Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Iri.


__ADS_3

'Ada apa ini? Tumben rame?' Naya membatin sembari menuruni tangga. Dia yang sudah cantik dengan pakaian santai—celana jeans panjang dengan atasan kaus biasa—mendekati Jordan yang sedang mengarahkan beberapa orang menuju kamar tamu. Orang-orang itu membawa banyak peralatan perempuan, dari gaun, heels, tas serta aksesoris lainnya.


"Pak Jordan, ini untuk siapa?" tanya Naya setibanya di depan Jordan. Jordan yang sedang sibuk mengarahkan beberapa orang menuju kamar tamu yang ada di lantai dasar seketika berhenti.


"Apa kita bakalan kedatangan tamu?" tanya Naya lagi. Dahinya sedikit mengernyit. Dia mulai waswas kalau nanti ada yang mengetahui keadaan serta statusnya di rumah itu.


"Bukan Nona, ini bukan untuk tamu, tapi ...."


"Untuk aku," sela seseorang dari belakang. Tentu saja Naya dan Jordan mencari arah suara dan melihat Dina dengan wajah angkuh mendekati mereka.


Terbengong, Naya bahkan tidak mengerjap melihat gadis yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya.


Bagaimana tidak, gadis itu tidak seperti biasa—yang selalu akan mengenakan seragam hitam khas maid a.k.a asisten rumah tangga. Sekarang Dina terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun merah selutut membalut badan. Rambut, rambutnya juga berbeda. Jika biasanya tersanggul sekarang justru tergerai dengan sedikit bergelombang. Benar-benar perubahan yang signifikan.


"D-dina ... ini untuk kamu?" tanya Naya mengulangi. Dia mencoba mencerna. Seketika ingatan tentang semalam mengudara dalam kepala. Nanar Naya melihat Dina.


"Apa kamu sama Tuan Mike ...."


"Iya, kenapa? Ada yang salah?" sela Dina dengan dagu sedikit terangkat. Terlihat angkuh dan menyebalkan.


"Tapi, Dina ... kamu ...."

__ADS_1


Lagi, perkataan Naya terjeda karena Jordan berdeham. Asisten Mike itu sengaja menyela pembicara mereka.


"Kalau tidak ada yang ingin Nona Naya tanyakan lagi, apa boleh saya permisi? Masih banyak yang harus saya kerjakan," ucap Jordan.


Naya dan Dina terdiam. Kesempatan itu di pakai Jordan untuk memundurkan langkah dan pergi dari sana. Namun, dia kembali membalik diri beberapa detik. Aura tidak biasa tertangkap netranya. Naya dan Dina jelas sedang tidak sepaham.


Tiba-tiba perkataan Mike semalam mengudara dalam benak Jordan. Dia ingat, semalam Mike datang ke kamarnya saat dirinya tengah rebahan.


"Jordan, besok urus semua peralatan perempuan, datangkan dan tata semuanya di kamar tamu."


Jordan yang sudah berdiri tegap tentu saja bingung. Namun, dia tidak berani bertanya. Dia hanya mengiyakan, mengangguk lalu kembali melihat Mike yang sedang bersandar di pintu kamarnya.


"Dina, persiapkan untuknya," lanjut Mike sembari mengisap rokok.


"Dina, anak buahnya Mala," jelas Mike datar. "Aku dengar selama ini dia yang melayani gadis itu. Jadi sekarang persiapkan segalanya untuk dia."


"Tapi Tuan Muda. Apa tidak terlalu beresiko menempatkan mereka dalam satu rumah. Takutnya nanti ...."


"Aku tau apa yang kamu pikirkan Jordan. Aku juga sebenarnya gak tertarik sama tu perempuan. Tapi aku butuh dia untuk beberapa rencana. Jadi lakukan saja apa yang aku suruh," ujar Mike lagi. Aura mendominasi Mike terpancar jelas hingga Jordan hanya bisa menunduk patuh dan mengiyakan perkataan itu.


"Dan lagi, jaga Naya. Awasi dia dari kejauhan. Dina, gadis itu licik. Dia ambisius. Tapi aku tetap ingin melihat dia berhadapan dengan Naya. Aku ingin liat sisi Naya yang lain. Dia terlalu penakut," jelas Mike, lalu tersenyum misterius. "Kita liat, sebatas mana kesabaran Naya. Dan seperti apa Dina memprovokasinya."

__ADS_1


Jordan mendesah. Jujur dia resah. Jika melihat antara Naya dan Dina, jelas Naya akan kalah. Selain muda, Naya juga tidak punya nyali. Persis yang Mike pikirkan.


Namun, dia tetap akan mengawasi dua wanita itu dari kejauhan.


Sementara Naya dan Dina, keduanya masih saling bersitatap. Naya memberikan sorot mata kasihan sedangkan Dina penuh tatapan kebencian. Istilah kacang lupa kulit mungkin hal yang pantas untuk menggambarkan sikap Dina saat ini. Dia dengan berani melotot pada Naya dan menunjukkan seringai.


"Din, ini kamu yakin? Kamu jadi simpanan Tuan Muda?"


"Ya, aku memang jadi wanitanya. Kenapa? Kamu kaget? Gak terima? Atau iri sama aku?" celoteh Dina. Sombong.


"Apa kamu bilang? Aku iri?" ulang Naya sembari menunjuk diri sendiri.


"Iya. Kamu iri 'kan? Sekarang nggak hanya kamu yang jadi Nona besar di sini."


Naya terdiam, dia tidak tahu harus merespon apa. Jujur saja dia sedikit kaget dengan perubahan Dina. Gadis yang biasanya sopan dan selalu menunduk jika berhadapan dengannya sekarang berubah drastis, atau mungkin memang beginilah dia selama ini, angkuh, arogan dan licik.


"Kenapa bengong?" lanjut Dina. Dia menyeringai. "Apa kamu lagi mikir cara buat nyingkirin aku? Aku kasih tau ya, aku gak bakalan kalah dari kamu. Dan juga gak usah iri."


Naya mengembuskan napas pelan. Dia pegang tangan Dina. Namun, secepat kilat Dina menepisnya.


"Gak usah sentuh-sentuh. Kita gak selevel. Ngerti!"

__ADS_1


***


like nya jgn ketinggalan. jomplang bgt. kalian yg di like cuma es terakhir. apa aku harus up 1 bab 1 hari buat jumlah like nya merata?


__ADS_2