
"Oiya, aku denger kalau kamu lagi hamil."
Naya melotot. Dia mencoba mundur karena merasa terancam. Tatapan Laras membuatnya ngeri.
Bergerak perlahan—mendorong tubuh dengan kaki—Naya pun akhirnya bisa menjauh. Kini dia terpojok ke kepala ranjang. Beruntung Laras tak melakukan apa pun. Aneh saja.
Sekarang Laras justru duduk di sisi ranjang dengan mengeluarkan isi dari kresek yang dia bawa. Di sana ada sisa tali tambang sebesar jari, pisau, taser gun—alat kejut listrik berbentuk pistol, dan besi kecil sebesar baterai yang Naya tau itu adalah tongkat pelindung. Dia hapal karena orang-orang yang berjaga di sana memakai itu semua.
"Kenapa? Takut? tanya Laras. Dia merebahkan diri di sana lalu menatap Naya yang berkeringat dingin.
"Oh iya, aku denger kalau kamu itu sebenarnya terpaksa nikah sama dia. Jadi, kalau aku bantu kamu kabur kira-kira kamu mau gak?" lanjutnya lagi sembari duduk. "Kalau kamu mau, aku bakalan bisikin jalan rahasia yang bisa bikin kamu pergi tanpa ketahuan orang lain. Jalan yang hanya aku dan Mike yang tau. Bagaimana, berminat?"
"Nona!"
Suara sentakan dari arah belakang membuat Laras dan Naya terperanjat. Tampak beberapa ajudan berbadan tambun sudah waspada. Mereka berdesakan masuk ke kamar.
Entah kenapa bukannya panik, Laras justru berdiri tenang di dekat Naya. Dia rangkul leher Naya dan tangan satunya memegang pisau. "Kalau kalian mendekat, pisau ini bakalan nancep ke lehernya."
Naya melotot. Dia menahan napas. Keringat besar-besar keluar dari pori-pori.
"Kalian tenanglah," ujar Naya gemetar. Mendadak dia takut mati mengingat ada janin tidak berdosa yang jadi taruhan.
Namun, peringatan Naya tidak digubris seorang bodyguard, dia nekat maju selangkah dan terdengarlah suara ringisan.
Semua orang terbeku saat melihat darah mengalir dari leher sang nyonya.
"Jangan ngeyel! Kalau disuruh nyonya diam kalian harusnya diam!" sentak Laras dengan nada naik satu tingkat.
"Baiklah. Tolong jangan lukai Nona," ucap salah satu di antara mereka.
__ADS_1
Naya menahan napas dan juga merasakan perih. Ujung belati mulai mengoyak kulit. Dia sangat berharap Mike segera datang.
Tiba-tiba suara bariton khas seseorang membuat para pria menepi. Tampaklah Mike yang berwajah lelah melewati kerumunan dan mendekat. Dia berjalan sembari melepaskan dasi. Matanya melihat Naya lalu kembali ke Laras.
"Laras, lepaskan dia. Kamu benci aku, 'kan? Jadi lampiaskan saja padaku. Jangan dia," ucap Mike tenang. Matanya nyalang.
Tiba-tiba ringisan Naya mengudara lagi. Laras dengan tak berperasaan menjambak rambut Naya.
"Kamu bilang dia gak bersalah?" Laras berdecih. "No, no, no, Mike. Justru dia bersalah karena hadir di hidup kamu."
"Berhentilah berbasa-basi. Katakan apa maumu. Aku akan kasih apa pun yang kamu mau asal kamu jangan sakiti dia," ucap Mike lagi.
"Kalau begitu usir anak buah kamu. Cukup kita bertiga saja yang ada di kamar ini."
Sejenak Mike terdiam, lantas menolehkan kepala dan memberi kode. Hanya dengan satu kali anggukan semua orang yang ada di sana pergi. Bahkan mereka menutup pintu untuk memberi ruang pada Laras, Mike dan Naya.
"Aku udah lakuin apa yang kamu mau. Sekarang jauhkan pisau itu," kata Mike.
"Sekarang ayo kita bernegosiasi. Kamu paling senang dengan yang namanya negosiasi, 'kan?"
Mike duduk di kursi tunggal yang ada di sana. Dia melepas kancing jas dan menyilangkan kaki. Terlihat angkuh. Benar-benar Mike yang sesungguhnya. Dia tampak tidak gentar menghadapi situasi mencekam meski nyawa istri dan calon anaknya sedang terancam.
"Katakan apa yang kamu mau? Kamu mau rumah, uang, karir atau apa pun. Aku bakalan kasih itu semua dan melupakan kesalahan yang udah kamu lakukan. Tapi dengan catatan kamu pergi dari negara ini," papar Mike penuh penekanan.
Laras terkekeh. Dia duduk atas nakas disebelah ranjang. Tatapannya begitu sengit. Dia bahkan menarik sebelah bibir dan bersedekap.
"Kamu serius? Kamu beneran mau kasih aku apa aja?" ulang Laras.
"Apa kamu pernah lihat aku berbohong? Aku selalu mengedepankan apa yang aku katakan?" sahut Mike yang makin terdengar angkuh.
__ADS_1
"Ya, ya, ya, itulah Mike yang aku kenal," timpal Laras. Dia terkekeh ironi.
Namun, tiba-tiba matanya menyipit sinis, lantas tanpa permisi menjambak rambut Naya lagi. Mike refleks berdiri dan mendekat. Akan tetapi berhenti saat melihat pistol sudah terarah ke kepala Naya.
Laras, gadis itu ternyata membawa senjata api dan disembunyikan di paha yang terbalut gaun selutut khas maid rumah Mike.
"Laras! Kamu jangan gila! Cepat lepaskan itu!" perintah Mike. Dia terlihat panik.
"Kenapa? Kamu takut?" Laras terkekeh lagi. Dia makin mengeratkan cengkeraman hingga membuat Naya meringis lebih nyaring.
"Sebenarnya apa yang kamu mau?"
"Aku cuma mau kita impas Mike. Kamu bunuh Herry. Kamu lenyapkan satu-satunya orang yang peduli sama aku. Jadi kamu juga harus merasakan apa yang aku rasa. Itu baru namanya impas. Aku akan bunuh perempuan ini lalu ...."
Belum selesai perkataan Laras, Mike telah lebih dulu menangkap senjata. Perebutan pun tak terelakkan. Aksi saling dorong, saling mempertahankan membuat keduanya berputar-putar. Naya yang melihat itu mencoba melepaskan diri, tapi ....
Dor!
Pistol telah meletus. Kedua manusia yang tadinya saling berebut terlihat tak bergerak.
Tamat!
-
-
-
Tapi boong. Heheheh
__ADS_1
Tungguin lagi ya. Kita liat endingnya.