidak lantas membuat Broto marah. Dia justru terkekeh sembari membetulkan dasi serta jasa yang agak berantakan.


"Kalian memang memang cocok. Yang satu anak yatim piatu dan yang satu lagi anak seorang jalangg. Pas, kalian cocok."


Ken langsung menyambar Naya. Dia tutup telinga gadis itu sembari memberikan tatapan menghunjam pada Broto.


"Pergilah! Jangan sampai saya makin kasar!" seru Ken.


Broto berdengkus. Dia pergi juga dari sana. Bukan membawa kesal, dia justru merasa puas karena telah membalas dendam pada Burhan.


"Rasakan itu. Kamu itu bukan manusia, Burhan. Dan kamu tidak pantas dimanusiakan," gumamnya kesal.


Saat Broto pergi, saat itulah Ken merangkul pundak Naya. Dia memeluknya sebentar lantas menuntun Naya untuk duduk di kursi.


"Tenanglah, Naya. Jangan dipikirkan. Dia memang begitu. Dia pengusaha paling brengsek yang aku kenal," jelas Ken.


Naya mangut-mangut, dia hapus air matanya. Meski tidak pernah bertemu sang ibu, tetap saja dia merasa sakit hati jika ada yang menghina wanita yang melahirkannya itu.

__ADS_1


Teruntuk Burhan, dia yang melihat adegan romantis itu kembali membelalakkan mata, tangannya terkepal seakan siap melayangkan tinju. Rahangnya juga kembali mengetat. Sayangnya, bukannya terealisasikan dia justru tidak bisa mengendalikan diri. Dia kembali kejang-kejang.


__ADS_2