
"Nona lapar?" tanya Ken.
Naya mengangguk lalu nyengir. Sekarang dia baru sadar ternyata berontak pada Laura hanya akan membuat tubuh sendiri menderita. Dari semalam dia tidak makan, tidak pula tidur karena berpikir keras untuk kabur.
Namun, sia-sia. Begitu banyak penjaga yang berlalu-lalang di rumah maupun luar sehingga untuk ke dapur saja dia tidak berani.
Alhasil gadis itu tertidur tanpa makan. Tadi pagi pun dia tidak sarapan karena mengira Laura akan membiarkannya pergi.
Sayangnya itu hanyalah halusinasi belaka. Jangankan melepaskan, dirinya bahkan tadi mendapatkan tamparan yang sungguh sakit. Sekarang dia benar-benar takut pada Laura.
Tanpa pikir panjang bergegas dia duduk di kursi—berancang-ancang hendak mengambil makanan—tanpa mengindahkan pakaian indah dan mahal yang membalut badan.
Namun, baru juga hitungan detik, Ken tanpa perasaan menariknya hingga mau tak mau dia harus kembali berdiri. Naya jelas-jelas tak senang dan mendesis.
"Tunggu dulu, Nona. Bukan begitu etikanya," ucap Ken.
Naya berdengkus. Dia pasrah saja saat Ken kembali merapikan gaun yang sempat kusut. Lelaki itu sudah seperti psikopat gila kerapian sampai-sampai baju kusut sedikit pun dirapikan begitu lama. Ribet.
"Udah?" tanya Naya. Dia mendelik sebal.
Ken tak merespon, dia tetap memasang wajah tenang.
__ADS_1
"Mulai sekarang Nona tidak diperkenankan duduk seperti tadi," perintahnya yang terdengar makin menyebalkan.
"Terus? Aku harus apa?" sahut Naya yang semakin kesal. Dirinya kelaparan karena dari semalam tidak makan. Kini ketika berhadapan dengan makanan pun harus dihalang-halang. Sedikit keterlaluan bukan?
"Caranya biarkan pelayan atau pasangan Anda yang melakukannya. Ingat poin itu," terang Ken sembari menarik kursi.
Naya mendekat. Dia hendak duduk tapi kembali dicegah Kenzi dengan menahan punggungnya dengan pulpen.
"Apa lagi?" Naya melotot. 'Benar-benar menguji kesabaran ni orang,' lanjutnya dalam hati.
"Caranya luruskan dulu pakaian Nona. Biar nanti setelah makan pakaian Nona masih terlihat rapi. Ketika duduk paha Nona tidak boleh terbuka. Pergelangan antar kaki Nona harus menyilang agar tidak memberi celah," papar Ken, panjang lebar.
Pasrah, Naya menghela napas lalu mendengkus. Dia menuruti perintah Ken lalu duduk.
Merasa Ken tak protes lagi, Naya pun cepat-cepat meraih steak daging sapi yang ada di depan. Sayangnya lagi-lagi di pukul Ken dengan pulpen hingga piring terjatuh dan sedikit mengeluarkan bunyi.
"Apalagi?" dengkus Naya. Dia melirik tajam Ken yang berdiri tanpa ekspresi.
"Caranya bukan begitu. Ambil pelan-pelan. Harus elegan. Tanpa menunduk ataupun memaksakan tubuh bergerak lebih. Ingat, posisi Nona harus tetap tegak."
Namun, Naya yang sudah kadung lapar mengabaikan perintah Ken dan justru menangkap ayam goreng.
__ADS_1
Sayangnya terulang lagi. Belum juga lidah merasakan nikmat paha ayam tanpa aba-aba Ken sudah menariknya dan meletakkan ke tempat semula.
Naya mendesis. Sekarang dia justru ingin menelan Ken bulat-bulat.
"Kak Ken. Bisa gak sih biarin aku makan siang dengan tenang. Aku kelaperan, Kak. Gak makan dari semalam ...." Naya setengah merengek.
Akan tetapi lagi-lagi Kenzi tak berekspresi. Dia mengembuskan napas berat dan mendekatkan piring steak lantas mengirisnya menjadi potongan kecil.
"Nona, tolong lihat cara saya. Potong ini tanpa menunduk. Tubuh harus tetap tegak. Memotong ini jangan pake emosi. Tenang dan elegan. Ingat itu."
Naya mendesah. Dia sandarkan punggung yang lelah, sayangnya tetap mendapat pukulan pulpen.
"Lihat saya, Nona. Tolong fokus."
Sambil mengentak kaki, Naya menatap Ken kesal. "Kak Ken. Ini sebenarnya mau kalian apa, sih? Kalian kasih aku kemewahan tapi perlakukan aku kayak tawanan. Tolong jangan siksa aku. Aku lapar, Kak ...."
Ken tak menyahut. Dia masih sibuk mengiris steak.
"Sudah selesai. Sekarang makanlah, Nona. Ingat, harus tenang. Tanpa menunduk atau menjatuhkan makanan. Makan cukup di salah satu sudut mulut saja biar tidak ada sisa. Dan ingat, jangan sampai ada yang menempel di bibir."
'Ya Tuhan. Ni orang lebih nyebelin dari Nenek lampir itu. Sialan.'
__ADS_1
Like komen dan Vote.