
"Hah? Mau ke rumah?" Naya menelan ludah. Nanar dia melihat Sean yang serius mengemudi. "Mau ngapain?"
Sean tersenyum gemas. "Gak ngapa-ngapain. Cuma mau tau aja. Kenapa emangnya? Jangan bilang kalau kamu udah nikah terus gak mau suami kamu liat kita?"
Naya melongo. Dia diam hingga Sean yang awalnya bercanda jadi menghentikan mobil. Lekat-lekat dia menatap Naya yang terlihat khawatir.
"Kamu beneran udah nikah?" selidiknya dengan sorot mata serius.
Gegas Naya menggeleng. "Hmm ... enggak. Bukan gitu."
Naya terbata lagi. Keringat dingin bahkan sudah keluar besar-besar.
Sean yang melihat itu dengan cepat meraih tisu, lalu ingin membantu menyeka keringat. Hanya saja Naya dengan cepat mengelak. Dia tersenyum canggung dan mengambil tisu yang ada di tangan Sean.
"Aku bisa sendiri," ucap Naya pelan. Malu, canggung, dan takut, perasaan itu membuat Naya tak menentu sama sekali.
"Kamu beneran udah nikah?" ulang Sean. Sungguh, dia penasaran. Lamat dia memperhatikan Naya yang menyeka keringat.
"Aku juga beberapa kali ke minimarket tempat kamu kerja. Tapi pemiliknya bilang kalau kamu udah berenti. Jangan bilang alasan kamu berenti kerja karena memang udah nikah?" sambung Sean. Tatapannya semakin menyelidik.
Naya yang gugup kembali menggelang. Bahkan tangannya juga melibas berkali-kali, lantas berkata, "Aku belum nikah, kok. Cuma berenti aja dari sana."
"Lalu? Kenapa berenti?"
Sean menjeda kata. Sepersekian detik baru menyadari kalau ada yang aneh. Dia pun memindai penampilan Naya dengan seksama.
Mengerjap, mata Sean lalu membulat. Dia sudah menyadari begitu banyak perubahan dari gadis itu.
Bagaimana tidak, pertemuan pertama mereka—ketika Naya masih bekerja di minimarket— tampilan Naya jelas seperti karyawan biasa. Lalu waktu Naya diganggu para preman, saat itu Naya hanya mengenakan hoodie biasa. Kini, dia melihat perubahan yang begitu signifikan.
__ADS_1
Naya tidak lagi terlihat seperti gadis sederhana. Perhiasan serta pakaian yang membalut badan menunjukkan kalau Naya ini merupakan anak orang kaya.
'Tapi mustahil. Kenapa anak orang kaya mau kerja jadi kasir di minimarket?' batin Sean. Dia menyandarkan punggung lalu menelan ludah, lantas menoleh lagi dan memberanikan diri untuk bertanya, "Naya, sebenarnya kamu ini tinggal di mana? Siapa orang tua kamu?"
"O-orang t-tua?" Naya makin gelagapan.
"Iya, siapa nama orang tua kamu? Transformasi kamu ini sangat mencolok."
Mendengar itu Naya seperti mendapat jalan. Dia tersenyum canggung sembari memegang mantel bulu yang membalut badan. "Kamu ngeliat ini?"
Sean mengangguk.
"Jangan bilang kalau kamu ngira aku anak orang kaya?"
Sean lagi-lagi mengangguk.
"Ini, ini itu bukan mantel asli. Cuma barang KW," jelas Naya.
"Masa? Itu beneran KW?" ulang Sean, dia benar-benar tidak percaya. "Kok mirip asli ya. Adik aku juga kayaknya punya kayak gini."
"Ya yang namanya KW pasti mirip lah kalau cuma diliat mah pasti gak bakalan ada yang tau. Kecuali di cek bener-bener."
Sean manggut-manggut lagi. "Bener juga, sih."
"Iya, ini juga." Naya menunjukkan perhiasan yang ada di tangannya. "Ini juga imitasi hasil minjem."
"Tapi ...."
"Eh, kamu masih ingat dengan minimarket tempat aku kerja dulu, 'kan?" potong Naya. Bibirnya masih menipis.
__ADS_1
"Ya ingatlah. Gimana ceritanya aku lupa tempat kerja kamu? Aku ke sana berkali-kali cuma buat ketemu kasir yang suka ngelamun," goda Sean, dia terkekeh.
Mendengar guyonan Sean membuat Naya tersipu, dia juga lega. Helaan napas begitu panjang mengikuti senyuman. "Kalau gitu bisa anterin aku ke sana nggak? Aku tinggal di sekitar sana."
"Asiap!" sahut Sean dengan semangat. Dia tersenyum lebar.
Kendaraan kembali berjalan. Naya yang mulai sedikit santai melihat sekeliling mobil Sean dan mendapati sebuah liontin yang tergantung di spion tengah.
"Wah, ini liontin?" tanya Naya. Matanya berbinar sembari menyentuh benda berwarna perak itu.
"Iya itu liontin. Kenapa? Terpesona, 'kan?"
Naya mengangguk.
"Itu liontin antik. Pastilah bersinar," papar Sean lagi.
Naya hanya manggut-manggut. "Di dalam sini ada fotonya gak?"
"Ada kok. Buka aja."
"Beneran boleh?"
"Iya, buka aja. Tapi jangan kaget. Soalnya isinya pasti bikin kamu terpana," kelakar Sean lagi.
Naya tersenyum siput. Perlahan dia buka liontin itu.
Dup-dup-dup-dup.
Benar, Naya terkejut. Matanya bahkan sudah membulat dengan mulut sedikit menganga. ''I-ini ... ini kan ...."
__ADS_1